
□■□■□
Hanna menepikan mobil yang ia kendarai diparkiran sebuah minimarket dan menjawab panggilan telepon dari sang ibu tercinta.
"Kamu dimana?." suara sang ibu terdengar sangat lirih, seperti tengah berbisik. "Seorang wanita bernama Rebecca mencari mu dan sudah lebih dari setengah jam ia tak juga pergi. Ayah memberi tahunya jika kamu masih berada di klinik." Jelasnya.
"Ma, minta Chris untuk mengirimkan paspor dan tas kecil yang ku letakan disisi nakas."
"Kamu mau pergi kemana?."
"Nanti aku kabari. Sepertinya kondisi tidak akan ramah untuk beberapa waktu."
"Setidaknya beri tahu mama jika kamu ada masalah."
"Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas ma, jadi tenanglah aku pasti kembali dengan keadaan baik."
"Hati-hati, semoga tuhan melindungi mu."
*****
*****
Aldric telah mendengar kabar tentang kepergian Hanna malam itu sepulangnya mengantarkan Vivian kembali ke apartemen kekasihnya. Ya, kekasih Vivian adalah teman dekat Aldric dan Aldric sendiri merupakan teman sekantor Vivian serta orang ketiga diantara mereka.
Kemarahannya pun tak bisa lagi dibendung. Ia menuding William sebagai akar masalah yang menimpa sang adik dan menjadikan satu-satunya orang yang harus disalahkan untuk hal itu.
"Apa ayah tahu jika bule itu adalah seorang 'G'?."
Sang ayah terlihat tenang mendengar ujaran kebencian yang dilontarkan Aldric kepada pria bule itu. Sejatinya ia sendiri bisa melihat jika kemungkinan William menyukai putrinya adalah sangat besar. Adam tidaklah bodoh untuk bisa menilai kesungguhan seseorang melalui mata mereka.
"Mungkin saja pria bule itu benar-benar mencintai adik mu."
"Dan ayah setuju jika menantu ayah seorang G*?."
"Semua orang memiliki dosa di masalalu Aldric. Begitupun dirimu yang diliputi dosa karena telah menyakiti orang lain tanpa mereka tahu." Ucapan sang ayah membuat kata-katanya seketika tertahan ditenggorokan.
Aldric seperti mendapatkan trisula yang tiba-tiba menancap didadanya.
"Apa kau pikir ayah tidak tahu jika selama ini kau telah menjadi duri untuk hubungan sahabat mu sendiri. Lebih parahnya lagi kau bahkan berani menidurinya demi cinta yang kau tanamkan diatas hubungan orang lain."
Adam beranjak dari sofa yang semula ia duduki bersama sang istri, disusul kemudian Chris yang melangkah pergi meninggalkan sang kakak dalam diamnya.
Kebencian semakin memenuhi hati dan fikiran Aldric saat ini tanpa pria itu sendiri sadari jika apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan oleh orang lain.
○●○●○
Hanna memegang sebuah alamat yang tertulis pada secarik kertas ditangannya.
Beberapa saat sebelumnya,
"Ponsel anda terlihat mahal, seseorang akan mudah curiga jika melihatnya. lebih baik anda menggunakan kertas ini untuk menunjukkan alamat." Ucap Steven sesaat sebelum meninggalkan wanita itu sendiri di stasiun kereta.
"Ah satu lagi pesan Mr. William untuk jangan menghubunginya dengan nomor ponsel anda. Gunakan telepon itu jika anda bisa menemukan signal."
"Tunggu!. Setidaknya kau bisa jelaskan padaku alasan mengapa aku harus melakukan ini semua."
Steven tampak enggan untuk memberikan alasan kepada wanita dihadapannya itu lantaran ia merasa bukanlah orang yang berhak untuk memberinya jawaban mengenai apa yang terjadi.
"Maaf, saya tidak berhak untuk menjawabnya. Tapi yang saya yakini adalah Mr. William begitu mempedulikan anda dan dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya."
***
***
"Dasar Steven bodoh, apa dia tidak tahu gunanya ponsel?. Tapi ... ah benar-benar hilang!." Hanna mengayun-ayunkan ponselnya ke udara namun tetap tidak ada satupun garis yang tersangkut.
***
Setelah lebih dari enam jam perjalanan, Hanna akhirnya tiba di sebuah desa yang berada tepat dibawah lereng perbukitan.
Hanna menapaki jalan berbatu dan menjadi satu-satunya akses yang bisa dilewati untuk tiba di sebuah rumah sesuai dengan alamat tertulis. Bersama seorang wanita paruh baya dengan bermodalkan senter dan lampu strongkeng ia mengekori kemana langkah wanita itu membawanya.
Udara begitu dingin hingga membuat nafasnya terlihat seperti kepulan asap.
"Maaf, disini apa tidak ada puskesmas?."
"Ada, tapi jauh sekali. Mungkin sekitar dua puluh kilo dengan dua jam jarak tempuh kalau hari sedang tidak bersahabat."
Jawaban sang ibu seketika membuat Hanna cemas. 'Dua puluh kilo \= dua jam perjalanan?. Bagaimana bisa?.'
Dua puluh menit berlalu akhirnya keduanya tiba disebuah rumah kayu yang akan Hanna singgahi untuk sementara waktu sampai Steven datang menjemputnya.
^*^*^
Sementara itu William benar-benar dibuat geram dengan pemberitaan mengenai dirinya di media yang dengan berani membeberkan fakta bahwa dirinya merupakan seorang G* dan berhubungan bisnis dengan cara kasar hingga berani menghabisi kolega bisnisnya jika ada yang berani melawan.
Sejujurnya ia sendiri tidaklah terkejut mengenai kabar yang beredar karena itu merupakan fakta yang terjadi meskipun tidak sepenuhnya benar. Hanya saja bagaimana bisa hal itu mencuat kepermukaan jika bukan karena seseorang.
Ia lalu meminta Steven dan Albert untuk mencari tahu siapa penyebar berita itu sementara dirinya akan menemui si tua bangka untuk membuatnya diam.
*****
Dilain tempat, Drew masih setia berada diruang penahanan sembari menunggu giliran dan selama itu pula sang ibu tak pernah mengunjunginya sampai seorang pengacara tiba untuk memberinya informasi mengenai jadwal sidang yang akan ia ikuti.
"Bagaimana?. Apa anda sudah mengerti?. atau ada yang ingin anda tanyakan?."
"Dimana wanita itu?." Tanya Drew dibalik rasa penasarannya.
"Siapa yang anda maksud?."
"Mery."
"Maaf, saya tidak tahu keberadaan nona Denbeigh. Hanya saja dua hari lalu saya baru menerima surat gugatan atas nama beliau untuk anda."
"Dia ingin bercerai?."
"Ya. Dan saya yakin jika nona sangat menginginkannya setelah melihat kejadian ini."
"Itu artinya aku tidak akan mendapatkan apa-apa setelah semuanya, bahkan jika orang tua ku meninggal sekalipun?."
Sang pengacara mengangguk sembari menjelaskan jika hanya Mery dan rumah panti serta yayasan keluargalah yang akan mendapat pembagian harta milik keluarga Trainor.
"Tidak!. Tidak bisa, dia tidak boleh menceraikan ku. Dasar wanita sialan!." Geramnya dengan nafas tak beraturan.
Tentu saja Drew panik, bagaimana tidak jika yang menjadi targetnya adalah harta milik keluarganya sendiri sampai - sampai ia dengan rela mendaftarkan pernikahan sepihaknya demi sebuah legalitas untuk mendapatkan hak sebagai ahli waris.
●○●○●
Pagi dengan suasana kabut putih yang menyelimuti sebagian dataran dimana Hanna kini berada. Ia tengah mencari signal untuk menghubungi Steven namun usahanya harus sia-sia karena sang pemilik rumah baru saja memberitahunya jika, "ponsel tidak akan berguna disini. Jika ingin menggunakannya maka harus turun gunung dan berkendara kurang lebih lima belas menit ke arah barat."
"Oh, God!. Aku adalah seorang terapis yang hampir gila karena masalah yang tak ku ketahui."
"Dasar bule sialan!."
Jujur jika sampai saat ini Hanna masih belum mengetahui alasan mengapa ia sampai harus bersembunyi padahal ia tidak memiliki hubungan apapun dengan mantan G* itu.
"Williiiaaaaaaaaaaaaammmm I HATE YOUUU!!!!!!."
Hanna begitu kesal dengan keadaanya yang tak tahu apa-apa dan memuntahkan segala emosinya dengan berteriak sekuat tenaga.
*
*
*
tbc