SAVE ME

SAVE ME
May I ...........



☆♡☆


Willi tak pernah menampik bahwa dirinya benar-benar merindukan Hanna. Terbukti dari bagaimana caranya agar ia bisa tetap berada dekat dengan wanita berparas ayu itu meski dengan keterbatasannya.


Setelah mendapat pencerahan dari Megan dan Corner dirumah tua itu ia semakin yakin dengan keinginannya untuk memiliki Hanna meski harus melalui perjuangan yang tak akan pernah mudah seperti apa yang pernah dilalui Lary, suami Corner.


......


Malam bersambut dengan Hanna yang kini masih berada di ruangan Steven untuk membuka satu persatu uang kertas yang digunakan untuk membuat buket bunga.


Rasa lelah setelah seharian menatap monitor pun harus ia kesampingkan terlebih dahulu demi bisa menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya adalah masalah untuknya.


Satu persatu ia membuka lipatan uang yang terbungkus sebuah plastik bening lalu mengumpulkannya dan menjepitnya dengan binder clip agar tak kembali berhamburan saat tersenggol.


Gedung Gtech tempatnya berada kini sudah sepi. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan ia masih harus menyelesaikan seperempat bunga yang masih tersisa. Ia yakin jika securiti masih berjaga dibawah sana, setidaknya itu bisa membuatnya sedikit tenang karena merasa ada yang menemaninya.


Suasana yang sunyi benar - benar membuat telinganya bisa mendengar detak jarum pada jam yang terpasang didinding ruangan Steven dengan begitu jelas.


Takut?. Jelas saja, siapa yang tidak takut jika berada di ruangan sesepi itu sendirian di saat malam. Hanna berusaha mengabaikan rasa takutnya demi bisa pulang sesegera mungkin setelah menyelesaikannya.


Dalam hening ia mendengar langkah sepatu memenuhi koridor dimana ruangan Steven berada dan itu membuat pikiran Hanna semakin tak karuan karena kini bulu-bulu halus di tubuhnya mulai terbangun disertai deguban jantung yang kian bertambah.


Langkah itu terdengar santai namun pasti. Ia yakin jika itu bukanlah securiti yang dua jam lalu bertugas menyisir semua lantai karena tidak ada sorot cahaya senter penerang yang menyertainya.


Mengingat jika jalur masuk telah dijaga dengan system keamanan yang begitu canggih maka seluruh ruangan tidak ada yang terkunci kecuali ruangan Willi yang memiliki duplikat dan dipegang oleh pihak keamanan sendiri. Hal itu untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran maka akan dengan mudah untuk melakukan evakuasi.


Dengan keberanian yang kian menipis Hanna memilih bersembunyi dibalik pintu sembari membawa sebuah vas bunga ditangannya. Dan benar saja, langkah itu berhenti tepat di ambang pintu ruangan Steven.


Hampir dua menit ia menunggu namun tak juga suara itu kembali terdengar dan itu membuat jantungnya berdetak semakin cepat.


"Tuhan, jagakan aku dari mahluk astral." Gumamnya sesaat sebelum handle pintu disisinya berputar dan kemudian terbuka.


Hanna masih dengan posisinya saat tubuh tinggi menjulang itu melangkah kedalam ruangan Steven yang gelap. Beruntung Hanna tidak gegabah dengan melakukan serangan membabi buta saat pria itu malah berjalan menuju buket dengan tumpukan uang yang tadi ia susun tergeletak dilantai.


Perlahan Hanna menurunkan vas yang sedari tadi ia angkat tinggi dengan kuda - kuda siap menyerang. Ia mengamati siluet pria yang kini berdiri memunggunginya.


Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana yang ia kenakan namun tetap tak terlihat meski cahaya ponsel menerangi wajahnya lantaran posisinya yang membelakangi sampai dering panggilan masuk, membuat Hanna berjingkat karena ternyata ponsel miliknya lah yang berbunyi dan menampilkan sebuah panggilan telepon dari si bule yang kini malah tertawa dihadapannya.


"Hah! dasar kau bule sialan!." Hanna dengan langkah lebarnya mendekati Willi tanpa menggunakan alas kaki. Wanita itu malah memukuli lengannya sembari terus memaki si pembuat masalah dan mengumpati si pria yang justru semakin menertawakan tingkah konyolnya karena bersembunyi dibalik pintu.


Willi tidaklah bodoh, ia bisa tahu tanpa repot-repot menoleh kebelakang karena Hanna jelas lupa akan keberadaan sepatu miliknya yang tergeletak didekat buket lengkap dengan tas jinjing berisi macbook miliknya saat berlari untuk bersembunyi tadi.


"Apa yang kau lakukan disini?." Tanya Hanna dengan wajah penuh kekesalan.


"Kau sendiri?. Apa yang kau lakukan dikantor ku saat malam begini?."


Hanna langsung terdiam, sadar akan kesalahannya yang sebenarnya tidak terlalu salah. "A_Aku sedang....."


"Kenapa kau membongkarnya?."


"His!. Kau benar-benar menyebalkan."


"Apa?. Aku tidak berbuat hal yang tak pantas."


"Tapi karena kau melakukan hal ini aku jadi terkena masalah!." Wanita itu kembali pada posisinya yang sejak awal duduk diatas lantai ruangan Steven, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Willi kemudian menyusulnya untuk bersama-sama duduk disamping Hanna.


Melihat si tampan kini berada disebelahnya entah kenapa rasanya begitu tenang. Hanna merasa jika kini ia tengah berada dirumah, tempat ternyaman yang pernah ia rasa.


Willi meraih satu kuncup mawar kertas dihadapannya sembari mengamati bagaimana cara Hanna membuka lipatan uang itu lalu mengikutinya dengan gerakan perlahan agar tidak sobek.


"Kau tidak mencariku?." Willi bertanya tanpa menoleh.


"Mencari mu?. Untuk?."


"Apa kau tidak merindukan ku?." Lanjutnya.


Hanna terkekeh, "Yah, awalnya aku memang mencari mu karena menghilang begitu saja tapi ku rasa itu tidak perlu setelah beberapa minggu, terlebih kini kau kembali dengan membuat masalah."


"Kau jahat sekali." Willi melemparkan uang kertas itu begitu saja lalu merebahkan tubuhnya kelantai tanpa alas.


"Padahal aku sudah sangat merindukan mu selama beberapa hari ini dan berharap bisa makan malam bersama ketika aku tiba."


"Dan ternyata kau sendiri yang membuat makan malam mu harus batal, benar begitu?."


Willi mendengus malas. Ia sadar jika memang salahnya yang tak memberi tahu Hanna terlebih dahulu.


Pria itu lalu melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, hampir pukul sepuluh malam. Willi kemudian kembali duduk bersila menghadap Hanna, sangat dekat. Ia seperti ingin mengapit tubuh wanita itu.


"Tinggalkan itu."


Hanna menoleh sekilas dan tak mengindahkan kata-kata Willi kepadanya.


"Tidak bisa, sedikit lagi ini akan selesai."


"Aku akan menggantinya dengan yang utuh."


"Maksudmu kau akan membuang ini?."


"Jika diperlukan."


"Cih, dasar orang kaya. Sombong sekali anda." Hanna berdecih disertai senyuman mengejek.


"Heh, tidak kusangka seorang Hanna akan peduli dengan kertas hologram." Willi balik mengejeknya disertai kekehan.


"Kau tidak akan bisa menikmati sebutir boba jika mengabaikan satu rupiah saja."


"Ah kau benar. Aku lupa jika spesies kalian memang sangat jeli dengan recehan."


"Apa yang kau maksud?."


"Tentu saja materialistis" Dengan santainya Willi mengucapkannya tanpa berfikir jika Hanna akan melakukan tindak kekerasan padanya sesaat sebelum akhirnya tungkai wanita itu mendarat tepat diantara pangkal pahanya dan,


AAGGGHH!!!


Tubuh kekarnya seketika meringkuk diatas dinginnya lantai tanpa suara dan hanya desisan samar yang terdengar seperti tengah mengurai rasa sakit.


"Rasakan. Itu balasan karena kau berani mengolok wanita."


"Ssssss ... kau .... memecahkannya."


"Apa?. Aku tidak sengaja." Hanna benar-benar tidak peduli dengan gerakan refleknya menyakiti pria berwajah bule yang kini nampak jelek sebab tengah menahan rasa nyeri.


Willi yang terlalu gemas dengan respon Hanna membuat dirinya seketika bangkit dari rasa sakit dan langsung menerkam wanita itu hingga keduanya terjungkang bersama kelantai. Beruntung Willi dengan sigap menahan kepala Hanna dengan tangan kanannya agar tidak berbenturan dengan marmer.


Layaknya drama romantis, kini keduanya terlibat aksi saling pandang dan tak butuh waktu lama bagi Hanna untuk kembali tersadar karena kini dirinya berada dibawah tubuh tinggi pria itu.


Hanna berusaha mendorong Willi untuk segera menyingkir dari atasnya namun si pria justru menahan pergelangan keduanya disisi kepala wanita itu sembari menatap lekat bola mata indah yang tengah bergerak ke kanan dan kiri.


"Menyingkirlah William, kau besar sekali." Gerutunya saat pria itu masih diam dengan posisinya.


Tak ada respon darinya. Willi justru lebih leluasa mengamati wajah wanita yang sejak dulu mendiami ruang paling dasar dihatinya tanpa pernah ia sadari.


"Lepas Willi, please."


"Hanna ...


"May I ........" Ucapannya terjeda, ia terlihat ragu untuk mengatakan keinginannya namun justru ...


"Ap_?."


Seketika bibir Hanna terbungkam oleh bibir pria yang sejak tadi lekat menatapnya tanpa lebih dulu menjawab pertanyaan Hanna.


Sejenak wanita itu terpaku oleh perlakuan Willi yang tengah bersentuhan dengan bibirnya dan sadar seketika saat ciuman itu mulai menjalari dagu hingga batas leher jenjang miliknya.


"Willi!."


"AWW!."


Ciuman sepihak itu berhenti setelah Hanna mencubit perut pria bermata biru yang tengah mengungkungnya.


"Kiss you." Willi menatapnya dengan sorot mata yang begitu dalam. "May I kiss you?."


"Kau baru saja melakukannya dan baru sekarang meminta Izin?!. Dasar gila!. Menyingkirlah William, kau berat!."


"Aku akan menyingkir jika kau menjawabnya."


"Jawaban ku adalah 'tidak'." Jawab Hanna dengan nafasnya yang naik turun menahan kekesalan.


"Maka aku akan terus berada diatas mu sampai pagi."


"Kau gila!."


"Jawab dengan 'iya'."


"Tidak akan!."


"Kalau begitu selamat bermalam dengan ku Mrs. Hanna." Willi menyeringai tipis setelahnya.


"kenapa kau selalu memaksa!. Aku tidak mau melakukannya tetapi kau justru menodainya!." Hanna benar-benar kesal sampai hampir mengeluarkan air mata karena kelakuan Willi yang tengah menguji kesabarannya.


"Aku akan menodai semuanya sampai kau menyetujui permintaan ku." Ucapnya disertai kerlingan.


"Bule gila!."


"Bagaimana?."


"Tidak!."


"Oh ayolah, hanya dibibir."


"Cari saja yang lain."


"Aku ingin milik mu. Rasanya manis."


"Pria gila!."


Setelah sekian menit perdebatan mereka tak juga berujung akhirnya dengan keterpaksaan Hanna menyetujui permintaan yang jelas sangat menguntungkan si mantan gay sialan itu.


Kini keduanya duduk berhadapan dengan wajah Hanna yang jelas tak terlihat ramah. Namun bukan Willi jika ia harus menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini.


"Pukul sepuluh." Ucap Willi saat melihat gelagat Hanna yang seperti akan mengingkari ucapannya. "Kau tidak akan bisa keluar dari gedung ini jika mengingkari ucapan mu." Dengan santainya Willi berdiri, meninggalkan Hanna bersama wajah cengonya setelah mendengar kata-kata William.


"Kau mengancam ku?."


"Tidak. Itu adalah sebuah pengingat agar kau tak lari sebelum membayar ucapan mu."


.


.


.


Tbc.