SAVE ME

SAVE ME
Lima



Kelompok Edward baru mulai mengerjakan tugas kelompok itu tiga hari sebelum dikumpulkan. Terlebih dahulu kelompok itu mendiskusikan perencanaannya di rumah Edward. Kelompok tersebut beranggotakan enam orang, Sari; Echa; Nino; Fajar; Dita dan Edward sendiri.



Pukul tujuh malam mereka berkumpul di rumah minialis Edward. Mereka memilih rumah tersebut karena sepi, Edward tidak memiliki adik ataupun kakak, jadi tidak aka nada yang usil. Echa dan Nino datang paling pertama di waktu yang bersamaan, disusul oleh Sari lalu Dita dan terakhir –ia terlambat dua puluh menit—Fajar. Rapat sudah berlangsung lebih dulu tanpa Fajar baru kemudian ditentukan tugas masing-masing saat Fajar sudah menyusul.



Kini mereka sedang berdiskusi dan sibuk mendeskripsikan idenya masing-masing di sebuah kertas HVS putih ukuran 21 kali 25 sentimeter. Mereka sibuk dengan kertasnya masing-masing, namun Sari, ia menuliskan sambil sesekali memerhatikan Edward diam-diam. Laki-laki itu sangat serius dengan kertas dan idenya, tidak heran ia yang pertama selesai di antara mereka berlima. Sari semakin terpacu untuk menyelesaikan tulisannya saat Edward sudah selesai. Ia ingin menjadi yang kedua.



Sayang sekali semangatnya dipatahkan oleh orang yang sama.



Setelah selesai, Edward mengambil ponsel dan memainkannya. Ia sedang chatting dengan seseorang. Terlihat dari dia yang selalu meletakkan ponsel tersebut setelah mengetikan sesuatu lalu kembali mengambilnya saat ada pop up pesan baru. Sari bisa menebaknya dengan mudah siapa yang menjadi lawan bicara Edward. Hati Sari dongkol namun ia berusaha menelan kenyataan itu bulat-bulat. Bahwa ia tidak akan bisa menjadi yang kedua.



Pintu terbuka dan semua kepala segera tertuju kepada sumber suara. Bibir-bibir dari kepala tersebut tersenyum semringah saat melihat Ibu Edward masuk sambil memberikan cemilan.



“Ganggu sebentar, ya,’ wanita itu tersenyum ramah.



“Ditunggu yang selanjutnya, ya, Tante.’ Canda Sari. Semua temannya kecuali Edward tertawa. Sayang sekali, padahal justru laki-laki itu yang menjadi alasan kenapa Sari melakukannya.



“Hahaha kayak drama Korea aja, nunggu-nunggu selanjutnya,’ tawa Ibu Edward. “Oiya, ngomong-ngomong drakor, ada novel yang harus tante baca!’ lanjutnya.



Sari terperanjat, “Novel apa, Tan? Sari juga sering baca novel!’ seru anak perempuan itu bersemangat.



“Novel, itu, apa yah. Tante lupa judulnya. Tapi ceritanya tentang perempuan biasa yang nikah sama CEO muda,’ wajah Ibu Edward terlihat berseri-seri saat menuturkannya.



“Ohhh, iya iya. Sari juga pernah baca cerita kayak gitu. Seru banget!’ imbuh Sari.



“Iya seruu. Konsep ceritanya sama kayak hidup Tante. Hahaha. Tapi Tante nggak tau yang ini endingnya bahagia atau nggak. Semoga aja mereka bareng-bareng,’ ada sedikit intonasi yang sendu dalam perkataan Ibu Ed. Seolah-olah ia sedang mengenang masa mudanya.



“Hahaha lanjutin baca Tante biar tauu. Nanti kasih reviewnya ke Sari!’ Sari mengambil satu buah waffle dari piring yang dibawa wanita muda di pintu.



“Iya, jangan lupa sausnya, ya.’ Berikut kata-katanya sebelum berlalu pergi.



Fajar menyimpulkan sesuatu, “Ed, Ibu kamu umur berapa? Kok kayaknya udah agak tua?’ Sari sedang menuangkan saus ke waffle miliknya saat mendengarkan perkataan Fajar, membuat sausnya meleset ke waffle lainnya.



Ed memandang langit-langit, seakan tertulis umur Ibunya diatas sana. “Nggak tau, lupa. Yang pasti sekitar tiga puluhan,’ Fajar dan Sari mangut-mangut saja.



Mereka berenam selesai rapat pada pukul setengah sepuluh. Beruntung, semua anggota kelompok membawa transportasinya masing-masing, jadi Ed tak perlu repot-repot mengantar salah satu dari mereka. Setelah memastikan semua sudah pulang, sang Tuan rumah memasuki rumahnya dan menatap pintu itu rapat-rapat.



Ayah dari Edward sudah pulang kerja saat Ed sedang rapat. Sekarang, ia sudah tidur di kamarnya. Sedangkan Ibunya masih asyik menggeluti novel yang disebutkannya tadi. Wanita itu menyapa saat Ed melewati ruang tamu.



“Perempuan yang Mommy ajak omong tadi,’ Ibu Ed tersenyum hangat.



“Tadi dia ngobrol sebentar pas abis dari toilet. Orangnya seru, ya.’ Lanjutnya.



Edward diam, berusaha mengingat-ingat. Satu-satunya orang yang keluar kamarnya saat rapat berlangsung adalah Sari. Apa dia perempuan yang dimaksud Ibu?



Ia berseru, “Oh, iya. Dia! Edward nggak deket sama dia di sekolah, Mom. Jadi nggak tau.’



“Lha tadi pas rapat di kamar kamu?’



Edward mengangkat bahu, “Edward cuman nulis doang dan selesai paling pertama. Abis itu lanjut main Hp sambil nungguin, jadi nggak tau.’


Ibunya menggeleng-gelengkan kepala.


Edward tau, sehabis ini ia pasti akan dinasehati. “Jangan gitu, Ed. Kan mereka temen-temen kamu, satu kelas lagi. Masa jarang ngobrol?’ Edward diam membisu. Ia tidak suka menyiapkan alasan saat dinasehati.



“Nanti coba ajak ngobrol dia, deh. Mommy juga mau ketemu lagi.’ Lanjutnya.



Anak laki-laki semata wayangnya menggeleng, “Nggak mau, Mom. Ed nggak begitu suka sama dia.’ Tentu saja. Sari tidak akan seasyik dan seseru itu jika mengobrol dengan laki-laki.



Ibu Ed mendesah, “Terserah, deh. Kamu suka susah kalo dibilangin. Ntar juga lama-lama kamu deket sama dia. Mommy jamin.’ ia kembali duduk dan melanjutkan bacaannya.


Edward masih terpaku disana selama beberapa saat. Ia memikirkan Arashi. Apa yang harus Ed ceritakan kepadanya besok? Ia tidak tega untuk menjabarkan semuanya. Tapi yasudah, toh ia terlanjur berjanji.




///



Esok paginya ia janji bertemu dengan Arashi di tempat makan pinggir jalan. Disanalah ia akan menceritakan semuanya kepada Arashi.


Ia tidak bisa menceritakannya di kantin sekolah karena akan ada banyak telinga-telinga yang mendengarnya. Pun ia tidak bisa bercerita di telepon karena Ibunya mungkin akan mendengarnya. Sedang pesan instan, itu adalah opsi terakhir bagi Ed. Ia lebih suka berbicara empat mata alih-alih lewat Ponsel. Berbeda dengan kedua orang tuanya.



Arashi datang dengan seragam sekolah yang dibalut jaket tebal. Pagi ini memang lebih dingin dari biasanya, Edward bahkan enggan pergi mandi karena airnya sedingin es.


Ia memesankan segelas teh hangat untuk Pacarnya. Mereka berbincang-bincang mengenai cuaca sejenak sambil menunggu pesanan datang. Edward tidak tau kenapa hidupnya dipenuhi oleh kata menunggu. Selesai menunggu Arashi, kini ia harus menunggu segelas the hangat. Bukan untuknya, tetapi untuk gadis di sampingnya. Ia sudah lebih dulu menunggu segelas miliknya saat sedang menunggu Arashi.



Pesanannya sampai dan Edward mulai mendongeng. Cerita yang panjang itu dimulai dari kata 'Jadi'. Dilanjut menceritakan kejadian demi kejadian sejak mereka melangkahkan kaki di rumahnya, mengerjakan tugas masing-masing, Fajar yang terlambat sampai ia


mengantar mereka semua di halaman.


Arashi menikmati teh hangat dan cerita yang disajikan oleh laki-laki tersebut. Sesekali Edward menambahkan prasangkanya kepada Sari. Wajah Arashi perlahan-lahan lesu saat Edward menceritakan bagian Sari dan Ibunya. Mereka berdua sepakat kalau perempuan itu sengaja mencari perhatian. Bahkan, mungkin ia juga sengaja pergi ke toilet. Agar bisa menghampiri Ibu Edward yang sedang duduk di ruang tamu.



Edward juga membesar-besarkan perkara dengan mengatakan kalau Sari pergi cukup lama. Arashi merasa bersalah karena sudah berprasangka kepada sahabatnya sendiri, namun ia tidak bisa berkata apa-apa jika memang itu kebenarannya.



Setelah selesai mereka berangkat bersama menuju sekolah. Di perjalanan, Arashi berusaha membuang jauh-jauh semua prasangka negatifnya. Ia tidak suka berprasangka, terlebih kepada sahabatnya sendiri. Bagaimana mungkin Sari sengaja melakukan hal itu. Ah, ini juga salahnya. Kenapa ia tidak memberitahu sahabatnya lebih awal, Arashi yakin Sari tidak akan melakukannya jika sudah mengetahui hubungannya dengan Edward. Benar, kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada Sari karena semua ini berawal dari dirinya sendiri.



Walaupun berpikiran begitu, entah untuk alasan apa, Arashi menceritakan hal yang diceritakan Edward kepada dua sahabatnya yang lain. Mungkin Arashi tidak menyadari kalau ini adalah awal dari konflik yang berkepanjangan. Sebelum Sari datang dan sebelum jam pelajaran berbunyi, Arashi bercerita kepada Bunga dan Tiara di bangkunya. Mereka bercerita dengan intonasi yang kecil, agar tidak ada orang yang tak berkepentingan yang mendengarnya.



Mungkin benar gagasan yang mengatakan bahwa, jika perempuan sedang berkumpul dan ada satu yang tidak hadir, maka ia akan menjadi objek perbincangan mereka. Dulu Arashi benci gagasan itu tetapi kini justru ia sendiri yang melakoninya.



Selesai bercerita, Tiara dan Bunga membisu. Sama seperti Arashi, mereka juga tidak ingin berprasangka kepada Sari, sahabat mereka. Juga sama seperti Arashi, mereka pun menyalahkan diri mereka sendiri. Kenapa mereka tidak memberitahunya saja sejak awal? Sari yang malang. Mereka mulai menyadari kalau mereka sudah bertindak keterlaluan kepada Sari. Tiara dan Bunga tidak menimpakan semua kesalahan kepada Arashi yang menolak memberitahu Sari lebih awal. Alih-alih berusaha menyalahkan, mereka bertiga setuju tidak ada yang salah dalam hal ini. Hanya ada sedikit kesalahpahaman. Mereka bertiga sendiri menganggap tindakan Sari adalah, semacam, yah, mencari perhatian seorang Ibu dari laki-laki yang disukai olehnya. Itu hal yang biasa, namun menjadi tidak biasa karena Arashi dan Sari menyukai laki-laki yang sama.




Hal itu makin menjadi tidak biasa karena Ibu Edward tidak menyukai Arashi, dan dua sahabatnya juga mengetahui itu. Jadi, dengan kejamnya mereka menyimpulkan bahwa Sari berusaha mendapatkan Edward lewat Ibunya.


Mungkin inilah akhir dari persahabatan singkat mereka. Persahabatan yang terjalin selama satu semester penuh. Semester ganjil kelas sepuluh.



Sari datang, membawa berita yang tidak kalah mendadak dan gawat. Ia berjalan melewati koridor dengan langkah yang mantap. Memerhatikan keadaan sekitar terlebih dahulu sebelum masuk kelas, ramai seperti biasanya. Di barisan bangku ketiga dari pintu masuk, ada tiga sahabatnya sedang berbincang-bincang. Sari menghampiri dengan raut wajah dan suasana hati yang ceria, ia tidak tau apa-apa. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa tentang dirinya.



“Eh, kalian udah pada selesai PR Biologi? Kok yang nomor tujuh kayak nggak ada jawabannya, sih.’ basa-basi Sari seraya menaruh tas di bangkunya, bersiap bergabung dengan sahabatnya yang lain.



Tidak ada yang menjawab.



Sari diam, sedikit kikuk. Ia baru menyadari kalau mereka berhenti mengobrol saat dirinya lewat di samping mereka. Sari bisa merasakan firasatnya yang berkata ada yang tidak beres. Ia memandang sahabatnya yang tidak memandang balik.



“Lho? Blum pada ngerjain, ya?! Eh, atau aku yang salah? Nggak ada pr, ya?’ simpulnya. Mereka tetap tidak merespons. Sari diam.


Apa yang salah?



“Eh, aku mau beli roti dulu ke kantin. Mumpung belum masuk.’seru Tiara seraya bangkit dari tempat duduknya. Kedua sahabatnya yang lain ikut menyeru, berkata bahwa mereka pun akan ikut pergi.



Ketiganya pergi, saling merangkul dan berpegangan tangan. Saat itu Sari sadar, tidak ada tempat untuknya. Ia menunduk, berusaha menelan jarum yang sedari tadi ada di tenggorokannya, benda itu terasa seperti menyumbat salivanya untuk jatuh ke bawah sana.



Bagus, akhirnya semuanya fiks. Saling menyembunyikan dan menyabotase satu sama lain bukan hal yang bagus. Dan lagi, itu melelahkan. Jika memang ini akhirnya, lebih baik begitu.



Tapi, sekali lagi. Mereka tidak tau apa-apa tentang dirinya.



Mata Sari sudah berkaca-kaca saat seseorang berkata kepadanya, “Lo nggak ikut bareng mereka?’ Sari menoleh, memastikan siapa yang sedang mengajaknya bicara.



Ia Edward.



Sari menggeleng malu, “Nggak. Aku masih harus ngerjain PR makanya mereka pergi duluan.’ Desisnya. Laki-laki itu mengangguk dan menaruh tas di bangkunya, kemudian duduk manis di tempatnya sambil mendengarkan lagu Fiesherman dari Schubert lewat headphone berwarna hitam yang cukup elegan.



Sementara di koridor, Tiara; Bunga; dan Arashi berjalan sambil membisu. Mereka bergandengan tangan dan saling merangkul, namun mulut mereka membeku. Mereka merasakan ada jarum di tenggorokannya, sama seperti Sari. Sadar bahwa tindakan mereka tidak benar, ketiganya tetap melanjutkan berjalan alih-alih berbalik ke belakang. Jika Sari mengikuti mereka tadi, keadaan mereka pasti tidak akan seperti ini. Ketiganya akan menjadi dingin dan sekeras batu. Tetapi, saat tidak ada Sari di sisi mereka, hati ketiganya hancur luluh.



Mereka semua sama-sama menahan tangis. Sari juga bagian dari mereka, wajar jika hatinya masing-masing merasakan ada potongan yang hilang. Sari adalah sahabat mereka. Masih belum terlambat untuk kembali. Seharusnya memang mereka kembali, sebelum terlambat….


Tapi mereka tidak kembali.