SAVE ME

SAVE ME
Teman sekolah,



◇◇☆◇◇


Sejak terakhir Willi memberinya sebuah bogem mentah Drew tak pernah lagi terlihat di kantor Gtech. Entah dimana pria itu sekarang berada, Willi juga tak peduli karena fokusnya kali ini adalah untuk dirinya dan masa depannya yang sepertinya telah terlihat petakan jalan yang berliku dan tidak semudah yang telah ia lalui.


Hanna berada di klinik kejiwaan untuk membantu seorang psikiater berumur yang masih terlihat cukup menarik di usia senjanya.


Gabriel Peterson, pria tua dengan segudang pengalaman dalam menangani kasus kejiwaan. Hanna memilih untuk bertukar tempat dengan salah satu relawan yang juga berada dibawah naungan Sunrise Club. Semua karena letak rumah keduanya yang saling berlawanan dengan tempat mereka bertugas.


Senyum menyapa pemandangan Hanna pagi ini dari Peter ditempat barunya.


"Morning sunshine." Sapa Peter pertama kali saat melihat Hanna sudah menunggunya lebih dulu di depan pintu klinik bersama dua orang perawat.


Mereka dengan serentak membalas sapaan pagi dari Peter yang tengah meletakan tas jinjingnya diatas meja.


Pria berdarah asli manado itu mengumpulkan semua karyawannya untuk memberikan briefing di weekend yang cerah. Memperkenalkan Hanna sebagai member baru mereka. Sambutan hangat pun dapat Hanna rasakan dari mereka yang sudah lebih dulu bergabung bersama Mr. Peter.


Beruntung rata-rata pasien yang datang merupakan orang-orang yang telah membuat janji temu sebelumnya dihari kerja sehingga mereka tak begitu sibuk melayani berbagai urusan layaknya bertugas di rumah sakit besar.


.......


Hanna melihat ponselnya berkedip disaat ia dan dua perawat yang sejak awal sudah menjadi satu tim dengannya tengah menikmati waktu luang.


"Kak, ponselnya kedip-kedip tuh." Ucap Silvi, salah satu perawat dengan tudung yang menutupi kepalanya.


"Biarin, lagi dinas ini." Balas Hanna yang seperti enggan meraih ponselnya sendiri.


"Ecieee.....lagi ngambekan yah ama yayangnya?." Goda Gisel dengan kedipan nakal yang ditujukan untuknya.


"Dih apaan yayang, gebetan aja gak ada."


"Ahhuuuyyyyy!!!." Ucap Silvi dan Gisel bersamaan.


"Eh, Pake ngeledekin lagi." Keduanya lantas menertawakan Hanna.


Masih dengan panggilan dari ID yang sama namun kali ini Hanna menjawabnya. Ia melangkahkan kakinya menjauh sejenak dari dua gadis muda yang tengah bersamanya.


"Ada apa?."


📲"entahlah, tiba-tiba aku ingin sekali mendengar suara mu." Willi mengucapkan kalimatnya dengan lemah. Persis seperti orang yang tengah terserang demam.


"Konyol. Cepat matikan, aku sedang ada pekerjaan." Hanna berusaha menyudahi panggilan tak berbobot dari si mantan gay itu.


📲"apa kau sedang berkencan?." Willi berusaha menebak apa yang tengah dilakukan Hanna saat weekend seperti ini.


"Iya. Jadi cepat matikan."


📲"baiklah. Tetaplah ditempat mu, aku akan kesana lima belas menit lagi."


"What?. Ja___


Tut.....tut.....tut.....


Panggilan itu benar-benar diputus sepihak oleh si penelpon sendiri tanpa sempat mendengarkan kata-kata Hanna.


"Ahss,,,pria ini bener-benar gila." Hanna terus menggrutu sembari memandang lekat layar ponselnya yang telah mati.


Lima belas menit berlalu tak ada tanda-tanda kedatangan si bule tak tahu diri itu. Meskipun ia menganggap ucapan Willi hanyalah bualan semata dan mulutnya berkata tidak tapi pikirannya terus mengatakan jika pria itu akan datang namun ia kembali mengingat jika Willi bahkan tak tahu dimana dirinya saat ini.


"Dasar!." Gumamnya sembari tersenyum tipis, Ia menyadari jika kini dirinyalah yang berharap agar pria itu datang untuknya.


"Mulai error ni isi kepala."


*******


Pukul empat sore, Hanna melenggang keluar dari halaman klinik kejiwaan milik Gabriel Peterson menggunakan mobil tua ayahnya. Tidak ada kata gengsi dalam kamus hidupnya selain untuk kebodohan. 'Gengsi karena bodoh, maka belajarlah agar kamu mengerti dan tak terlihat bodoh'


Hanna memutar kemudi tua berlapis kulit dengan warna cokelat tua dalam genggamannya mengarah ke sebuah Mall yang tak jauh dari tempatnya bertugas.


Ia berencana akan membuat kelapetart setibanya dirumah nanti. Namun lagi-lagi poselnya kembali berdering saat mobilnya baru saja memasuki area parkir sebuah swalayan.


Hanna tak segera mengangkatnya saat matanya menangkap Id si penelepon sama dengan sebelumnya.


"aaah, manusia satu ini benar-benar!." Ia memaki ponsel yang terus bergetar dengan nada kesal.


"Hei Mr. William, tidak bisakah kau jangan menelepon ku disaat weekend seperti ini?." Kesalnya saat panggilan itu terhubung.


Bukannya menjawab Willi malah tertawa bahagia diseberang sana.


"Tidak bisa, kecuali kau menyudahi kencan butamu dengan pria tak bermutu diluaran sana."


"Apa urusan mu?." Tanya Hanna dengan nada menantang.


"Karena sebanyak apapun kau berkencan, mereka juga tidak akan bisa menikah dengan mu." Kekehnya


"Hanya aku, kau hanya bisa menikah dengan ku."


"Aku menolak." Ucap Hanna dengan nada setengah mengejek sembari terus mendorong trolly belanja menuju rak yang memajang bahan-bahan pembuat kue.


"Terserah, aku akan menodai mereka yang berani menjadikan mu hayalan."


"Dasar pria gila!."


"Gila karena mu."


"Sudahlah Willi, kau berkata seakan-akan tidak ada wanita lain dimuka bumi ini."


"Dan itu kenyataannya. Tidak ada Wanita lain yang begitu mengerti diriku selain kau."


"Sepertinya pertemuan kita merupakan sebuah kesalahan."


Willi kembali tertawa dengan bahagia ditempatnya.


"Cepatlah kemari, aku akan mengajakmu mengunjungi seseorang."


"Tidak bisa. Aku akan pulang dan memasak untuk makan malam."


"Kalau begitu biarkan aku makan dirumah mu."


"Jangaaan!."


"Kenapa?. Apa calon suami mu juga akan datang?. Kalau begitu bagus, jadi aku tidak perlu susah payah mencarinya."


"Ahsss,,,kau benar-benar menyebalkan William." Hanna terus mengumpati bosnya yang gila dengan emosi yang tertahan lantaran kini ia berada dipusat keramaian.


Hanna mendorong trolly belanjanya menuju meja kasir. Melakukan pembayaran lalu pergi dengan sekantung besar totebag berisi bahan-bahan pembuat kue.


Pukul empat sore, ia mendapati mobil mewah terparkir rapi didepan pagar pendek rumahnya. Kepala wanita itu menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan keberadaan seseorang namun matanya tak melihat gambaran yang dimaksud.


"Tamu tetangga kali ya." Gumamnya.


Tepat saat ia akan mengetuk pintu rumah, Aldric membukanya lebih dulu dengan wajah tak ramahnya. Hanna yang ditatap pun mengerutkan dahi, ia menyadari jika si perfectionist ini pasti akan meributkan sesuatu nantinya dan benar saja bule gila yang beberapa menit lalu berkata akan ikut makan malam dirumahnya ternyata benar-benar ada di dalam rumahnya.


Willi tengah bercengkrama dengan kedua orang tua Hanna. Pria itu nampak akrab, tidak seperti Willi si introvert yang dulu ia temui. Ah tidak, tepatnya yang orang lain tidak tahu.


Hanna menaikan kedua bahunya dihadapan Aldric yang tengah berdiri mengahalangi pintu masuk.


"Siapa Ric?." Tanya sang mama kepada si sulung yang bertingkah aneh sejak tadi.


"Hanna." Aldric langsung membuka jalan untuk adiknya yang bermuka aneh saat netranya bersitatap dengan si bule.


"Ini dia yang ditunggu akhirnya datang juga." Suara ayah mereka memecah keheningan.


Benar-benar momen teraneh yang pernah terjadi dalam hidup Hanna dimana sorang pria bule berkunjung dan masuk kedalam rumah dengan santainya, dan dari mana bule tak tahu diri itu bisa sampai disini?. Bukankah Hanna tak pernah memberitahunya alamat rumah mereka.


Aldric yang sejak tadi duduk bersebelahan dengan sang ayah tak sekalipum melepaskan tatapan matanya dari Willi.


Yang membuat suasananya menjadi semakin mecekam adalah saat dimana Willi dengan santainya menggunakan bahasa Indonesia. Ia bercerita jika dirinya pernah berada satu sekolah dengan Hanna dan itu membuat Aldric merasa dibodohi sampai ke tulang-tulang.


Teringat saat acara kelulusan Hanna dan pria itu mengajaknya duduk dalam satu meja dimana Aldric terus menanyakan persoalan si bule yang tengah bersama mereka menggunakan bahasa Ibu.


"Dasar bule tengik!." Umpat Aldric dalam hati.


Tampang bule tidak menjadi jaminan bahwa ia tidak bisa berbahasa Indonesia dan Aldric tidak pernah membaca itu sebelumnya lantaran posisi mereka yang waktu itu berada di benua tetangga.


Willi sangat menyadari tatapan kurang bersahabat yang pria itu tunjukan padanya. Tapi dia justru tidak memperdulikan hal itu karena fokusnya saat ini adalah bagaimana ia bisa dekat dengan kedua orang tua Hanna. Masabodolah mengenai Aldric bukan pria itu juga yang menjadi targetnya.


Hanna sungguh bosan mendapati pertanyaan beruntun yang diberikan oleh sang ibu kepadanya saat keduanya tengah berada didapur.


"Beneran dia bukan siapa-siapa kamu?."


"Ya ampun ma, bukan!. Temen sekolah aja. Itu pun gak akrab."


"Gak akrab kok sampe main kerumah. Itu apa namanya?."


.


.


.


.


.


Tbc.