SAVE ME

SAVE ME
Enam



Kelas dimulai. Atmosfir kelas menjadi berbeda pada diri masing-masing. Mungkin ini adalah rasa penyesalan yang sia-sia, karena Sari tidak bisa mengetahui dengan jelas kata hati mereka. Dan mereka, tidak bisa memahami keadaan Sari. Ini adalah penyesalan yang sia-sia.



Sari masih sering melambaikan tangan dan mengatakan “Aku duluan" dengan ceria setiap pulang sekolah.



Tapi itu dahulu.



Satu bulan setelah persahabatan mereka hancur, Sari tidak lagi melambaikan tangan dan mengucapkan kata-kata itu. Ia hanya berlalu dan segera pergi. Arashi merindukannya.



Mungkin Edward satu-satunya orang yang menyadari keadaan mereka. Tidak! Seisi kelas pasti menyadarinya, tetapi mereka diam saja. Kalau begitu, Edward adalah satu-satunya orang yang menyadari keadaan mereka dan mengambil tindakan atas hal itu. Anak laki-laki itu berusaha menyatukan mereka kembali. Entah lewat pembagian kelompok yang tampaknya alami –padahal itu adalah akal-akalan Ed—maupun dengan cara melibatkan mereka ke dalam suatu konflik. Yang mengharuskan mereka berdiskusi dan duduk bersama satu meja untuk menyelesaikannya. Tetapi itu tidak berhasil.



Ia mengatakan “Selamat Pagi!’ kepada Sari sebagai bentuk ketidak nyamanan dan ungkapan rasa bersalahnya. Lebih dari sekali, perbuatannya itu menjadikan hubungannya dengan Arashi berjalan tidak baik. Ia tidak peduli, bagaimanapun, ia merasa bertanggung jawab atas perkara yang menghancurkan persahabatan mereka.



Tapi, siapa yang bisa menyatukan dan merekatkan kembali persahabatan dari empat anak perempuan SMA selain Tuhan dan diri mereka sendiri? Bahkan, jika orang tua mereka campur tangan pun tidak akan berhasil. Apalagi laki-laki seperti Edward?




Itu sudah menjadi bulan yang ketiga sejak hancurnya persahabatan mereka. Dengan segenap keberanian, Sari menghampiri ketiga temannya di perpustakaan yang sepi. Tempat itu ramai, tapi oleh buku-buku, bukan oleh manusia.



“Aku bakal pindah sekolah.’ Adalah itu kata-kata pertama yang ada diantara mereka setelah lewat tiga bulan. Di sebuah perpustakaan yang kaya akan cahaya dan sedikit berdebu. Di antara bangku-bangku kosong tempat membaca buku dan di hadapan berak-rak buku-buku yang tidak rapi susunannya.



Mereka terdiam.



Sari tidak mengharapkan respons apapun, ia hanya merasa perlu memberitahu mantan sahabatnya tersebut. Soal bagaimana mereka akan merespons, itu diluar kendalinya.



Hening menyelimuti mereka, tanpa ada yang berkeinginan untuk memecahkannya.


Seseorang yang mereka hindari kini telah datang dan mengucapkan sesuatu diluar dugaan ketiganya. Mereka menyadari Sari memasuki ruangan sejak Sari pertama menginjakkan kaki disini. Tapi mereka diam saja. Dalam hati, ketiganya merasa terancam. Seakan Sari adalah dukun santet yang bisa membunuh manusia tanpa menyentuhnya.


Memang Sari seperti dukun santet bagi mereka. Sari membunuh mereka perlahan dan tanpa sedikit pun menyentuh mereka. Melihat Sari seperti melihat kenangan masa lalu mereka. Kenangan yang ingatan bawah sadar mereka pun enggan untuk melupakan dan menghapuskannya.



Sari menyentuh titik sensitive dari diri ketiganya. Benar, Sari menyentuh rasa bersalah mereka. Menyebabkan mimpi buruk dan suasana hati yang tidak tenang.


Jadi, mereka semakin menjauhinya. Mereka takut monster rasa bersalah akan menetap dan mengacak-acak hati serta perasaan mereka jika Sari berada dalam lingkup mereka. Sejak persahabatan mereka hancur pun, Sari tidak bersama siapa-siapa. Ia lebih sering sendirian.


Tapi kini perempuan itu ada di hadapan mereka.


Tepat di netra mereka.



“Kapan?’ akhirnya, Arashi membuka suara.



“Dua hari dari sekarang.’ Hari ini hari Jum’at. Dengan kata lain, Sari tidak akan menginjakkan kaki lagi di sekolah ini pada hari Senin. Ia akan menyentuh tanah dan lantai sekolah lain. Bertemu dengan orang-orang baru dan mungkin, menemukan sahabat yang baru.



Arashi bangun, melangkah beberapa kaki ke depan dan memeluk Sari. Waktu seakan membeku dan enggan untuk berlalu. Akhirnya sebuah tindakan muncul. Tindakan yang akan mengubah atmosfir buruk ini.



Sari mungkin akan menangis saat itu juga, tapi Sari sudah berjanji untuk tidak menangisi hal ini.


Setidaknya, sampai Tiara dan Bunga turut memeluknya. Mereka menepuk pelan pundak Sari dan mengucapkan sesuatu dengan suara yang bergetas. Mereka mengucapkan kata Maaf. Ia banjir air mata.



Akhirnya kata itu pun terucap juga. Kata-kata yang akan merekatkan mereka kembali dan menambal lubang-lubang pada persahabatan mereka. Kata maaf memang tidak selalu berakhir kepada penyelesaian, tapi terkadang ada penyelesaian tanpa kata maaf. Dan saat kata maaf itu terucap, penyelesaian pun benar-benar tuntas.



Ketiganya—bukan, keempatnya menangis sambil saling bercengkrama. Akhirnya, semua perasaan yang terpendam pun muncul ke permukaan. Sisi hati yang tidak ingin masing-masing dari mereka melihatnya kini menjadi terang benderang. Mereka kembali bersatu.


Setelah merasa cukup dan puas, satu per satu dari mereka melepaskan pelukannya. Menghapus sisa-sisa air mata di wajah masing-masing. Kemudian tertawa.



“Serius mau pindah, Ri? Kemana? Karna apa?’ Tiara membuka sesi wawancara sebelum bel tanda istirahat selesai berbunyi.



“Ke luar kota. Biasa, Ayah pindah distrik, dan Ibu mau ikut. Padahal bentar lagi ulangan kenaikan kelas, tapi mereka ngotot pindah.’ Gerutu Sari.



“Yah, nggak bisa ketemu kita lagi, dong!’ ujar Bunga kecewa. Sari mengangguk.



“Masa, sih, beneran pindah? Kamu nggak ngelawan?’ protes Arashi.



Sari mendengus, “Ngelawan! Tapi nggak di dengerin! Nggak mau tau, pokoknya nanti aku ngerengek main kesini tiap libur sekolah.’


Ketiga sahabatnya tertawa.



“Pasti bakal kangen berat, nih. Kok cepet banget tiga hari?’ desis Tiara.



“Tenang, kan ada Hp. Lewat sosmed aja. Hehe.’


Sari melanjutkan, “Sebenernya udah dari lama. Waktu kita marahan, disitu sebenernya aku mau ngasih tau kalo Ayah dan Ibu nyuruh aku keluar.’


Ia mengangkat bahunya sekali.



“Tapi karena keadaan lagi nggak bagus, ya, nggak aku bilang.’ Simpulnya. Semua terdiam, terkecuali dirinya. Masing-masing mereka merasa bersalah karena tidak mencoba mengerti perasaan Sari terlebih dahulu. Waktu tiga hari adalah konsekuensi bagi mereka. Jika saja mereka tidak saling diam sejak lalu niscaya mereka mempunyai banyak waktu untuk dihabiskan bersama, sebelum Sari pindah.



Mengerti dengan perasaan teman-temannya, Sari menyahuti, “Udahhh, nggak apa-apa. Lagian udah terjadi ini, kan. Masih ada waktu tiga hari kok.’



“Iya, sih.’ Kata Bunga menimpali.



“Maafin kita, ya.’ ucap Arashi. kata-kata itu disambut anggukan hangat oleh Sari, tanda bahwa ia memaafkan semuanya.



“Okay, jadi tinggal nyusun mau jalan-jalan kemana, kan. Biar aku, deh, yang ngurusin!’ hibur Tiara bersemangat.



“Ih, Tiara. Jangan jauh-jauh tempatnya, lho! Terakhir kamu bikin rundown acara, tempatnya jauh-jauh. Kita semua lesu, kamu doang yang semangat.’ Bunga nampaknya keberatan dengan ide Tiara.



Arashi tertawa, “Yaudah, atur aja. Tapi jangan kayak waktu itu.’



Bel masuk pelajaran berbunyi. Mereka semua menengok kepada sumber suara yang entah berada dimana. Masing-masing hanya mengikuti arah masuknya sumber bunyi tersebut ke indera pendengaran mereka.



“Yah, perasaan baru juga istirahat.’ Keluh Sari.





“Rash,’ panggil Sari sebelum Arashi benar-benar keluar ruangan.



Arashi menoleh, “Iya? Kenapa, Sar?’



“Anu, soal Edward….’



“Ssst! Udah biarin. Lupain aja masalah itu.’ Arashi tersenyum sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara.



Sari tersenyum malu-malu, “Maaf, ya.’



///



Tiara benar-benar membuat daftar tempat-tempat yang akan mereka kunjungi dalam kurun waktu tiga hari ke depan. Mulai dari tempat kekinian yang ramai dikunjungi oleh orang-orang seumuran mereka sampai rumah Tiara sendiri. Tiara memilih rumahnya karena ia merasa hanya rumahnya yang bisa dipakai. Awalnya, ia ingin menjadikan rumah Sari sebagai destinasi terakhir, namun mengingat sang tuan rumah akan pindahan sepertinya membuat rumah itu menjadi berantakan dan penghuninya pun pasti sedang repot. Jadi rumah Sari bukanlah tempat yang tepat.



Agar tidak menghambat daftar milik Tiara yang kemudian akan mengecewakan sahabat-sahabatnya, Arashi meminta izin kepada Ibunya agar diperbolehkan izin bimbel selama tiga hari. Awalnya wanita itu menolak, namun setelah Arashi menjelaskan duduk perkara sekaligus alasannya, wanita itu menyetujui. Toh, hanya tiga hari dari satu semester penuh.



Seperti itulah Ibunda Arashi. Ia menjunjung tinggi pendidikan akademik anak-anaknya. Karena itulah ia mengikutkan Arashi ke dalam bimbel, di samping kegiatan anaknya di sekolah. Adik dari Arashi pun sama. Ia juga mengikuti bimbingan belajar. Namun, di tempat yang berbeda dan jadwal yang sama.



Meskipun begitu, Ibu Arashi tidak mengesampingkan pendidikan karakter bagi anak-anaknya. Sebab itulah, ia mengizinkan Arashi membolos. Ia juga senantiasa memastikan bahwa kedua anak perempuannya baik-baik saja dan tidak depresi dengan pelajaran. Itu adalah tugas dan kewajiban orang tua. Tidak bisa dilakukan oleh orang lain.



Beruntung, perjalanan Sari dan teman-temannya berjalan mulus. Daftar yang dibuat Tiara kali ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Ah iya, kenapa harus Tiara yang membuat daftarnya? Alasannya hanya satu.


Dalam sebuah persahabatan pastinya terdiri dari beberapa orang yang sangat akrab walaupun kepribadian mereka berbeda satu dengan yang lainnya. Tetapi, dalam sebuah persahabatan, pasti ada satu orang yang 'tukang kompor'. Yang sering mengajak sahabat lainnya untuk membeli barang yang sama. Mengajak sahabat-sahabatnya ke tempat baru. Mengajak bolos, mengajak sesat bareng-barengan dan mengajak miskin bareng-bareng.



Dalam persahabatan Arashi, tukang kompor itu adalah TIARA. Oleh karena itu, ia menginginkan sekaligus ditunjuk sebagai orang yang menyusun daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi.



Pekerjaannya sangat rapi dalam bidang ini, sampai-sampai Arashi mengira kelak Tiara akan bekerja sebagai duta pariwisata atau minimal, pemandu tur. Apalah daya, walaupun passion, tapi itu bukanlah cita-cita Tiara. Cita-citanya yang sesungguhnya adalah menjadi seorang sutradara. Arashi tidak tau bagian mana dari diri Tiara yang memilih pekerjaan tersebut.



Setelah jalan-jalan mereka berjalan lancar, Sari benar-benar pindah. Kini mereka hanya bertiga. Sari bilang ia akan menghubungi mereka jika rindu. Begitupun sebaliknya.



Disebabkan peran Sari yang tidak sepenting Tiara, rasanya tidak jauh berbeda ada maupun tiadanya kehadiran seorang Sari.



///



Terhitung sudah satu bulan sejak kepindahan Sari. kini hubungan Arashi dan Edward sedang berjalan menuju enam bulan. Musim panas sudah berakhir dan musim hujan sudah di depan mata. Arashi terkena serangan flu akibat cuaca yang pancaroba. Walaupun begitu, ia tidak bolos sekolah dan bimbel. Ia tetap berangkat dan memakai masker sepanjang waktu sebagai tindak pencegahan tertularnya penyakit itu.



Sekarang ia sedang di sekolah, ada jam pelajaran kosong dan Arashi menggunakan waktunya untuk menonton Kekasihnya berolahraga. Edward bermain basket, ia merupakan seorang anggota dari klub basket di sekolahnya walaupun dirinya tidak famous. Ia tetaplah pemain basket. Mungkin dirinya famous, tetapi di kalangan bola basket.



Arashi berdiri diluar garis pembatas lapangan basket. Tidak mungkin jika sekolah tempat Arashi belajar tidak dilengkapi dengan fasilitas lapangan basket. Walaupun, gadis itu tidak pernah menyentuh bola berwarna oranye tua tersebut.



Bola basket memantul mendekati gadis berperawakan kecil tersebut. ia mundur beberapa langkah karena merasa terancam dengan bola yang tidak berhenti memantul. Saat berhenti, bola itu tepat berhenti di sepatunya. Arashi menunduk untuk mengambilnya kemudian melemparkannya kepada Ed. Sangat membosankan menonton permainan basket tersebut. arashi tidak tau, apakah karena para permainannya yang tidak sengit atau memang membosankan.



Anak perempuan itu hendak melangkah pergi saat tiba-tiba Edward memanggilnya. Ia menoleh. Tahu-tahu bola basket sudah melambung ke arahnya. Arashi panik, ia tidak tau harus berbuat apa. Ia hanya mengulurkan tangan dan memejamkan matanya. Dalam hati ia berkata, jika bola itu mengenai dan membuat salah satu bagian tubuhnya membiru maka ia akan mengobrak-abrik lapangan ini sekaligus dengan pemain-pemainnya.



Bola itu tertangkap.



“Rash, ikut main, yuk! Kita kekurangan orang, nih.’ Teriak Ed dari tengah lapangan.



Arashi melempar bola di tangannya dengan kasar, “OGAHHHH!!!’ teriaknya.



“Buruan,’ paksa Edward. “Kekurangan orang ini. Cuman ngoper-ngoper doang mah gampang. Nggak usah masukin.’



Arashi berpikir sejenak, mungkin ia menganggap permainan ini membosankan karena ia tidak berada di dalamnya.


“YAUDAH, YAUDAH!’ teriak Arashi, berpura-pura terpaksa.



Ia memainkan permainan dengan kacau, lebih kacau lagi karena ia mengenakan masker. Tetapi, ia menikmatinya. Seperti dugaannya, terlibat dalam permainan secara langsung memang lebih menyenangkan daripada hanya menonton. Saat itu ia sedikit berpikir kalau dirinya adalah Alpha, ia suka terjun langsung, ia suka menguasai permainan dan suka menjadi pemimpin.



Tiba-tiba terbesit di pikirannya, sekelebat ingatan yang membantah opini barusan. Ketika ia berjalan di koridor lalu seorang wali kelas memanggilnya. Ia malah lari menjauh alih-alih mendekati wali kelas berpakaian Pegawai Negeri Sipil tersebut. ketika ia justru menjadi seorang pesuruh dalam sebuah kelompok, ia mengerjakan semua yang keluar dari mulut anggota lainnya. Delapan puluh persen dari tugas kelompok itu ia yang mengerjakannya. Dua puluh persen sisanya adalah presentasi, hal itu dilakukan oleh anggota lainnya. Ia yang mengerjakan semuanya, orang lain yang mempresentasikannya. Tidak masalah, jika teman satu kelompoknya itu dapat memperbagus buatan Arashi lewat presentasinya. Tapi ini sama sekali jauh daripada itu. Arashi tau cara yang bagus untuk mempresentasikan buatan tangannya itu, tapi ia tidak bisa speak up. Ia tidak bisa mengungkapkannya dengan tegas.



Salah seorang anggota tim lawan merebut bola dari jangkauan Arashi. Ck! Ingatan yang ia harap bisa untuk dihapuskan, tetapi ingatan itu justru masuk ke dalam alam bawah sadar Arashi. ia juga mengingat ketika mengerjakan tugas kelompok empat bulan yang lalu, kerja kelompok yang membuat dirinya dan Sari menjadi tidak dekat. Saat itu ia hanya mengerjakan dan mengumpulkan data, ia tidak bisa menanyakan dan mewawancara masyarakat secara langsung. Ia tidak bisa terjun ke lapangan. Bukan apa-apa, Ia takut bertemu dengan seseorang yang tidak seberuntung dirinya. Jika ia bertemu seseorang seperti itu dan mengetahui dengan pasti berapa pendapatannya, ia tidak akan bisa tidur selama beberapa hari.



Menyusun tabelnya saja berhasil membuat Arashi merenung selama berjam-jam. Merenungkan bagaimana mereka merawat anak-anak dan memenuhi kebutuhan semuanya dengan pendapatan yang sedikit. Pasti susah. Saat itu ia berpikir bahwa ia tidak bisa menjadi seorang praktisi ekonomi atau pengamat kesejahteraan masyarakat. Kini ia berpikir kalau ia bukanlah seorang alpha. Dari ingatan-ingatan yang muncul barusan, ia menjadi yakin betul bahwa dirinya bukan alpha, melainkan seorang beta. Yah, menjadi beta juga bukan hal yang buruk.



Ia akan menjadi alpha hanya ketika ia sedang berurusan dengan Edward.



Sekarang ia berkeringat dan masih belum memasukkan satu bola pun ke dalam keranjang. Tetapi, ia sudah mengoper bola ke orang yang tepat selama empat kali dan selalu berujung dengan masuknya bola ke dalam keranjang. Jadi, secara tidak langsung, dirinya lah yang memasukkannya. Jika si pencetak skor tidak mendapatkan operan darinya maka bola itu tidak akan masuk ke dalam keranjang. Yang artinya, timnya tidak akan mendapat skor. Demi segala peluh ini, ia benar-benar seorang beta. Sekali saja, ia ingin memasukkan satu bola saja. Setidaknya dalam permainan. Ia ingin mencoba menjadi alpha.



Arashi menerima bola, memantulkannya sambil terus berjalan ke depan, mendekati keranjang lawan. Ia sudah memasang kuda-kuda dan akan melemparkan bolanya dalam kurun sepersekian detik kemudian. Ia sudah membidik sasaran dan akan melemparnya.


Sayang sekali, seseorang dari tim lawan merebut bola itu sebelum benda tersebut sempat sampai tujuan. Arashi memekik dalam hati sementara Ed tertawa terbahak-bahak. Ia lelah. Kapan permainannya akan berakhir?



Seakan staminanya menyamai pemain lainnya, istirahat segera ditunaikan. Semuanya berpencar meninggalkan titik lapangan, pun Arashi juga. Edward mendekatinya sambil tersenyum, mendekati Arashi yang masih tersengal-sengal.



“Seru ‘kan?’ hiburnya.



Arashi tidak memberikan jawaban melainkan sebuah bola yang dilempar dengan kasar ke titik sasaran perut Ed. Arashi baru sadar dengan apa yang dilakukannya saat bola itu sudah pergi dari tangannya. Ia panic, takut-takut Edward terlalu lambat untuk refleks seperti itu.