SAVE ME

SAVE ME
Permintaan Melati dan pria yang jatuh miskin



☆♡☆♡☆


Drew yang diam tanpa kata justru dipandang remeh oleh ketiga pria yang tengah hangover tersebut. Tak ayal jika pada akhirnya ia justru terlibat perkelahian dengan ketiganya.


Kebodohan Drew menjadikannya bulan-bulanan mereka karena pada dasarnya orang-orang itu bergerak dibawah tingkat kesadarannya sehingga sekuat apapun Drew melepaskan pukulan ataupun tendanganya tidak akan berpengaruh terhadap mereka.


Namun perkelahian itu tak berlangsung lama saat seseorang mendapati ketiganya terus memukuli sang objek dengan brutal.


Mery yang saat itu baru kembali dari tempatnya bekerja harus dikejutkan dengan pembuntuan jalan menuju apartemennya karena keberadaan empat orang pria yang tengah berduel.


Dengan sigap wanita itu mengeluarkan alat setrum minimalis yang selalu ia bawa kemana-mana sejak berada dilingkungan itu.


Jangan kira Mery akan membuat pengecualian untuk salah satu diantara mereka, yang ada justru ia menyetrum keempat pria itu karena sudah menghalangi jalannya namun saat akan melintasi tubuh-tubuh yang tumbang dengan posisi telungkup pada anak tangga matanya justru menangkap gambaran tak asing wajah seseorang.


"Kau?."


○●○●○


*****


Hanna merapikan rambutnya untuk kemudian menutupi noda jajahan dibagian tubuhnya yang terbuka dengan salah satu alas bedak yang ia bawa.


Ia meninggalkan si penjajah begitu saja tanpa niat membangunkannya meski matahari telah berada dipuncak.


"Kau sendirian?." Tanya Sinta yang mendapati dirinya tengah duduk di dalam salah satu gazebo sembari menunggu makan pagi di waktu siangnya.


"Dia sedang mendayung mimpinya bersama bulu angsanya." Ucap Hanna jenaka dan itu membuat Sinta tertawa dengan wajahnya yang sedikit menggoda.


"Anak itu baru saja mendapatkan kenyamanan tidurnya setelah beberapa dekade." Sinta menarik bantalan alas untuk kemudian ia duduki tepat disamping Hanna.


"Dulu aku selalu menjadi tempatnya untuk bermanja saat pagi, ia bermain dengan beberapa orang yang ada dipemukiman layaknya anak-anak seusianya yang butuh teman dan akan kembali bersama Melati kala hari beranjak gelap."


"Apa tidak ada yang pernah datang untuk mencari keberadaannya selama ini?." Tanya Hanna.


"Dulu pernah sekali, seorang pria tua berwajah asing datang ketempat itu dengan dalih ingin menyewa jasa namun yang Melati lihat bukanlah itu yang menjadi tujuannya, entah apa aku juga tidak tahu tapi yang jelas jika sekarang pria itu masih ada dan menginginkan apa yang dicarinya kala itu Melati pasti tidak akan memberinya."


Hanna termenung sejenak setelah mendengar penuturan Sinta tentang sang suami. Kemungkinannya adalah William bukanlah anak yang tidak di inginkan melainkan anak yang sengaja dibuang dengan alasan tertentu menjadi pikirannya saat ini.


"Tapi sudahlah biarkan waktu yang berbicara." Ucap Sinta sebelum meninggalkan Hanna dengan sarapan paginya yang terlambat.


☆☆▪☆☆


Keesokan paginya semua telah bersiap untuk meninggalkan Villa yang hampir seminggu ini mereka tempati untuk acara anak mereka.


"Aku pasti akan merindukan mu." pelukan hangat silih berganti menghampiri keduanya disertai doa untuk kebahagiaan mereka dalam hidup.


kini tinggalah Melati dan sepasang pengantin baru yang masih setia berdiri mengantar kepergian keluarga mereka untuk kembali ke desa.


"Aku juga harus kembali." Melati mengutarakan keinginannya. "Ajaklah wanita mu pergi berbulan madu dan buatkan untuk ku anak-anak yang lucu."


"Apa menghasilkan anak akan semudah itu?. Aku bahkan belum menyemainya tadi malam." Jujur si tampan tanpa tahu tempat saat mengatakannya dan Hanna bukanlah wanita yang akan diam saja ketika seseorang membuka rahasia mereka.


Satu cubitan membuat William merintih dibalik topeng cool yang tengah ditampakannya.


"Seharusnya kau tidak perlu mengatakan hal-hal seperti itu dimuka umum." Geram Hanna sedikit tertahan.


Melati yang berada diantara mereka pun tak bisa menyembunyikan rasa gelinya saat pria dengan kaca mata hitam itu mengaduh karena sebuah cubitan.


*****


Hanna menolak saat Willi mengajaknya untuk pergi menyempurnakan kata-kata Melati yang menyuruhnya untuk pergi berbulan madu karena menurutnya juga akan percuma mengingat tiga minggu yang akan mereka hadapi dengan segala daya dan upaya bak sebuah perjuangan dimedan pertempuran.


"Tidak, aku lebih suka berkendara mengelilingi kota bersama mu dari pada harus menghabiskan uang dengan jumlah berlipat untuk sesuatu yang tidak perlu."


"Baiklah Ny. William sekarang kau bosnya." Willi menggenggam erat tangan sang istri untuk pergi mewujudkan wishlist yang sudah wanita itu buat sebelumnya.


*


*


*


Pagi menyapa, cerahnya langit biru nampak begitu menyilaukan mata seseorang yang tengah terbaring lemah dengan beberapa plaster perban menghiasi luka memar dan robek diwajahnya.


Drew, matanya terbuka lebar kala mendapati dirinya tengah berada diatas sofa milik seseorang. Ia merasakan sakit disekujur tubuhnya hingga membuatnya sulit untuk sekedar menurunkan kaki.


Pria itu menduduki sofa berwarna putih gading dengan bantalan berwarna hitam. Drew menyingkap selimut beraroma mint yang menutupi sebagian tubuhnya. Matanya mengitari seisi ruangan petak berukuran kecil dengan satu buah kamar yang terletak dibagian kiri tempatnya berdiri.


Perlahan ia melangkah untuk mencari kamar mandi dan mendapati selembar post it yang menempel dibibir sebuah gelas berisi susu dan diletakan diatas meja makan bersama dengan sepiring Waffle rasa coklat bercampur potongan stroberi dan juga irisan almond.


…*Habiskan sarapan mu lalu pergilah dari tempat ku. Aku tidak ingin melihat mu saat kembali nanti sebab kita sudah tidak memiliki status apapun dan aku tidak mau terlibat masalah apapun lagi dengan mu.*


Drew tersenyum tanpa sadar lalu teringat akan niatnya semula yang rela jauh-jauh datang ketempat ini hanya untuk mencari wanita itu dan berakhir dengan babak belur karena dihajar oleh orang-orang tak dikenal. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu sampai si pemilik rumah kembali.


"Cukup menyenangkan disini walaupun tidak senyaman milik ku." ucapnya dengan nada santai sembari menikmati camilan yang ia dapat dari penyimpanan dimeja pantry.


Drew Trainor, pria itu tak lagi memiliki pekerjaan. Ia menjadi tuna wisma sejak keputusan pengadilan mengabulkan pembebasan bersyaratnya, namun tidak dengan keluarga Trainor. Sang ayah yang mendengar putusan sepihak itu pun langsung mencabut semua fasilitas miliknya termasuk apartemen dan juga akun bank yang selama ini ia gunakan untuk berfoya-foya dengan sesama jenisnya.


Ia benar-benar jatuh miskin dengan segala masalah yang menimpanya. Tidak ada lagi tempat yang bisa ia datangi selain wanita itu yang hingga kini masih tak mengetahui jika ia belum menandatangi surat pemutusan cerai keduanya.


******


Drew tengah bersantai dengan tiduran diatas sofa sembari menonton salah satu saluran favorit anak-anak yang menampilkan sepotong sponge kuning dengan tawanya yang begitu khas.


"Sepertinya menjadi miskin tidak seburuk yang aku kira." ia terus menampilkan senyum jahat yang selama ini menjadi hal paling dibenci oleh Mery.


.


.


.


tbc