SAVE ME

SAVE ME
Menuju akhir



☆▪☆


Drew yang tak ingin usahanya sia-sia pun lantas memilih jalan pintas dengan memberinya sebuah cium*n dan berhasil namun sayang hal itu harus bersamaan dengan melayangnya satu buah tamparan yang mendarat tepat dipipi pria itu. Yap, Mery kembali sadar dengan situasinya saat ini.


"Apa yang kau lakukan?." Mery mengusap bibirnya dengan lengan baju yang ia kenakan.


"Menyadarkan mu dan kurasa cara itu cukup efektif." Dengan santainya si pria berujar tanpa peduli bagaimana wajah putih Mery yang telah berubah padam.


"A_


Drew dengan cepat menyuapkan potongan cake yang sejak tadi dipegangnya tepat saat wanita itu membuka mulutnya untuk kembali mengumpat.


"Bagaimana?. Enak?." Tanyanya dengan wajah penuh harap namun hanya gelengan yang ia dapati dari Mery.


"Dasar wanita, kenapa jenis kalian selalu penuh dengan kebohongan." Drew lantas menyuapkan smoothies kedalam mulutnya sendiri lalu beralih menempelkan bibirnya kepada Mery secepat mata wanita itu berkedip.


Tidak sampai disitu Mery yang terkejut hanya bisa membeliakan matanya sembari terus menjauhkan tubuhnya dengan menahan pundak pria itu yang sanyangnya justru semakin kuat mel**at bibirnya dimana rasa asam dan manis bercampur jadi satu.


Drew menyudahi ke int*man mereka karena merasa jika nafasnya sudah mulai tak beraturan. Begitu pun dengan Mery, mata wanita itu tampak basah karena rasa bencinya kepada pria yang baru saja menyerangnya secara terang-terangan di tempat umum.


"Kenapa, kenapa kau melakukannya padaku?. Kenapa kau bersikap seperti ini?." Tanyanya dengan buliran air mata yang membasahi kedua pipi tirusnya.


"Karena aku mencintai mu, aku melakukannya agar kau sadar betapa buruknya pria yang telah lama menyukaimu ini namun ia sendiri justru tak menyadari jika rasa itu jelas adanya." Terangnya sembari terus mengusap lelehan bening diwajah Mery.


Mata wanita itu bergerak mengamati rona diwajah Drew, ia tengah mencari pembenaran atas pernyataan yang baru saja ia dengar dari pria dihadapannya.


"Lalu kenapa kau selalu bertindak semaumu dengan menyakiti ku?. Apa kau pikir aku bukan manusia?."


"Aku baru saja mengatakannya jika aku tidak pernah menyadari hal itu, aku selalu menyangkal jika perasaan ini jelas memilih mu."


"Kau adalah pria jahat Trainor!. Kau adalah pria paling tidak berguna yang pernah aku temui. Pergilah dari ku!." Dalam tangisnya, Mery terus memukuli pundak Drew yang tengah berjongkok dihadapannya sembari memegangi sisi kursi roda wanita itu dengan kuat.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, tidak akan pernah. Sampai kapan pun, bahkan jika malaikat akan mencabut nyawaku sekalipun aku tetap akan menunggu mu."


"Untuk apa?. Aku bahkan tidak melihat mu seperti manusia!." Bentaknya diantara derai air matanya yang mengalir semakin deras.


"Karena kau istri ku."


"Kau wanita ku, sampai kapan pun."


Mery perlahan menghentikan tangisnya setelah mendengar ucapan Drew yang meyakinkan dirinya jika pria itu masihlah berstatus sebagai suaminya.


"Apa maksud mu mengatakannya?."


"Aku tidak pernah mengabulkan permintaan sepihak mu yang dulu kau ajukan untuk mengakhiri pernikahan sandiwara kita."


"Kau _


"Aku sudah membuang kertas tidak berguna itu sebelum pergi untuk menemui mu malam itu."


"Kenapa kau sejahat itu?. Padahal aku sudah sangat senang dengan menjadi janda."


"Karena aku tidak ingin membuat mu hidup menjadi tenang dan bahagia tanpa ku." Jawabnya dengan senyum nakal.


"Kau gila!."


"Ya, aku gila. aku gila karena telah menyia-nyiakan mu."


"Bukankah kau mencari ku karena sudah jatuh miskin?!." Mery mendelik tak percaya saat pria dihadapannya memasang wajah so cool untuknya.


"Tapi aku tidak merasa begitu."


"Pembohong."


"Karena memang aku tidak memiliki harta itu sepeserpun sejak awal, aku hanya berusaha menikmatinya dengan cara ku." Drew terkekeh dengan penjelasaanya.


"Tapi sejak mengenal mu aku jadi memiliki warna dalam hidupku. Aku bahkan hampir memilikinya jika saja kedatangan ku tak terlambat saat itu." Lanjutnya dengan senyum kecut.


Wajah Mery seketika berubah murung. Ia sadar akan kejadian yang menyebabkannya putus asa dan berakhir dengan usahanya untuk mengkahiri hidupnya sendiri.


Drew yang dikatai demikian semakin memiringkan kepalanya sebagai isyarat jika pria itu tidak mengerti dengan maksud dari kalimat yang diucapan Mery kepadanya.


"Petani?."


"Bibit yang kau tebar tidak tumbuh dengan baik."


Seketika pria itu menaikan kedua alisnya. "Apa benar begitu?."


Mery mengangguk sebagai jawaban.


"Ia ditakdirkan untuk tidak bertunas karena kau menanamnya secara paksa."


Pria itu masih dalam mode lambat.


"Dokter yang memeriksa ku mengatakan jika benih yang kau tanam benar tumbuh namun hanya berupa kantung tidak dengan isinya dan ia meminta ku untuk mengeluarkannya sesegera mungkin."


Drew akhirnya mengerti penyebab Mery meminum pil penggugur itu namun tidak dengan rencana wanita itu yang berusaha mengakhiri hidupnya.


"Lalu kenapa kau berusaha menutup matamu disaat seseorang ingin terus melihat mu bahagia?." Tanyanya dengan rasa penasaran.


"Karena kau. Aku membeci mu mr. Trainor, kau G* sialan yang menikahi ku karena harta lalu memperk*** seseorang yang telah berbaik hati menampung pria tak tahu diri seperti mu."


"Aku ... menyesalinya, maaf.".


"Dasar G** sialan!."


"Malam itu kau membuat rasa cemburuku meledak begitu saja terlebih saat aku bertanya tentang siapa pria yang telah berani mencium mu didepan ku."


Mery tertawa sumbang mendengar penuturan Drew yang menurutnya mengada-ada. "Kami hanya berteman dan dia menyukai ku tapi tidak dengan perasaan ku kepadanya." jelasnya sembari mengusap sisa lelehan air matanya yang membekas dipipi.


"Hanya teman dan dia berani mencium mu?."


"Lalu bagaimana dengan mu?." Balasnya tak kalah ketus. "Kau sendiri iri dengan seorang pria yang telah menemukan cintanya?." Mery terkekeh mengejek kekalahan Drew dalam merebut perhatian William dari Hanna.


"STOP!. Baiklah aku mengaku kalah dan kau yang menang." Drew lantas berdiri untuk menyudahi perdebatan mereka yang jelas tidak akan ada akhirnya jika ia terus membalas ucapan wanita itu.


"Ayo kita kedalam disini tidak bebas bergerak." Ucapnya sembari mendorong kursi roda Mery kembali memasuki rumah sakit.


"Apa maksud mu?. Bukankah diluar terasa lebih segar dengan angin alami."


"Diluar aku jadi tidak bisa merab* tub*h mu sayang." Bisiknya sembari terus melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat dan itu membuat Mery kembali merasakan deguban jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya bertahta.


"Berhenti kau pria sialan!. Aku tidak merasa bersuamikan seorang G* yang suka cemburu dan bisa memperk***!!!." Umpatnya begitu keras hingga membuat seisi lorong yang mereka lalui seketika menoleh karena suara berisik yang mereka timbulkan.


*******


*******


Seperti merpati yang setia dengan pasangan mereka, dua sejoli lain juga tengah bermesraan layaknya abg labil yang gemar mengumbar cinta.


"Willi bergeserlah sedikit, kau menyisakan ku tempat yang hanya muat untuk satu orang sedangkan aku membawa dua tubuh." Hanna begitu kesal dengan tingkah si bule yang sengaja memberinya tempat sempit untuk menjauhkannya dari segerombolan abege yang juga duduk ditempat itu untuk menikmati sate dipinggir jalan, tepatnya adalah diseberang gedung Gtech miliknya berdiri.


"Aku tidak ingin mereka mendekati mu." Alasan yang cukup mengejutkan dan membuat Hanna seketika melongo bak sapi ompong.


Tentu saja!. Bagaimana bisa pria itu berfikiran jika ada yang akan mendekati dirinya, wanita hamil dengan bentuk yang yah begitulah yang bahkan tempat duduk saja harus memakan jatah untuk dua orang.


"Kau serius dengan ucapan mu?." Hanna sampai mengangkat kedua alisnya. "Mereka bahkan tidak sudi untuk sekedar melirik ku Willi, ah ini benar-benar gila." Kesalnya disertai decakan yang membuat Willi tersenyum sembari menggeser posisinya sedikit lebih banyak untuk Hanna duduki.


.


.


.


tbc


otor : dikit dulu ya pemirsah!. Besok otor sambung lagi,🐛 otornya kebelet ya ampun 🐴