
☆☆☆
William menarik lengan Hanna saat dirasa wanita yang baru saja menyandang status sebagai istrinya itu akan melakukan sesuatu yang mencurigakan dimalam pengantin mereka.
Willi tidak sebodoh itu untuk bisa ditipu. Ia sudah lebih dulu mempelajari momen-momen pertama dalam pernikahan melalui laman internet. Dimana kebanyakan para wanita akan merasa takut dengan pasangannya sendiri jika ia merupakan wanita yang 'bersih'.
"Aku tidak akan membiarkan malam kita terlewat begitu saja dengan trik dan intrik yang akan kau gunakan untuk menggagalkan rencana ku nona!." Dengan semangat enam sembilan si bule mengutarakan apa yang menjadi pikirannya saat melihat gerak-gerik aneh dari sang istri.
"Memangnya apa yang sedang aku rencanakan?." Hanna balik mengumpan.
"Kau ingin kabur dari ku bukan?."
"Untuk apa?. Kabur pun kurasa juga percuma karena kau tetap harus menunggu waktu tiga minggu."
"Cerdas!." William menjentikan jarinya.
Setibanya dikamar situasi seketika berubah panas saat Hanna baru saja berbalik setelah mengunci pintu kamar mereka.
Seperti apa yang dikatakan pria itu jika dia begitu penasaran dengan mahluk bernama wanita.
William mengungkung tubuh Hanna diantara daun pintu yang tertutup dan dalam hitungan detik pria itu langsung menyambar umpan manis yang begitu ingin ia rasakan sepuasnya. Meski pernah mencicipinya tak lantas hal itu membuat Willi merasa puas lantaran ia melakukannya dalam waktu yang sangat-sangat singkat dan pastinya mendapat siksaan atau caci-maki setelahnya.
*****
Kemeja putih yang Willi kenakan terasa begitu sesak dan membuat hawa ditubuhnya meningkat drastis sejalan dengan ritme kerja jantungnya yang terus bertambah. Sepertinya pria itu memang tak sabaran untuk menikmati madu murni miliknya.
Selayaknya ikan yang mendapatkan kembali asupan oksigennya. Hanna benar-benar dibuat bungkam oleh William. pria itu begitu gencar melakukan serangan bertubi-tubi hingga membuat sang lawan yang adalah seorang pemula tak sanggup untuk sekedar memaki seperti yang biasa dilakukannya.
Namun tetiba William menghentikan aksinya secara spontan. Pria itu terduduk lemas dibawah kaki sang wanita sembari terus meremas pinggul Hanna yang sejak semula menjadi tambatan tangannya.
sssssssssssshhh aaaaahhhhhhh .......
"Kau sakit?." Dengan polosnya Hanna justru menanyakan hal yang seharusnya bisa ia mengerti.
Desisan itu terdengar begitu jelas hingga membuat si wanita ikut berjongkok sembari mengusap pelan pundak sang suami saat dirasa nafas pria itu sedikit membruru.
"Apa masih sakit?." Lagi pertanyaan itu diajukan olehnya. "Berpeganglah, aku akan membantumu berdiri." Wajah Hanna nampak begitu hawatir akan kesehatan William namun tidak demikian dengan apa yang dirasakan oleh pria itu. Ingin sekali dirinya menertawakan tingkah sang istri yang begitu awam.
"Lutut ku tiba-tiba terasa lemas." Willi menggigit sedikit bibir bawahnya untuk meredam rasa geli yang menjalari perutnya akibat menahan tawa.
"Lemas?. Apa mungkin pengaruh obat luka yang kau minum?."
Entah mengapa sangat menarik saat bisa mengerjai si cantik nan pintar namun tak peka dengan hal-hal berbau erotis seperti yang baru saja terjadi.
"Sebentar aku akan menghubungi dr. Malik untuk memastikannya."
"Tidak usah!." Secepat kilat Willi menahan pergelangan tangan Hanna untuk mencegah wanita itu mengetahui kebenarannya. "Aku bisa berdiri setelah cukup istirahat." Jelasnya.
Beruntung celana yang dikenakannya berbahan tebal dan berwarna gelap sehingga tak mungkin menampakan kebocoran yang terjadi karena itu akan sangat memalukan dan menjatuhkan harga dirinya yang bergelar 'mantan'.
Hanna meninggalkan William yang masih terpaku pada tempatnya. Wanita itu berjalan memasuki ruangan dimana terdapat kamar mandi yang menyatu dengan walk in closet didalamnya.
Tepat saat pintu itu tertutup William dengan sigap berdiri untuk melepas semua penutup tubuh dan juga aksesoris yang dikenakannya lalu menggantinya dengan selembar handuk putih bertuliskan Villa tempat mereka menginap.
"Arrgh ... holy ****!." Geram Willi sembari menyugar rambutnya dengan kedua tangan.
"Bagaimana bisa selemah ini!?. Yang bahkan belum skin to skin dengan miliknya!!."
"Apa karena terlalu lama tidak ku gunakan?. Atau karena pikiran ku yang terlalu liar?." Batinnya tengah berperang tentang kebodohannya sendiri.
William nampak frustasi dengan insiden kebocoran yang baru saja terjadi tanpa pernah ia duga sebelumnya.
▪▪▪▪▪
Tak butuh waktu lama untuk Hanna berada dikamar mandi. Wanita itu keluar dengan mengenakan piyama lengan panjang bermotif katak hijau dengan mata besarnya yang terus terbuka, terlihat lucu.
"Berapa umur mu?." Tanya William sembari terus mengamati gerak tubuh sang objek.
"Kau pasti akan mengatai piyama ku yang terlihat kekanakan!." Tebakan si wanita tepat sekali dan membuat William tak kuasa untuk terus menahan tawanya.
"Kau butuh sesuatu?." Pertanyaan Hanna seketika mendapat anggukan yang tampak begitu pasti, pasti mengecoh.
William menarik pergelangan tangannya untuk kemudian mendudukan sang wanita diatas pangkuan.
"Jangan seperti ini." Hanna berusaha mengelak.
"Kenapa?. Aku ingin melakukannya."
"Bukankah lutut mu masih terasa lemas dan lagi waktu tiga minggu itu?."
Pria itu seketika ingin menjerit saat sang istri kembali mengingatkannya akan hal itu. *hahahaha ..... oh William bodoh sekali dirimu.*
"Berikan aku ciuman untuk menyembuhkannya."
"Tadi kau sudah melakukannya dan berakhir seperti ini."
Hanna tengah menyangsikan si pria dengan kejadian yang mereka lakukan dipintu beberapa saat lalu.
"Tadi aku terlalu terburu-buru melakukannya dan sekarang akan ku coba dengan perlahan." Pria itu merayu demi sesuatu yang belum dapat ia pahami.
Hanna lantas memutar tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan si tampan yang kerap kali menipunya.
Pertama kalinya berada dipangkuan seorang pria tak lantas membuatnya merasa gugup oleh sebab terlalu seringnya ia mendapatkan perlakuan tak senonoh dari pria itu sendiri.
William mendekatkan wajahnya untuk kembali menyesap madu miliknya dengan posisi Hanna yang berada sedikit lebih tinggi dari dirinya. 'Lembut' Satu kata untuk menggambarkan bagaimana rasa si manis yang begitu nikmat untuk terus dicicipi.
Begitupun Hanna yang secara naluri menggerakan jemarinya untuk meremas rambut tebal sang suami disela-sela kegiatan penas mereka.
Hanya saja hal itu kembali terjadi untuk kali kedua tepat saat Willi memindah trek petualangannya menuju puncak everest. Namun kali ini bukan kesalahannya melainkan nuklir itu sendiri yang terlalu terlena oleh rasa hangat ketika berada dalam ruang sempit dan juga tekanan yang diterimanya terasa sedikit kuat hingga terjadilah BOOOMMM!.
"Apa yang terjadi?. Kau merasakanya lagi?." Hanna seketika berpindah dari pangkuan Willi untuk kemudian beralih mengusap lulut pria tak tahu malu itu. "Lulut mu lemas?. Apa mungkin kau kekurangan kalsium selama ini?."
Hanna yang masih tak mengerti terus berasumsi tentang apa yang menjadi alasan dibalik lemasnya lutut si bule.
Beruntung bukan skin to skin sehingga Willi bisa meredam rasa malunya didalam hati karena kebodohan yang terjadi sampai dua kali.
☆☆☆☆
♧♧♧♧♧
Sementara itu,
Drew menghentikan sebuah taksi dan kemudian memberikan sebuah alamat kepada sang supir untuk dapat mengantarkannya ke tempat yang dimaksud dengan biaya sedikit lebih mahal.
dengan waktu tempuh sekitar satu jam akhirnya pria itu tiba di lokasi yang dituju. Jajaran gedung - gedung tua apartemen berdiri dengan kokohnya.
Diluar tampak begitu gelap dengan lalu lalang kendaraan yang sangat minim.
"Apa benar wanita itu menyewa tempat disini?. Tidak kah ini terlalu mengerikan?." Gumamnya saat menyebrangi salah satu diantara empat zebracross yang ada.
Namun naas, dirinya yang baru saja menginjakan kaki di daerah itu jelas tidak mengenali bagaimana situasi yang ada disekitarnya.
Tiga orang pria menghadang langkahnya saat akan menapaki tangga disebuah gang sempit.
Drew yang awam hanya diam tanpa niat untuk kabur ataupun bersembunyi karena yang ia tahu adalah mereka sedang dalam pengaruh alkohol dari bau menyengat yang menguar dari tubuh mereka.
.
.
.
tbc.
Kata otor, "Terimakasih buat yang udah setia membaca cerita SVMe sampai pada tahap ini. Terimakasih buat yang setia memberikan jempol dan juga komentarnya. Otor sangat terhura mamaaak 😭."