SAVE ME

SAVE ME
YOU



♧●♧●♧


Satu kecupan mendarat tepat dipipi Hanna, membuatnya begitu syok dengan wajah putih miliknya yang seketika merona hingga ketelinga. "I got you." Bisik Willi tepat setelahnya.


"Hei!." Hanna mendelik saat melihat wajah Willi yang terlihat sangat cuek setelah memberinya kecupan. "Dasar pencuri!."


Dengan kesal ia melangkah keluar dari elevator yang terbuka setelah memberinya satu pukulan kasar menggunakan tas kulit buayanya dan Willi sebagai satu-satunya tersangka yang masih setia menatapnya dengan dua alis terangkat serta senyum tipis tersungging disudut bibirnya.


Beruntung lantai itu masih sepi karena penduduk yang biasanya datang pertama hari ini sedang ijin sehingga Hanna dapat dengan bebas mengumpat, tepatnya meracau tidak jelas setelah apa yang dilakukan oleh pria berwajah bule tadi.


"Pria gila!." Ia terus melafalkannya berulang kali sembari menyalakan monitor dihadapannya. "Bagaimana bisa dia melakukan itu?. Apa dia pikir aku boneka?. Sampai-sampai tak peduli jika aku marah!. aaarrgghhh...benar-benar membuat emosi!." Hanna menghentak-hentakkan kakinya dengan penuh kekesalan.


"Sial, ini sungguh berbahaya. Bagaimana jika hati ini sampai terpikat dengan pria bodoh itu?." Ia meletakkan kepalanya diatas meja sembari berdenging dengan suara tangisannya yang justru terdengar seperti seekor nyamuk namun ia harus kembali terkejut lantaran seseorang tiba-tiba memukulnya dengan sebuah map tepat mengenai bahunya.


"Kenapa sih pagi-pagi udah ngedrama?." Tanya Mega yang baru saja hendak mendatangi ruangan Damian dengan sebuah map tebal yang berada dalam dekapannya.


"Kaget loh aku mbak. Berasa kejatuhan nangka."


"Lah abisnya bikin orang penasaran sih." Mega terkekeh. "Eh, kamu udah lihat si bule belum?." Tanya Mega yang begitu penasaran dengan tanggapan Hanna mengenai pria tampan idaman para wanita sekantor tersebut.


"Bule apa?." Sengaja Hanna berloading ria untuk mengetahui lebih dulu siapakah yang dimaksud oleh Mega si ratu gosip.


"Mr. William lah, siapa lagi?. Emang ada bule lain disini?."


Wow, ingin sekali Hanna tertawa sekaligus mengumpat kesal mengingat kelakuan Willi, si bule yang kini menjadi tak tahu malu itu.


"Mr. William?. Emang ketemu dimana?." Tanyanya polos. Pasalnya ia baru saja bersama pria itu dan tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Omaygat Hanna, kamu benar-benar keterlaluan. Emang tadi kamu masuk kantor pake jalur tikus apa?. Sampai-sampai melewatkan momen terbaik pagi ini?." Mega menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Semua pada melek tahu dan langsung merapat pas lihat tu bule mau masuk lift."


"Jujur aku kurang tertarik." Jawabnya santai dan membuat wajah Mega semakin tak percaya karenanya.


"Kamu tahu gak kalo semua cewek pada gerah lihat pesonanya?."


"Ha?. Seriusan?."


"Jelaskan, buat apa aku bergurau tentang manusia tampan itu?."


"Dih, enggak deh mbak, buat mbak Mega aja. Aku cari yang lain entar."


Mega seketika terbahak karena ucapan Hanna yang seolah menawarinya barang bekas. Bahkan jika sekalipun bekas juga Mega tidak akan menolaknya karena rasanya pasti lebih menggila dari pada produk lokal.


"Dih, mikir apa sih mbak ini. Jangan ngomongin gituan ah, geli aku. Otak ku jadi ikut gak suci nanti."


"Heleh, nggak usah disuciin. Rugi!. Paling juga sebentar kotor lagi." Mega berlalu sembari tertawa meninggalkan Hanna dengan pikirannya yang mulai terkontaminasi.


"Gendeng!."


******


Ruangan abu-abu milik pria bule itu sama dinginnya dengan wajah tampannya yang kini terlihat fokus dengan laporan tiga orang pria dihadapannya.


Mereka yang duduk dalam satu ruangan dengan Willi seakan ingin melakukan bungee jumping untuk meneriakan semua kekesalan mereka selama berada dalam satu ruangan bersama pria itu.


Berbahasa asing dengan bule adalah hal yang paling tidak disukai oleh mereka karena terasa sangat rumit dan terkesan kurang jelas. Sejatinya mereka tak mengetahui kebenaran dibalik wajah bule yang ditampilkan oleh Willi.


Ingin sekali ia tertawa jika terus memerhatikan wajah-wajah mereka yang harus menggunakan bahasa formal untuknya.


Setelah kepergian para kepala subbidang pintu ruangannya kembali terbuka dan memperlihatkan wajah Steven dengan Drew yang mengekor dibelakangnya.


"Tidak adakah posisi yang lebih baik dari itu?. Setidaknya yang sesuai dengan wajah ku."


"Haruskah aku merusak wajah mu dulu agar mulut mu berhenti membual?." Ucapan Willi benar-benar kasar dan dingin.


"Paling tidak kau bisa memberikan posisi manager untuk ku." Drew bersuara dengan lemah. "Bahkan Steven saja bisa menjadi Asisten untuk mu tetapi kau malah membuatku seperti kacung."


"Apa yang kau bisa selain membuat masalah?." Willi merapatkan kedua alisnya. "Kau bahkan tidak tahu caranya mengisi air dalam botol!."


Willi berdiri dari singgasananya kemudian berbalik menghadap dinding kaca yang berada tepat dibelakangnya untuk kembali menjernihkan indera pengelihatannya lantaran merasa terganggu setelah melihat keberadaan Drew yang jelas terasa berbeda saat ia menatapnya. Tidak menarik dan jelas bukan minatnya, kurang lebih begitu.


Drew, pria itu tersenyum. Smirk yang diperlihatkannya sarat akan sebuah kekecewaan juga rasa benci yang jelas tampak dari sorot matanya.


"Apa kau telah menemukan cinderela mu kembali?." Tanya Drew sedikit menghina.


"Tidak ada kisah cinderela dalam cerita hidup ku." Willi menjawabnya tanpa menoleh.


Sedangkan Steven yang berada di dekat mereka menjadi tak enak karena harus mendengar perdebatan keduanya.


"Bisa kau tinggalkan ruangan ini sebentar Mr. Steven?." Pinta Drew dengan mata yang mengarah ke punggung Willi.


"Baik."


"Berhenti!." Willi menghentikan langkah Steven hingga membuat pria berwajah oriental itu dibuat bingung dengan situasi yang ada.


"Kau pikir siapa bos mu?." Willi meliriknya sejenak dan Steven yang diberi pertanyaan hanya bisa berkedip tanpa berani menjawabnya.


"Baiklah, kau mencegahnya berarti kau dengan sengaja membiarkannya mengetahui siapa Gerald William yang sebenarnya." Ucap Drew dengan senyum liciknya.


Tak ada kata yang pantas untuk Steven ucapkan selain berdiam diri saat dua orang pria berbeda aura itu tengah beradu mulut. Menatap mereka juga bukanlah sesuatu yang baik karena pertengkaran sejatinya bukanlah konsumsi publik.


Perlahan tapi pasti Steven menggeser sedikit demi sedikit langkahnya untuk kembali duduk disofa hitam yang tersedia diruangan maskulin milik bosnya itu. Ingin rasanya ia memukul kepala dua pria berwajah asing yang tengah bersitegang dihadapannya agar lebih rileks dan ia bisa bersantai tanpa harus menahan nafas seperti yang terjadi saat ini.


"Pesonamu benar-benar mengagumkan William, aku yakin jika tadi yang muncul kepermukaan adalah diri mu semua orang disini tak akan bisa berpaling barang sesaat." Drew perlahan mendekati William.


Steven bisa memastikan jika hal tak baik akan terjadi setelah ini.


.


.


.


Tbc.


.


.


.


.


.


Tbc.