SAVE ME

SAVE ME
Gosip



◇☆◇


Willi mendekat perlahan dan langsung mendapat sambutan dari Megan berupa pelukan hangat berbalut kesedihan didalamnya. Wajah tua itu tidak bisa berpura-pura untuk tetap terlihat baik-baik saja.


"Apa dia akan meninggalkan ku juga?." Lirihnya sembari terus menggenggam tangan Corner yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.


"Dia pasti akan pulih." Hanya itu yang dapat Willi ucapkan untuk mengurangi rasa hawatir yang Megan hadapi.


Mengusap wajahnya lembut, Megan mengajak Willi untuk bersantai diluar agar tak melulu dirundung kesedihan saat menatap wajah Corner.


"Kita bicara diluar saja." Ucapnya pada Willi sembari mengusap lembut lengan sang kakak yang telah dipenuhi oleh keriput.





Sementara itu,


...


"Aku menemukan orang ini dalam kondisi yang tak bisa ku mengerti." Ucap Mery pada salah satu paramedis yang membantunya memindahkan Drew ke atas brangkar.


"Aku juga tidak bisa menghubungi pihak keamanan karena baterai ponsel ku habis, Jadi tanyakan saja padanya saat dia sadar nanti." Mery kemudian berlalu meninggalkan Drew dalam penanganan medis.


Ia dengan segera meninggalkan rumah sakit saat dirasa tak perlu lagi terlibat bersama pria itu lebih lama.


*****


Hanna membantu Mr. Peter menangani beberapa pasien dengan janji yang sudah mereka buat sebelumnya. Tak begitu berat masalah yang mereka hadapi pagi ini. Sekedar pendekatan emosional yang akan mereka lakukan bertahap seperti yang sudah-sudah.


Tibalah waktu istirahat, Hanna dikejutkan dengan sebuah panggilan video dari Mr. Love yang kini berada jauh darinya.


Hanna tak bisa menahan buliran halus yang mengalir tanpa permisi membasahi kedua pipinya saat panggilan itu menampilkan wajah tua Megan dan juga Corner yang tengah berbaring dengan mata terpejam.


📲"Selamat atas pernikahan kalian. Maaf, aku dan Corner tidak bisa hadir untuk menyaksikan momen bahagia kalian nanti." Megan meminta maaf dengan senyum hangat yang menghiasi wajahnya.


📲"Ku harap pernikahan kalian akan membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi banyak orang."


Willi hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun untuk menjawab ucapan Megan.


"Aku merindukan mu Ny. Megan, I miss u so bad." Dengan derai air mata Hanna berusaha menuntaskan kalimatnya.


📲"Maaf, aku tidak bermaksud membuat pengantin mu menangis William." Megan meminta maaf oleh sebab rasa prihatinnya saat melihat netra indah milik wanita muda itu terus mengucurkan air mata.


📲"I miss u honey, aku akan segera kembali." Willi mengakhiri panggilannya kemudian menatap dua wajah tua yang kini terlihat begitu menyesakkan dada seakan tak rela jika harus meninggalkan mereka begitu saja.


Pria itu bergegas menuju ruang administrasi untuk mengambil alih beban biaya perawatan Corner dan menjadikan dirinya sebagai penjamin untuk segala urusan finansial wanita tua itu.


*


*


*


Mery kembali ke apartemennya untuk mengemasi barang-barangnya yang tertinggal. Ia memutuskan pindah setelah menyelesaikan masalah dengan suami G* nya itu. Kini tak ada lagi yang perlu dirisaukan sembari menunggu tanda tangan Drew untuk pengesahan pemutus hubungan mereka.


Ponsel baru miliknya tampak berkilau, ia baru saja membelinya sepulang dari mengantarkan sang calon mantan sore tadi.


Mery memutuskan untuk menghubungi Hanna terlebih dahulu untuk memberitahukan kabar gembira yang tengah menggelayutinya.


📲Hallo?."


"Hanna!."


📲Mery?."


"Ya, ini aku. Aku baru saja mendapatkan ponsel baru ku dan kau adalah orang pertama yang aku hubungi."


Terdengar gelak tawa diujung sana karena perkataan Mery.


📲"Ada apa tetiba kau menghubungi ku?." Tanya Hanna


Mery begitu antusias menceritakan bagaimana pria bernama Drew Trainor itu mendapatkan karmanya.


📲"Tunggu!. Tadi kau bilang kau yang mengantarnya kerumah sakit?." Seolah Hanna menyadari akan adanya sesuatu,


"Ya, aku terpaksa melakukannya karena aku akan merasa berdosa jika tetap meninggikan ego ku disaat seseorang tengah membutuhkan pertolongan." Pada akhirnya Mery berkata sesuai dengan apa yang ia rasakan. Bukan cinta, melainkan rasa kemanusiaanlah yang membuat wanita itu mau mengesampingkan ego-nya.


"Hanna, jika kau bertemu William tolong sampaikan permintaan maaf ku karena telah membuatnya susah dan terlibat masalah."


📲Apa yang kau maksud?."


"Akulah orang yang telah memberikan rekaman itu kepada seseorang. Aku benar-benar minta maaf."


📲Kenapa kau sampai melakulannya Mery?."


"Semula aku hanya ingin memberikan Drew pelajaran. Tapi aku tidak tahu jika akan berdampak sampai begitu besar bagi William." Mery terdengar begitu menyesali perbuatannya.


📲Baiklah, aku akan mengatakannya kepada Willi. Setidaknya kau sudah mau mengakuinya meski tidak secara langsung."


"Terimakasih banyak Hanna, kau bersedia menolong ku meski perbuatanku tidak bisa dibenarkan."


📲"Sudahlah, semua juga sudah terjadi dan lagi William sangat membenci suami mu itu jadi sekuat apapun kebenarannya tetap tidak akan membuat keadaan berubah dan rasa itu hilang begitu saja."


"Tolong koreksi lagi ucapan mu karena dia bukan lagi suami ku."


📲"Haaah, kau tetap saja tidak mau mengakuinya meski hampir menjadi janda."


"Mulut mu jahat sekali nona, tapi lebih baik aku menjadi janda dari pada harus bersuamikan orang sepertinya. Kau tahu!, dia adalah orang yang paling tidak berguna yang pernah aku temui dengan predikat keburukan diatas angka 100. Ah satu lagi, aku tidak ingin menjadi istri dari seorang G* dimana hak milik ku dipertaruhkan, tidak kah kau merasa geli jika harus bersaing dengan banyak pria demi mempertahankan suami mu sendiri, itu lucu sekali." Mery terdengar begitu emosi saat mengatakan isi kepalanya.


Namun berbeda dengan apa yang Hanna pikirkan tentangnya. 'wanita itu seperti tidak menyadari jika ada rasa ketertarikan dalam dirinya meski hanya sebatas kekaguman layaknya wanita kepada pria tampan atau mungkin Mery dengan sengaja melakukannya karena rasa kecewanya kepada pria itu?. Entahlah, kita hanya bisa menebak'.


▪▪▪▪▪


"Hanna?." Natali merapatkan kursinya pada meja wanita itu kemudian berbisik, "Mr. William gak ada kesini lagi ya?."


"Lah, kenapa ibu malah nanya ke saya?. Mending tanya langsung sama sekretarisnya atau Steven."


"Malu lah, ya kali nanya gituan sama mereka. Mending nanya sama calon bininya." Sejenak Natali terkekeh, "Eh, yang dulu gosip kalo dia G* itu berarti bohong dong ya?."


"Ckk!. Udah dibilang tanya aja langsung sama yang bersangkutan." Hanna berdecak kesal lantaran Natali seperti tak bosannya menanyakan hal-hal yang membuatnya seketika menjadi gemas.


"Loh kan kamu yang paling bersangkutan sama doi!."


Hanna menatap Natali tanpa ekspresi,


"Kamu udah nyobain belum Na?."


"Nyoba apaan?." Alis wanita muda itu seketika bertaut.


"Nyoba bobo bareng dia lah, apalagi!."


"Dih!. Mbak Nat ni apaan sih mikirnya kejauhan!."


"Tapi kalo cium-cium udah pernah dong ya?."


"Ya ampuuuunnn ... Mbak Nat!!!."


"Oh kalo ngegas gini biasanya udah pernah." Dengan santainya wanita itu justru menarik kesimpulan yang membuat kepala Hanna berdenyut nyeri.


Tak lama Mega muncul diambang pintu ruangan mereka, melambaikan tangannya untuk mengajak keduanya makan bersama dikantin seperti biasa Namun Natali justru memanggilnya untuk masuk kedalam dan berbisik kepada si biang gosip jika,


"Dia udah pernah ngerasain bibirnya big boss!." Lirihnya sembari melirik kearah Hanna dengan tatapan jahil dan hal itu membuat Mega ber- HHAA!!! karena rasa terkejutnya yang membuat satu ruangan seketika menoleh kearah mereka sebagai pusat perhatian.


.


.


.


tbc...


Untuk readers Willme monmaap ya otornya mau holiday dulu bentar. Gak lama, dua hari aja. See u ... 💕🤗