
Esoknya,
Anak perempuan itu memandang kaca panjang di hadapannya. Nametag bertuliskan Arashi Griselda bergantung di depan dada kirinya. Sambil menggigit sebuah sisir kecil, tangannya terangkat ke belakang kepala. Ia sedang mengikat rambutnya. Setelah rapi, barulah ia keluar dan menghampiri Ibu serta Adiknya di meja makan.
Juni mengawali harinya dengan bersemangat. Ia membaca majalah yang entah didapatnya darimana. Sangat serius ia membaca buku tersebut, sampai sang Ibu harus memperingatinya untuk tidak melakukan dua hal di saat yang bersamaan.
Ada sebuah norma tak tertulis di keluarga Arashi, yaitu tidak boleh ada ponsel di meja makan. Jika ada, maka akan disebut tidak sopan. Karena itu, hanya media membaca cetak seperti majalah dan koran yang diperbolehkan.
“Baca apaan, sih, Juni?’ tanya Arashi sambil masih mengunyah makanannya.
“Majalah, Kak.’
“Seru?’
“Nggak. Hehehe.’
“Dapet darimana emang?’
Juni mengangkat bahu sambil masih terpaku pada benda tersebut. “Nggak tau. Kayaknya kemarin Ibu sekalian ke pasar. Nah, ini yang dipakai sama penjual itu buat bungkus cabai.’ Ia membalik potongan majalah tersebut.
“Hah? Seriusan?’ Arashi bangkit dan berjalan mengitari meja makan tersebut. Ikut membaca di balik punggung Juni.
Ternyata, hal yang dibaca Juni adalah topik mengenai hewan peliharaan. Yang dibahas disana adalah bagaimana merawat seekor rakun. Tanpa izin Arashi membalik kertas tersebut. Kali ini yang tertulis adalah topik mengenai bagaimana merawat seekor ikan cupang.
“Eh, yang bener aja ini. Masa ikan cupang?’ protes Arashi. “Juni serius banget lagi bacanya.’
“Udah, udah. Rash, makan itu makanannya. Besok Bunda kasih potongan majalah yang lebih seru lagi.’
“Yang tentang apa?’ keduanya berseru dengan bersemangat disaat yang bersamaan.
“Tentang gimana ngurusin klomang.’ Jawab Ibunda.
Tawa ketiganya pecah di meja makan tersebut. Arashi sampai tersendak karena masih tertawa saat hendak menyuapkan sesuap nasi.
Sementara di sisi yang lain, di rumah Edward yang minimalis, seorang remaja laki-laki yang sudah berseragam duduk bersantai di sofa. Di dalam pangkuannya, ada Yoo. Di kanan-kirinya pun ada kucing-kucing yang lain. Remaja laki-laki itu mengelus lembut peliharaan-peliharaannya sambil ditemani alunan musik melankolis dan lembut dari sebuah stereo. Edward tidak menggunakan pemutar digital, ia menggunakan piringan hitam untuk mendengarkan musik di pagi hari. Hal itu sangat ampuh untuk membuatnya kembali bersemangat, namun, ia hanya melakukan kegiatan tersebut jika ia ingat.
Sinar matahari sudah menerpa ruang tamunya sejak tadi dan ia pun sudah menghabiskan sarapannya. Yang sedang dilakukannya sekarang adalah mempersiapkan diri. Hari ini ia akan menceritakan semuanya kepada Arashi, jadi ia harus siap. Entah apa yang ia persiapkan. Hanya ada dirinya seorang di ruang tamu ini. Ibunya sedang beristirahat di dalam kamar. Belakangan ini Ibu Edward terlihat lebih lemas dari biasanya. Tidak hanya karena tidak bersemangat, tetapi juga karena efek obat yang diterimanya dari Psikiater. Edward mengetahui hal itu, jadi ia tidak begitu panic.
Setelah merasa cukup, Edward bangkit dan melangkah keluar. Bersiap menghadapi dunianya yang semoga saja tidak lebih buruk dari hari kemarin.
Di kamar Tiara, gadis itu sudah bangun dan masih bergelung dengan selimut serta ponselnya. Kemudian, tiba-tiba saja ia melompat di atas ranjangnya sambil berseru kegirangan. Ia berguling ke kanan dan ke kiri dengan pipi yang merona. Tentu saja, ini semua disebabkan oleh seseorang yang berada di dalam ponselnya.
Hal ini sudah sering terjadi di pagi hari, karena itu pula keluarganya yang lain tidak datang berlari ke kamarnya saat ia berteriak. Mereka sudah paham. Kekasihnya yang entah untuk alasan apa bersikap sama seperti Tiara. Memilih untuk tetap berbaring alih-alih bangun dan bersiap untuk pagi yang cerah dan hari yang baru ini.
Sementara Bunga, ah, Bunga masih berada di dalam kastil mimpinya. Ia enggan untuk bangun. Alarm sudah berbunyi berulang kali namun ia hanya bangun untuk mematikannya dan kembali tidur kemudian. Acapkali ia bangun lebih awal daripada alarmnya tersebut, tapi ia tidak beranjak dari kasurnya. Melainkan mengecek ponsel dan mematikan alarm yang akan berbunyi dalam kurun waktu lima menit kemudian. Setelah ia mematikannya, ia kembali tidur.
Walaupun setiap pagi ia seperti itu tapi ia tidak pernah terlambat karena lokasi sekolah yang tak begitu jauh dari rumahnya. Ditambah keberangkatannya yang menumpang di sepeda motor Tiara, membuatnya semakin tidak mempunyai celah untuk terlambat.
Padahal, orang yang sukses bangun lebih awal daripada kebanyakan orang. Begitu kata Aristoteles, bapak Filsafat.
Setiap orang memiliki dan mendapatkan pagi yang berbeda. Pun mereka mendapatkan malam yang berbeda. Setiap jiwa mendapatkan bintang yang berbeda, menjalani cerita yang berbeda-beda pula. Itu semua adalah sebuah film*. Tidak boleh diakhiri lebih cepat dan tidak boleh diperlambat. Mereka hanya bisa menyetop film tersebut dimana pun mereka mau, tetapi mereka tidak boleh menyudahi film mereka. Kisah mereka. Kisah gemerlap mereka masing-masing. Karena hal itu akan membuat film tersebut menjadi jauh dari kata sempurna, karena hal itu akan mengecewakan para pemain di belakang layar, dan karena itu akan mengecewakan sang sutradara.
Edward sampai lebih dulu dibanding Arashi. Ini adalah kedua kalinya ia pergi ke tempat ini. Pun ia datang untuk kedua kalinya untuk alasan yang sama, yaitu berbagi cerita dengan Arashi. Kali ini ia tidak memesan secangkir teh hangat karena cuaca tidak mendukungnya untuk memesankan minuman tersebut. Minuman yang cocok untuk diminum pada pagi hari adalah jus buah. Ia memesan jus buah tomat untuk dua orang dan menunggu di mejanya.
Tidak sampai sepuluh menit Edward menunggu. Kini mereka sudah duduk berhadapan dan Arashi sudah selesai mengomel tentang pesanan mereka. Ternyata Arashi tidak menyukai jus tomat, Edward lupa akan fakta itu. Namun untuk menghargai kekasihnya, Arashi tetap memaksakan diri untuk meminum minuman tersebut.
“Jadi gimana?’ adalah dua kata itu yang bagus untuk mengawali sebuah pembicaraan yang panjang.
“Sebenernya masih sama kayak cerita yang waktu itu. Bedanya cuman belum selesai aja.’
“Jadi aku belum bilang ke Ayah soal Ibu yang ke Psikiater. Malem setelah aku cerita ke kamu, aku mau cerita juga ke Ayah. Tapi yang aku lihat malah mereka bertengkar. Karena hal sepele, karena kesalah pahaman yang sedikit aneh,’ Edward menceritakan pertengkaran kedua orang tuanya di malam lampau sejauh yang diketahuinya.
Arashi diam dan terpaku pada kalimat demi kalimat yang Edward keluarkan. Ia baru saja menyadari kalau Edward menggunakan terminologi yang berbeda saat menggambarkan Ibundanya. Arashi tau laki-laki itu memanggil wanita itu dengan sebutan Mommy, namun ia menggunakan kata Ibu saat menceritakan kisah ini. Bukan Mommy. Mungkinkah hal ini ada kaitannya dengan psikologis Edward?
Ah, mungkin dirinya saja yang terlalu paranoid dan overthinking dengan gagasan seperti itu.
“Waktu aku ke Psikiater, aku dapet banyak informasi. Salah satunya, sejak kapan Ibu punya penyakit mental dan obat aja yang disaranin psikiater. Aku juga dapat beberapa saran tentang apa yang harus aku lakuin. Salah satunya yang Psikiater itu bilang adalah, kasih tau Ayah. Aku nggak paham seberapa intens hubungan suami-istri. Kenapa Ayah harus tau? Gimana kalau ternyata Ayah penyebab dari penyakit Ibu? apa Ayah masih perlu tau tentang hal itu? Emang, apa yang bisa Ayah lakuin buat Ibu? Emang, apa yang bakal Ayah perbuat setelah tau tentang kondisi Ibu?’ protes Edward. Beberapa urat menjadi lebih tampak saat ia menggerutu. Tangannya mengepal. Ia menahan semua perasaan yang dibawa di pundaknya.
Belum sempat Arashi membuka mulut untuk menjawab, Edward sudah kembali melanjutkan perkataannya.
“Rash, aku nggak berguna, ya? Iya, kan? Kenapa aku sok tau soal Ayah sama Ibu. Padahal, mereka baik-baik aja sebelum aku lahir. Mereka baik-baik aja walaupun aku nggak ada. Kenapa aku sok berpengaruh? Dasar gak tau diri! Emang kamu siapa? Kamu udah tau tentang semuanya, tapi kamu tetep begitu, diam aja nggak ngambil tindakan apa-apa? Menurut kamu, kamu lebih baik dari Ayah? Hah, omong kosong. Mati aja sana. Gak berguna sama sekali! Dasar—‘ Edward sudah menangis sejak tadi dan Arashi menaruh jari telunjuknya di bibir Edward.
Memintanya untuk berhenti.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya Arashi bangkit dan melangkah mendekati laki-laki yang dicintainya. Kemudian, Arashi memeluk Edward. Mendekapnya dalam kehangatan yang tidak bisa disaingi oleh apapun. Membiarkan Edward menghirup aroma tubuhnya lebih dekat.
“Nggak,’ perempuan itu membelai lembut rambut seseorang yang dipeluknya.
“Nggak begitu, Ed. Siapa yang bilang kamu nggak berguna? Kamu yang terbaik. Berhenti mengumpati diri kamu sendiri. Sakit. Rasanya sakit.’ Arashi terisak menahan tangisnya. Kini mereka tidak lagi memedulikan pelanggan yang lain yang menontoni gerak-gerik mereka. Bahkan, mungkin saja ada seseorang yang dengan tidak sopannya mengambil gambar atau video. Tapi Arashi tidak peduli. Seseorang yang dikasihinya sedang tak baik-baik saja.
“Jangan nyesel karena udah lahir di dunia ini. Rasanya sakit. Berulang kali aku berdoa sama Tuhan, mengucap terima kasih karena udah dapetin kamu, karena Tuhan udah ngasih izin ke kamu buat lahir dan buat ketemu aku. Karena Tuhan udah bikin kamu bertahan hidup sampai di usia delapan belas tahun. Aku mohon. Jangan nyesel. Aku sakit.’ Ungkap Arashi. Dia menyadarinya, mungkin jawaban yang Arashi berikan sama sekali tidak menjawab apapun. Sama sekali tidak membereskan berbagai tanda tanya yang berserakan di dalam pikiran dan hati Edward. Namun, itulah yang ingin dikatakannya.
Jika bisa, perempuan itu akan menunjukkan seberapa berharga Edward di hidupnya. Ia ingin mengungkapkan semua yang dirasakannya selama ini, bahwa Arashi sudah tak lagi merasa kalau hubungan mereka membuang-buang waktu. Bahwa Arashi benar-benar bersyukur karena Edward sudah lahir dan benar-benar remuk saat Edward berkata mengapa ia harus lahir di dunia. Bahwa Arashi ingin Edward baik-baik saja dan bahwa ia tak ingin Edward pergi kemanapun. Tidak tanpa seizinnya.
Jika air mata terasa seasin dan sesakit ini, mengapa ia harus turut muncul kala kebahagiaan menimpa seseorang?
***
Edward, jika aku bisa menjelaskan dengan kata-kata seberapa penting dirimu di hidupku, maka akan kukatakan bahwa aku menemukan seseorang yang ingin aku masakkan masakan paling enak yang bisa kubuat. Bahwa aku menemukan seseorang yang ingin aku bangunkan setiap pagi. Aku tidak bisa masak dan selalu ingin tidur lebih, tapi aku akan berusaha. Karena itu, berusahalah juga. Untuk dirimu sendiri!
Tertanda, Arashi.
“Hm?’
“Kamu nggak seburuk apa yang kamu pikirin, jadi, hilangin pikiran-pikiran yang bilang kalo kamu itu buruk oke?’ intonasinya sangat lembut. Entah kata-kata apa yang harus ia keluarkan untuk menenangkan orang dengan keadaan seperti Edward. Untuk keberkian kalinya Arashi membatin bahwa ia tidak pernah berada di posisi Edward.
Tapi itu tidak akan menghalanginya, setidaknya, ia ingin menyemangati Edward dengan caranya sendiri. Membuat Edward lupa akan masalahnya dan berubah menjadi seseorang yang positif.
“Mau berangkat sekarang?’ beberapa menit telah berlalu sejak perkataan Arashi yang terakhir.
Laki-laki bermata sembab itu mengangguk. Mereka keluar dari tempat tersebut dan bersiap ke sekolah. Arashi mengusap sisa-sisa air mata di pipi dan di bawah kelopak mata Ed sambil tersenyum manis. “Kamu lucu kalo lagi nangis.’ Hiburnya.
Mereka sudah berpindah dari parkiran tempat makan ke parkiran yang ada di sekolah mereka. Arashi turun dan memerhatikan Edward untuk beberapa saat. Instingnya mengatakan ia merasa canggung. Memang, ini pertama kalinya Arashi melihat kekasihnya menangis. Sewaktu di perpustakaan, Arashi hanya melihat Edward berkaca-kaca dan frustasi. Kali ini ia sudah menangis. Apa yang harus ia lakukan untuk mengutarakan bahwa ia tidak akan mengejek Edward? Tidak—ia tidak akan mengejek Edward, setidaknya dalam waktu dekat ini.
“Rash, aku manja banget ke kamu, ya?’ ujarnya malu-malu.
“HAHAHAHA.’
“Nggak kok, Ed. Jangan khawatir.’
Edward tersenyum. “Bagus, deh. Kalo aku ngerepotin kamu, bilang, ya.’
“Asiyapp.’ Keduanya tertawa karena jawaban Arashi. sampai seseorang meneriakkan sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman.
“Woi. Pagi-pagi udah mesra aja.’ Cibir Tiara.
“Sst! Jangan kenceng-kenceng, Tiara. Entar yang lain dengar.’ Tukas Arashi.
“Tau, nih, Tiara sukanya kompor. Entar kalo udah kebakar aja kabur.’ Sambar Bunga.
“Tenang-tenang. Cengcengan kayak gini, mah, nggak cuman buat pasangan aja. Udah lumrah, biasa aja.’
“Ohh, contohnya kayak gini, ya. Tiara sama Bunga berangkat bareng, pulang bareng, ke kamar mandi bareng, mesra banget. Jangan-jangan kalian….’ Ujar Arashi, sewot.
“Eh, Rash, jangan kenceng-kenceng, dong! Ntar kalo yang lain denger, nggak bakal bisa punya cowok anak sini aku. Ya ‘kan, Bunga?’
Bunga menaikkan bahunya, “Nggak tau. Anak sini nggak ada yang ganteng. Kalo sama kakel, sih, percuma. Bentar lagi juga lulus, terus nanti putus karena fokus kuliah. Halah, basi.’
“Woooowwww. Bunga berpengalaman. Ngelebihin kita ternyata, Ra!’ seru Arashi.
“Iya, nih. Diam-diam menenggelamkan!’
“Diam-diam menghanyutkan, Tiara. Bukan menenggelamkan.’ Kata Edward turut membenarkan.
Kini semua mata tertuju pada lelaki itu. Laki-laki yang sedari tadi hanya diam membenarkan. Laki-laki yang pintar dan hangat. Lebih dari sepuluh detik mereka memerhatikan sampai membuat Edward salah tingkah.
Tiba-tiba, Arashi merangkul tangan Edward dan berkata, “Heh! Enak aja! Ini punyaku. Jangan dijadiin target!’ omelnya.
Dua makhluk tersebut tertawa. Ketiganya seakan saling mengerti dan bisa membaca apa yang ada di pikiran mereka satu sama lain. Arashi paham betul bahwa dua sahabatnya kini sedang memikirkan apakah Edward cocok untuk dijadikan kandidat. Karena itu, ia menegaskan mereka bahwa laki-laki itu adalah miliknya.
Tiara dan Bunga cukup cantik untuk dapat memikat laki-laki yang sepantar dengan keduanya. Bunga pun, jika saja ia mau maka pasti ia memiliki seorang kekasih. Namun ia tidak mau. Ia sangat nyaman dengan dirinya sendiri. Pernah satu kali mereka membicarakan tentang siapa diantara mereka yang akan menikah lebih dulu. Tiara lah yang menjadi kandidat nomor satu. Baru kemudian disusul oleh Bunga atau Tiara. Tetapi kini berubah, mungkin Sari akan menjadi yang nomor dua. Ia yang paling cantik diantara mereka berempat. Lain cerita jika ia mendaftar kepada instansi angkatan darat atau udara. Ia mungkin akan menjadi yang terakhir.
Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, Pak Dirga lebih dulu mengumumkan suatu hal yang membuat kebanyakan muridnya berteriak kegirangan.
“Oke, anak-anak. Ada yang tau seminggu lagi itu hari apa?’ tanyanya.
“Hari Sabtu, Pak!’ jawab salah seorang Murid.
“Semua juga tau itu mah, Reza. Maksudnya, ada perayaan apa. Ada yang tau?’
Mereka nampak berbisik-bisik sebelum seseorang menjawab dengan lantang.
“Hari Pramuka sedunia!’
“Ya, benar, hari Pramuka sedunia!’
“Farhan, mah, emang tiap hari juga mantengin kalendar mulu. Nunggu-nunggu tanggal merah, makanya hafal!’ kata salah seorang yang lain.
Seisi kelas tertawa karena jawaban itu.
“Oke-oke, tenang. Jadi, karena seminggu lagi ada hari Pramuka sedunia, sekolah kita bakal ikut serta di Jambore kabupaten. Kita bakal kamping di kaki gunung selama dua hari satu malam.’ Sorak sorai para Murid terdengar bersahut-sahutan. Beberapa dari mereka juga memukul-mukul meja dan bangku, ada juga sebagian kecil yang memilih memukul teman mereka karena terlalu sayang kepada meja tersebut.
Sementara sebagian yang lain, hanya mendesah penuh penderitaan karena kini hari libur mereka justru dipakai untuk kegiatan sekolah. Edward adalah bagian dari organisasi yang disebutkan terakhir. Ia mendesah dan mengalihkan pandangannya kala mendengar pengumuman tersebut.
“Dengerin Bapak dulu! Pesertanya nggak Cuma dari sekolah ini, dari sekolah lain juga ikut. Jadi nanti bakal banyak banget yang ikut dan pastinya bakal seru. Kalian semua wajib ikut, ya. Ini bisa buat nambah nilai rapot kalian.’
“Terutama Farhan. Harus ikut, ya, Han!’ Pak Dirga membuat intonasi suara yang tak biasa. Intonasi yang mampu membuat orang-orang yang mendengar merasa tidak tega untuk menolaknya. Mungkin intonasi semacam ini juga yang dipakai olehya kala melamar sang istri.
“Iya, Pak.’ Jawab Farhan tidak bersemangat.
“Oke, untuk info lebih lanjutnya bakal dikasih tau lewat grup. Jadi sekarang kita mulai saja pelajarannya. Kumpulin Pekerjaan Rumah hari Kamis lalu.’ Titahnya.
Tidak ada yang mendengarkan.
Semua siswa dan siswi saling berbisik-bisik dengan temannya membicarakan perihal kamping minggu depan. Itulah mengapa awalnya wali kelas itu berpikir untuk memberitahu sekumpulan itik ini setelah pelajar selesai. Karena inilah yang akan terjadi.
Sementara itu Edward dan Arashi justru berpikir bahwa pengumuman ini terlalu lambat. Kamping bukanlah renang yang dapat dipersiapkan dengan cepat. Karena itu, seharusnya acara kamping ini diumumkan jauh lebih awal. Agar persiapan mereka matang.
“Anak-anak! Bapak bilang buka PR yang Bapak kasih hari Kamis lalu!’ Mereka mendengarkan dan segera membuka buku yang dimaksud. Walau begitu, pikiran dan angan-angan murid-murid tersebut jauh pergi ke kaki gunung. Dengan udara yang sejuk tanpa polusi dan suhu yang menusuk tulang saat malam mulai menyambut. Tempat dimana mereka akan mendirikan tenda, bernyanyi bersama sambil duduk mengelilingi api unggun dan bermain jurit malam di waktu subuh. Pasti menyenangkan, mungkin.
Tetap saja, mereka tidak tau apa yang akan terjadi saat hari H sudah datang. Murid dari sekolah lain akan datang juga, ini merupakan suatu ancaman bagi sebagain peserta serta keuntungan bagi sebagian yang lain. Namun Arashi, ia tidak memikirkan apapun mengenai kamping ini. Tidak sedikitpun. Ini hanya akan seperti kamping pada umumnya, tidak akan yang beda. Itulah isi pikirannya.
Tenang tanpa tau apa yang akan terjadi kemudian.
---------------
* Potongan dari lirik lagu Reflection milik RM, BTS.