
Azka dan Adelina langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu karena sudah diberi tahu oleh Bunda Wiwi bahwa Fabian tengah beristirahat di lantai atas dan tidak ada orang lain di rumah.
Ceklek
Pintu kamar Fabian di buka oleh Azka tanpa permisi. Fabian yang tengah memainkan PlayStation pun langsung menoleh ke arah pintu di mana sepupunya tengah berdiri.
"Oh kau rupanya, apa Bunda yang menyuruh mu?." Tanya Fabian yang melihat pintu masih setengah tertutup.
"Oh..., sepupu ku yang malang. Bagaimana bisa kau ceroboh seperti itu?." Kata Azka sedikit berteriak dramatis dan langsung menghampiri Fabian yang masih duduk di ranjang.
"Ayolah, kenapa kau jadi seheboh Bunda." Kata Fabian.
Azka diam tak menjawab dan malah langsung merebut stik PlayStation yang ada di tangan Fabian dan mematikannya.
"Hei apa yang kau lakukan!." Omel Fabian yang tak digubris oleh Azka.
"Sepupu apakah masih sakit?." Kata Azka dengan sedikit berteriak dan mengedipkan sebelah matanya lalu menoleh ke arah pintu.
"Ada Adelina, bersikaplah yang seharusnya." Bisik Azka lirih di telinga Fabian.
Fabian gelagapan. "Ah..., sepupu ku!. Untung saja ada kau di sini, jika tidak bagaimana nasib ku ke depannya." Kini giliran Fabian yang berbicara dengan sedikit berteriak.
"Oh tuhan. Adelina, masuklah ke mari." Titah Azka kepada Adelina yang masih ada di balik pintu.
"Cepat gunakan selimut mu!." Titah Azka yang langsung diangguki Fabian.
Fabian langsung merebahkan dirinya dan membungkus tubuhnya dengan selimut seperti apa yang Azka katakan.
Tap
Tap
Tap
Adelina melangkahkan kakinya perlahan agar tidak menimbulkan suara dan menggangu istirahat Fabian.
"Adelina, kau juga di sini rupanya. Maaf aku tidak bisa menyambut kedatangan mu dan Azka." Kata Fabian yang berusaha bangkit untuk duduk.
"Jangan bergerak Pak, maaf telah mengganggu waktu istirahat Anda." Ucap Adelina yang mencegah Fabian bangkit dari tidurnya.
"Em, maaf jika karena kemarin Anda jadi seperti ini." Kata Adelina meminta maaf.
"Oh astaga sepupu, aku akan mengambilkan air. Kau jagalah sepupu sebentar." Titah Azka yang langsung diangguki oleh Adelina.
Azka melenggang meninggalkan mereka berdua.
"Ck, memangnya sejak kapan dia sakit demam dan batuk. Sandiwaranya sungguh buruk." Kata Azka yang mengomentari Fabian setelah berada di luar kamar.
Kembali ke dalam kamar di mana hanya ada Fabian dan Adelina.
"Apa seperti ini sudah nyaman?." Tanya Adelina yang membantu Fabian duduk bersandar.
Fabian mengangguk. "Terimakasih atas bantuannya, maaf aku jadi merepotkan mu." Ucap Fabian tak enak hati.
Adelina menggeleng. "Tidak Pak, jangan berterimakasih seperti itu. Ini sudah menjadi tanggungjawab saya." Jawab Adelina.
"Em, bisakah jangan terlalu formal jika kita hanya sedang berdua?" Tawar Fabian.
"Tapi Anda atasan saya." Jawab Adelina.
"Ayolah, ini bukan kantor kan?." Tanya Fabian yang diangguki oleh Adelina.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Adelina pasrah.
Waktu terus berlalu, sepuluh menit sudah mereka lewatkan. Bahkan Azka yang berpamitan pergi untuk mengambil air tidak kunjung datang kembali.
"Em.., Bian. Kenapa Pak Azka belum kembali?, apa perlu aku mengambil air untuk mu?." Tawar Adelina yang sedari tadi duduk gelisah di sofa.
Fabian tersenyum mendapati panggilan baru Adelina. "Tidak perlu, lagi pula aku sudah tidak haus." Jawab Fabian yang mencegah Adelina agar tidak pergi kemanapun.
Adelina mengangguk.
"Adel, bisa kah kau duduk di sini. Aku merasa kedinginan." Ujar Fabian yang meminta Adelina untuk mendekat ke arahnya.
Adelina sedikit canggung dan ragu. "Apa tidak apa-apa?." Tanya Adelina memastikan.
"Ayolah, bukan kah tadi kau bilang akan bertanggungjawab?." Tanya Fabian yang akhirnya membuat Adelina dengan sedikit terpaksa mendekat ke arahnya.
Adelina duduk di tepi ranjang sedang Fabian masih pada posisinya yang duduk bersandar.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂