Red Pen

Red Pen
Kesempatan Terakhir



Pantai menjadi pilihan bagi Alister untuk kali pertamanya menghabiskan akhir pekan dengan isteri dan anaknya.


Setelahnya memarkirkan mobilnya, Alister membuka pintu membiarkan Steven keluar terlebih dahulu baru setelah itu membukakan pintu depan di mana Adelina berada di kursi samping kemudi.


"Wah...!, Mommy apakah ini benar-benar nyata?." Tanya Steve antusias.


Meskipun terkadang pemikirannya cukup sedikit lebih dewasa dari pada anak seusianya dia masih tetaplah seorang anak kecil bukan. Steven mengedarkan pandangannya, sungguh dia sangat suka.


Adelina dan Alister saling pandang lalu tersenyum melihat Steve yang begitu bahagia.


"Tentu saja ini nyata. Apa kau suka?." Jawab Alister yang kemudian bertanya.


Steven mengangguk. "Aku sangat senang, ini pertama kalinya aku ke pantai. Apa di sana banyak ikan seperti di film?." Tanya Steven yang semakin membuat Alister gemas dengan putranya itu.


"Wah...wah..., apa Mommy mu tidak pernah mengajakmu ke pantai?." Ledek Alister yang membuat Steven menatap Adelina sekilas.


"Tidak, bukan seperti itu. Mommy hanya akan memberikan yang terbaik untuk ku. Bukan kah begitu Mom." Jawab Steve yang membela sang Mommy.


Adelina tersenyum. "Baiklah, lain kali Mommy akan sering mengajak mu ke mari." Jelas Adelina yang membuat Steven memeluknya.


"Terimakasih Mommy, aku menyayangimu." Ucap Steven yang seperti biasa kemudian memberikan sebuah ciuman di pipi Adelina.


Cup


"Mommy juga menyayangimu Steve." Balas Adelina dengan memeluk erat Steven.


"Ini tidak adil, aku yang mengajak kalian lalu kenapa kalian tidak mengajak ku berpelukan." Protes Alister.


Adelina dan Steve kompak menatap Alister.


"Apa kau tidak ikhlas mengajak kami?." Kompak Adelina dan Steve yang membuat Alister seketika diam.


"Hahaha..., bukan kah lebih baik kita ke sana?." Tawar Alister yang mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Adelina dan Steve mengangguk kemudian bergandengan tangan meninggalkan Alister.


"Hei!, kenapa kalian tidak mengajak ku." Teriak Alister yang kemudian berlari kecil menyusul mereka. "Ck, menyebalkan." Lirih Alister dengan tertawa kecil.


***


Alister berhasil menggenggam tangan kanan Steve, sementara Adelina ada di sisi kiri Steven.


Steve menatap Alister yang menggenggam tangannya. "Kenapa kau menggandengku?." Tanya Steve.


Alister tersenyum licik. "Apa aku harus di sana dan menggandeng tangan Mommy mu?." Ledek Alister dengan menunjuk ke sisi sebelah Adelina.


Steven sontak menggeleng. "Tidak, tetap lah seperti ini." Jawab Steven.


"Wah, lihat lah di sana. Bagaimana jika kita bermain air?." Tawar Alister.


Steven antusias lalu menoleh ke arah Adelina. "Mommy, apakah boleh?." Tanya Steven penuh harap.


Adelina menatap Alister dan Alister pun mengangguk.


"Baiklah, sepertinya akan menyenangkan jika kita beriman bersama." Jawab Adelina yang membuat Alister dan Steven tersenyum.


Mereka bertiga kemudian berjalan ke arah tepi laut sembari bergandengan tangan. Menghirup dalam-dalam aroma pantai yang begitu menyejukkan. Suara deburan ombak yang penuh ketentraman.


Puas bermain air, mereka memilih untuk duduk di atas pasir pantai.


"Mom." Panggil lirih Steve.


Adelina menatap Steve. "Apa kau senang?." Tanya Adelina lembut dengan mengusap pucuk kepala Steve.


Steve mengangguk. "Bisakah kita tetap seperti ini?, aku sangat senang jika melihat mu terus tersenyum Mom." Jelas Steve.


"Tentu Steve, apapun untuk mu." Jawab Adelina dengan tersenyum.


"I-iya." Jawab Alister ragu karena tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Bisakah aku memanggil mu dengan Daddy?, aku pikir itu akan menyenangkan." Jelas Steve yang membuat Adelina dan Alister tersenyum lega.


Alister mengangguk dan tanpa terasa menitihkan air mata. "Tentu, kau putra ku dan aku Daddy mu." Jawab Alister dengan mata berkaca-kaca.


Dia bahagia, panggilan yang telah lama dia nanti kini telah datang langsung dari mulut putranya. Buah hatinya bersama Adelina tentunya.


Steven beranjak dari duduknya. "Kalau begitu kejar lah aku, baru setelah itu aku akan terus memanggil mu dengan sebutan Daddy ku." Teriak Steve yang sudah berlari menjauh.


"Hei, anak nakal. Kembali lah!, kenapa kau berlari tanpa memberitahu Daddy." Balas Alister berteriak.


Tak mau membuang waktu Alister langsung bangun dan mengejar Steven.


"Daddy, apakah kau sudah tua jadi tidak bisa berlari mengejar ku." Ejek Steve yang membuat Alister tertawa.


"Jangan kabur Steve, lihatlah sebentar lagi Daddy pasti akan menangkap mu." Teriak Alister yang berusaha menangkap Steven yang terus menghindar.


Adelina tersenyum puas, pemandangan yang sangat langka baginya.


"Tuhan, terimakasih atas apa yang kau beri. Kebahagian yang tidak bisa aku hitung banyaknya." Ucap Adelina lirih sembari menyeka air matanya.


"Alister terimakasih karena telah bersedia menanti kami kembali." Lanjut Adelina lagi hingga teriakan dari Steve membuatnya bangkit.


"Mommy!, tolong aku..., Daddy akan menggigit ku cepatlah!." Teriak Steve meminta bantuan ketika Alister menangkapnya.


"Steve, tunggu Mommy akan segera datang." Teriak Adelina yang berlari ke arah mereka.


Hap


Adelina memeluk Alister dari belakang. "Dapat!, lihat lah Steve. Mommy akan membalas dan menggigit Daddy untu mu." Ucap Adelina yang membuat Alister melepaskan Steve.


Alister tersenyum menyeringai. "Sayang, bukan kah sebaiknya aku yang menggigit mu nanti malam?. Bersiaplah istriku, kita buatkan Steven teman bermain." Bisik Alister yang berhasil memegang tangan Adelina yang masih memeluknya dari belakang.


Tubun Adelina meremang mendengar apa yang baru saja Alister katakan. Adelina berusaha menghindar namun sayang Alister sudah lebih dahulu membalikan tubuhnya menghadap Adelina.


Bruukkk


Alister dan Adelina jatuh di atas pasir dengan posisi saling menindih. Mata mereka saling bertatapan, Bahakan deru nafas Alister begitu Adelina rasakan, hangat dan menyengat.


"Mommy, aku akan pergi kalian bisa melanjutkannya nanti." Pamit Steve yang kemudian berlari menjauh.


"Bagaimana jika kau beri aku hidangan pembuka?." Tawar Alister dengan menaikan sebelah alisnya.


"Pembuka?." Beo Adelina yang masih tetap pada posisinya, tertindih tubuh Alister suaminya.


Alister tidak menjawab dan langsung menyatukan bibir mereka. Adelina sempat melotot namun pada akhirnya dia juga terlena. Adelina mengalungkan tangannya di leher Alister. Beruntung pagi itu suasana pantai tidak ramai, setidaknya acara pembukaan berjalan lancar bukan.


Ciuman mereka semakin dalam sampai ketika kehadiran Steven membuat Alister mengehentikan kegiatannya.


"Daddy, ini untuk mu. Aku merasa kau sangat kelaparan sepertinya." Ucap Steven dengan menyerahkan sebuah es krim kepada Alister.


Alister tertawa sementara Adelia memalingkan wajahnya karena malu.


"Hahaha, kau benar Steve. Daddy jadi tidak sabar untuk memakan Mommy mu." Jawab Alister yang membuat Adelina melotot.


"Memakan Mommy?." Beo Steve bingung.


"Eh!, maksudnya masakan Mommy. Ya!, masakan Mommy Steve, kau salah dengar sepertinya tadi." Elak Alister yang menjadi salah tingkah.


Steven tertawa, mereka bertiga kembali duduk dan menghabiskan akhir pekan yang pertama sampai sore hari tentunya. Berbagai kebahagian yang belum pernah mereka rasakan, bertukar cerita ketika mereka berpisah dan saling merindukan ketika waktu memisahkan.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa


END