Red Pen

Red Pen
Dingin



Pagi telah datang, Adelina merasakan dingin yang luar biasa. Kalian tentu ingat bukan jika Adelina termasuk orang yang alergi dingin?.


Adelina perlahan membuka kelopak matanya. "Di mana?." Lirih Adelina yang melihat sekelilingnya tampak bukan tampilan kamar miliknya.


"Ah, ini bar rupanya." Ucap Adelina yang teringat jika semalam dia memilih untuk menginap di sini dari pada harus pulang dengan keadaan mabuk.


Flashback On.


Setelah berpamitan dengan ke dua pemuda yang bergabung dengan dirinya, Adelina memilih menuju meja bartender dan menunjukkan sebuah kartu anggota yang dia punya.


"Baik, silahkan nona. Mari ikuti saya." Ucap pelayan yang bertugas dengan ramah setelah melihat sebuah kartu atas nama Adelina Adora.


Adelina berjalan mengekor di belakang pelayan yang bertugas untuk mengantarkannya sampai pada sebuah kamar yang cukup luas dan megah dengan fasilitas kelas atas tentunya.


"Terimakasih." Ucap Adelina setelah membuka pintu kamarnya.


Adelina langsung memilih berbaring di ranjang tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Biar lah dia beristirahat sekarang, toh tidak ada Adele yang akan mengomelinya bukan.


Pengaruh alkohol membuat Adelina setengah sadar, entah dia yang semakin lemah atau pengaruh alkohol yang telah memenangkan kendali atas dirinya.


Flashback off


Adelina tersenyum setelah mengingat dan menyadari bahwa dirinya tidaklah setangguh dulu ketika berhadapan dengan minuman seperti itu.


"Kenapa dingin sekali?". Lirih Adelina bertanya kepada dirinya sendiri.


Adelina mengusap lengannya bergantian. "Tunggu!, kenapa aku?." Tanya Adelina ketika menyadari sebuah keanehan terjadi pada dirinya saat ini.


"Tidak?, mustahil bukan?!." Ucap Adelina yang tidak percaya.


Dengan sedikit ragu Adelina perlahan menyibak selimut yang masih membungkus tubuhnya. Mata Adelina nanar seketika, dia kini menyadari bahwa kondisinya saat ini sudah menjelaskan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.


"Aku?!. Lirih Adelina tak percaya. Tangisnya pecah saat itu juga.


Dengan siapa pikirnya, mimpikan dia atau semuanya memang nyata. Otaknya langsung berpikir keras memutar memori yang telah dia lewatkan semalam.


Flashback On


"Sial, kenapa harus sekarang." Gerutu Adelina yang telah sampai di toilet dan segera menuntaskan hajatnya.


Saat Adelina hendak ke luar, tiba-tiba ada sosok laki-laki yang mendorongnya kembali masuk ke dalam.


Cetek


Lampu toilet seketika padam, hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari luar. Dengan pencahayaan yang remang-remang tentu Adelina tidak dapat melihat siapa sosok yang baru saja mendorongnya masuk ke dalam. Apalagi dirinya yang masih dalam pengaruh efek alkohol membuat pertahanannya tentu saja tidak sekuat aslinya.


"Siapa kau!." Sentak Adelina yang berusaha melepaskan diri dari sosok laki-laki yang mengunci tubuhnya.


Adelina berusaha sekuat tenaga untuk kabur, namun dirinya juga berusaha mengamati setiap lekuk wajah sosok yang ada di hadapannya.


"Aroma ini." Batin Adelina yang seolah merasa familiar dengan parfum yang laki-laki itu pakai.


"Tolong aku." Lirih pemuda itu dengan suara tertahan.


Deg


Jantung Adelina seakan berhenti berdetak. "Suara ini." Batin Adelina yang mengenali suara pemuda itu, bahkan tanpa melihat wajahnya sekalipun Adelina hafal siapa pemilik suara itu.


Adelina tersadar lalu mencoba kembali untuk melarikan diri, namun semuanya masih lah sia-sia.


"Sekali ini saja, ku mohon." Pinta laki-laki itu dengan mengiba.


Adelina tentu sudah mengerti maksud dari bantuan apa yang pemuda itu minta kepada dirinya. Tidak mungkin bukan jika pemuda itu hanya meminta bantuan kecil lantas barus repot-repot datang ke kamar nya.


"Aku tidak mau." Kata Adelina lantang meskinya dirinya belum sepenuhnya sadar.


Laki-laki itu menggeleng lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Adelina.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂