
Kini Fabian dan Adelina telah duduk dengan nyaman di dalam sebuah bar. Namun sampai saat ini belum ada satupun minuman yang tersaji di meja mereka.
"Apa tidak apa-apa seperti ini?, bagaimana jika Fonna memergoki mu?." Tanya Adelina dengan hati-hati.
"Memergoki?, kau pikir memangnya kita sedang berselingkuh begitu." Jawab Fabian sedikit ngegas.
"Ya aku kan hanya jaga-jaga. Aku hanya tidak ingin terlibat dalam masalah kalian." Jelas Adelina.
Fabian diam. "Apa menurut mu itu anak ku?." Tanya Fabian ragu.
"Gila, bukan kah kau yang membuatnya?. Kenapa bertanya kepada ku." Omel Adelina yang sedikit emosi.
"Ya bisa saja kan bukan hanya aku yang melakukannya." Kata Fabian malas.
"Sudahlah, lagi pula dia kan kekasih mu. Nikahi saja dia." Jawab Adelina.
"Mantan bukan kekasih." Kata Fabian penuh penekanan.
"Ya ya terserah Anda saja tuan Fabian yang terhormat." Kata Adelina mengalah tak mau memperpanjang perdebatan di antara mereka.
Sesi curhat terus berlanjut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.
...*********...
Pagi telah datang, Adelina sebenarnya cukup malas untuk bekerja hari ini. Namun demi citra nya di depan pemimpin baru perusahaan itu, Adelina rela bekerja meski terpaksa.
*Ruangan Adele dan Adelina.
Adelina meletakkan kepalanya di meja dengan berulang kali menghela nafasnya berat.
"Apa kau masih sakit?." Tanya Adele yang sedari tadi memperhatikan Adelina.
"Hanya sedikit." Lirih Adelina.
Kini giliran Adele yang menghela nafasnya. "Lebih baik beristirahat lah di sini." Saran Adele yang tidak tega melihat Adelina terlihat lemas.
Adele mengangguk. "Kau benar, sebaiknya kita segera bersiap." Jawab Adele yang kemudian mempersiapkan keperluannya.
"Aku sudah siap, ayok pergi sekarang." Ajak Adelina yang membuat Adele melongo.
"Apa kau tidak akan membawa buku dan pena ke ruang rapat begitu?." Heran Adele.
Adelina menggeleng. "Tidak." Jawab Adelina.
"Aku akan merekam dengan ponsel saja, kau tahu sendiri bukan jika aku membenci mereka berdua." Terang Adelina.
"Ck, kau ini sama sekali tidak berubah rupanya. Sudahlah mari kita pergi, jangan sampai kita membuat kesan yang buruk karena datang terlambat." Kata Adele yang segera berjalan beriringan dengan Adelina.
Mereka berdua kemudian bergegas menuju ruang rapat pagi ini.
*Ruangan Alister.
Sementara waktu rapat semakin dekat, Alister di ruangannya tengah duduk sembari memijat pangkal hidungnya. Kepalanya sedari tadi terus berdenyut.
"Sial, kenapa aku harus ceroboh." Umpat Alister menyalahkan dirinya sendiri.
Alister melihat pergelangan tangannya, jarum jam menunjukkan waktu rapat kurang 15 menit lagian. Namun Alister masih duduk di kursinya dengan malas-malasan.
"Seharusnya aku tidak minum terlalu banyak. Jika sudah begini aku sendiri yang akan kerepotan." Lirih Alister yang kemudian beranjak dari duduknya.
Alister berjalan mendekati ke arah jendela yang terbuka. Mengamati pemandangan dari lantai atas ruang kerjanya yang nampak indah.
"Sepertinya sudah lebih baik." Kata Alister yang kemudian menghela nafasnya dan menepuk-nepuk dadanya pelan.
Alister menyambar jas miliknya yang tergantung di sudut ruangan. Sungguh ketampanan Alister kini berkali lipat, siapa yang tidak akan jatuh ke dalam pesonanya memang bukan.
Dengan langkah tegap, Alister berjalan ke luar dari ruangannya menuju ruang rapat. Rapat perdana yang akan dia pimpin nanti beberapa saat ke depan mungkin nantinya.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂