Red Pen

Red Pen
Nyata



Setelah break beberapa saat, kini dirinya telah kembali bersiap. Tentu dengan Alister yang selalu memantaunya dari balik layar.


"Welcome back pembaca setia. Setelah tadi kita sempat berbincang mengenai Double D yang tengah membuat gempar, bagaimana jika kita sedikit mengulik tentang kehidupan sang penulis. Pasti seru dong pastinya, let's go." Ucap Presenter kembali membuka acara yang terjeda.


"Adelina, jadi penulis sebuah karya yang kini tengah booming tentu tidak mudah pastinya kan?. Tetapi kini beredar kabar jika salah satu dukungan yang membuat Double D melejit adalah karena orang dalam. Lalu bagaimana tanggapan Anda sendiri?." Tanya Presenter.


Adeline menatap ke depan, tidak lebih tepatnya Alister yang di tatapnya. Alister tersenyum dan membuat Adelina juga ikut tertular kebahagian Alister suaminya.


"Berbicara mengenai opini, tentu tidak bisa dikatakan itu salah atau benar. Jika memang betul seperti itu, mungkin saja karya saya tidak perlu melalui berbagai macam revisi yang rumit tentunya. Namun di sini saya tidak menampik fakta bahwa mereka juga ikut berperan dalam keberhasilan yang saya raih sekarang." Jawab Adelina tanpa bertele-tele.


Presenter itu mengangguk lalu tersenyum. "Merupakan isteri dari seorang pimpinan Red Pen, apakah hal itu menjadi sebuah jalur khusus untuk mencapai kesuksesan seperti yang orang katakan?." Tanyanya.


"Anggap saja seperti itu, toh bahkan ketika saya menjawab tidak hasilnya akan tetap sama seperti sekarang. Bukan berarti ada pengecualian dengan yang lainnya, katakan saja dan anggap ini sebagai sebuah keberuntungan bagi saya." Ucap Adelina yang sebenarnya sedikit merasa risih ketika kehidupan pribadinya menjadi bahan pembicaraan publik.


"Lalu tanggapannya tentang pernikahan kalian yang sembunyi dari awak media bagaimana?, itu sebuah kesengajaan atau memang tidak layak menjadi konsumsi publik?." Tanya Presenter serius.


Adelina tersenyum simpul. "Karena pada prinsip keluarga kami, hanya orang berkepentingan lah yang layak untuk mengetahui kebenarannya, dan untuk masalah sembunyi atau tidaknya itu telah menjadi keputusan dari ke dua belah pihak." Kata Adelina.


"Saya rasa cukup sampai di sini terimakasih." Kata Adelina yang membuat produser menghentikan siaran.


"Cut." Teriak prosedur dan kemudian memberi instruksi kepada stafnya.


Adelina bangkit dan Alister langsung menghampirinya. "Kemari lah." Ucap Alister dengan menggandeng tangan Adelina dan memintanya untuk duduk.


Alister memberikan sebotol ai mineral kepada Adelina.


"Baby apa kau sedang marah?." Tanya Alister yang berjongkok dan berbicara kepada baby yang ada di dalam perut Adelina.


Adelina menghela nafasnya. "Mereka pikir siapa, kenapa selalu menggiring opini publik?." Kesal Adelina.


"Tenanglah, jangan buat baby juga ikut marah." Lirih Alister dengan menggenggam tangan Adelina.


Alister lalu membawa Adelina ke luar dari ruangan, siapa sangka jika mereka akan bertemu dengan Glara di sana.


"Alister, kau di sini juga." Ucap Glara dengan semangat.


Alister mengangguk. Siapa kira jika Glara langsung memeluknya tepat di saat Adelina ada di sampingnya.


Alister sedikit mendorong tubuh Glara agar menyisakan jarak di antara mereka.


"Maaf, aku terlalu antusias." Ucap Glara salah tingkah.


Alister menggenggam tangan Adelina. "Kami duluan." Ucap Alister yang kemudian berlalu dan berjalan beriringan dengan Adelina meninggalkan Glara yang naik darah.


...*********...


"Bagaimana rasanya?." Tanya Adelina ketika mereka telah masuk ke dalam mobil.


Alister menoleh ke arah istrinya dan heran dengan maksud dari pertanyaan yang Adelina berikan.


"Apanya?." Tanya Alister.


Adelina melengos. "Ck, bukan kah barusan itu sebuah reuni mantan mungkin." Sindir Adelina yang membuat Alister tertawa kecil.


Adelina semakin jengkel. "Tuh kan bener, kenapa harus peluk-peluk segala sih." Sebal Adelina dengan memegangi perutnya yang kini semakin terlihat buncit.


"Baby, jangan seperti Daddy jika sudah sudah besar nanti." Ucap Adelina yang membuat Alister melongo.


"Hei, kenapa kau meminta seperti itu kepada anak ku." Kata Alister tidak terima.


Adelina menatap tajam Alister. "Enak saja, dia itu milik ku. Bukan kah dia selalu bersama ku, lihatlah." Kata Adelina dengan bangga menunjukkan perutnya.


"Tidak, aku yang menitipkan kenapa itu jadi milik mu saja." Protes Alister yang kemudian memegang perut Adelina dan mengelusnya.


"Baby, jangan dengarkan Mommy mu oke. Dia hanya sedang cemburu kau mengerti?." Kata Alister yang seolah tengah berbicara kepada anaknya yang ada di dalam sana.


Dug


Anak di dalam perut mereka mendengar merespon apa yang Alister katakan.


"Lihatlah dia bahkan merespon apa kata ku." Ledek Alister yang membuat Adelina mencubit lengan suaminya.


"Auwch!." Keluh Alister.


"Apa kalian berdua bersekongkol melawan ku." Ucap Adelina dengan menggembungkan pipinya.


"Sayang, untuk apa memangnya?, lebih baik aku berkerja sama dengan mu setiap malam. Aku bekerja dan kau menikmati hasilnya." Kata Alister dengan bangga.


Adelina menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. "Kenapa Daddy mu sangat mesum baby." Lirih Adelina yang membuat Alister tertawa puas.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂