
"Kakek, ku mohon berpura-pura lah tidak tahu jika aku nakal." Ucap Adelina.
Hanya berbatas tirai, di sebelah Adelina ada seorang pemuda yang tengah menertawai permintaan konyol dirinya.
Adelina berjalan dan hendak keluar, namun dirinya dikejutkan dengan kedatangan Adele yang setengah berlari ke arahnya.
"Adele." Lirih Adelina ketika melihat Adele berdiri di hadapannya.
"Apa kalian baik-baik saja?." Tanya Adele yang cemas sembari mengatur nafasnya.
Adele sedikit terlambat datang karena tadi sempat berpapasan dengan dokter Prilis.
"Kalian?." Beo Adelina bingung.
Adele menepuk jidatnya. "Tidak, maksudnya kau dan Pak Alister. Ku dengar dia juga pingsan." Jelas Adele.
"Hah?, kenapa bisa?." Heran Adelina yang kembali bertanya.
"Sudahlah, toh itu juga bukan urusan kita. Lebih baik kau beristirahat di rumah." Kata Adele tak sabaran.
Adelina hanya pasrah, namun saat dirinya baru melangkah dia merasa ada seseorang yang menarik tangannya.
Dugh
Adelina yang ditarik pergelangan tangannya langsung berbalik dan menabrak dada seseorang.
Adelina memejamkan matanya. "Aneh." Batin Adelina.
Karena merasa tidak ada pergerakan dari orang yang ada di hadapannya Adelina memberanikan diri untuk mendongak.
Deg
Jantung Adelina seolah berhenti berdetak.
"Ai?." Lirih Adelina dengan mata yang nanar.
Benarkah apa yang ada dihadapannya saat ini, ataukah hanya sebuah ilusi.
"Menikahlah denganku." Ucap Alister lantang dan tidak terdengar ada keraguan sedikitpun.
Adelina menarik tangannya. "Brengs*k!." Umpat Adelina yang kemudian berlalu pergi meninggalkan UGD dan membuat Adele kelimpungan.
...*********...
Malam harinya, Adelina hanya mengurung diri di kamarnya tanpa mau berbicara dan bertemu dengan siapapun termasuk Adele.
Adelina menangis sampai sesegukan. Sungguh gila pikir Adelina. Bahkan sedari tadi Adele terus berusaha membujuknya agar mau bercerita.
Adelina memutuskan untuk beranjak dari duduknya, setelah menunggu beberapa lama akhirnya Adelina keluar dari kamarnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka menampilkan Adelina dengan menyeret sebuah koper besar miliknya.
"Adelina!, siapa yang mengijinkan mu untuk meninggalkan kan ku." Kata Adele berusaha untuk membuat Adelina bertahan setidaknya sampai pagi mungkin.
Adelina meninggalkan koper miliknya dan langsung memeluk Adele sahabatnya
"Hiks..., maaf!." Ucap Adelina terisak.
Adele mengelus punggung Adelina yang bergetar menahan tangis. "Jangan menangis, apa kau mau melihat ku juga ikut menangis?." Tanya Adele dengan memeluk erat Adelina.
Adele mengajak Adelina untuk duduk di sofa.
"Kau tahu, setiap orang pasti punya masalah. Jadi kau tidak perlu takut jika belum menemukan solusinya." Kata Adele menasehati.
Adelina mengangguk. "Tapi aku." Kata Adelina menggantung.
"Jika itu privasi mu jangan katakan kepada siapapun. Kau mengerti?." Ucap Adele bijak.
"Tidak." Jawab Adelina. "Kau sudah seperti keluarga bagi ku, jadi sudah seharusnya kau tahu bahwa aku tidak sebaik yang kau kira." Jawab Adelina.
"Dengarkan aku. Baik atau buruknya seseorang, mereka akan tetap bernilai di tempat yang tepat." Kata Adele.
Adelina menunduk. "Jika kau tahu aku sudah tidak lagi suci, apa aku juga masih tetap bernilai?." Lirih Adelina ragu.
Adele tentu terkejut dengan apa yang dikatakan Adelina. Dipeluknya kembali Adelina oleh Adele. "Semuanya akan tetap sama di antara kita. Kau tetap bernilai, kau mengerti maksudnya bukan?." Tegas Adele yakin.
Adelina mengangguk samar. Namun keputusannya untuk meninggalkan Adele dan mencari suasana baru tetap lah tidak dapat diganggu gugat.
Adele mengantarkan Adelina sampai di depan pintu. "Jangan melupakan ku dan sering-seringlah mampir." Kata Adele dengan meneteskan air mata.
Adelina mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya. Adele melambaikan tangannya ketika mobil yang ditumpangi Adelina melesat pergi.
"Jaga dirimu, Bahkan aku saja belum pernah menyentuh mobil sebagus itu." Lirih Adele.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂