
"Dor!." Kata Adele yang mengejutkan Adelina dari belakang.
"Astaga Adele, ngagetin aja deh." Ucap Adelina dengan mengelus dadanya.
Adel hanya menunjukkan deretan giginya. "Abisnya yang baru pulang belanja senyum-senyum sendiri tuh." Ledek Adele dengan mengambil minuman yang tengah Adelina susun ke dalam lemari pendingin.
"Kamu tahu nggak?." Tanya Adelina.
"Apa?, kan belum dibagi dua ceritanya." Jawab Adele asal.
"Tenyata Bian bisa dijadiin partner belanja." Kata Adelina dengan tertawa kecil.
Adele yang penasaran langsung kembali bertanya dan menyimak. "Maksudnya?." Tanya Adele.
"Bunda sering nyuruh-nyuruh dia buat ikut belanja bulanan katanya. Makanya dia tuh hafal kebutuhan rumah tangga. Ini semua aja Bian yang buat daftar list nya." Jelas Adelina yang membuat Adele tersedak.
"Ukhuk...ukhuk...!, berasa nggak jadi apa-apa nih kita sebagai perempuan. Tugas sepele gitu aja nggak ngerti sama sekali." Kata Adele yang malah curhat.
"Yeee..., itu mah kamu. Kalau aku sedikit-sedikit masih paham sih nggak terlalu memalukan." Balas Adelina.
Adele cemberut. "Jadi maksudnya aku memalukan?." Tanya Adele.
Kini giliran Adelina yang tertawa. "Sedikit mungkin. Eh, btw kamu ada something kah sama Pak Azka?." Tanya Adelina dengan menatap Adele.
Adele hanya senyam-senyum tidak jelas. "Kita balikan." Jawab Adele malu-malu.
"Ukhuk...ukhuk...!, balikan?." Kini giliran Adelina yang tersedak karena kabar yang adele berikan.
Adele mengangguk. "Udah malam, nggak baik pacar orang begadang. Bye-bye...." Kata Adele yang kemudian berlalu meninggalkan Adelina yang masih ada di dapur.
"Dasar gila." Kata Adelina dengan bergidik negeri.
Dirinya memang belum tahu kisah cinta sahabatnya dengan Pak Azka atasan mereka. Balikan, Adelina tidak habis pikir. Pantas saja kadang sikap Adele begitu cuek dan terkesan sangat anti dengan Azka selama ini menurutnya.
...*********...
Hati berganti, malam ini ke dua gadis itu tengah bersiap di kamarnya masing-masing. Di saat yang bersamaan mereka berpapasan di ruang tamu.
"Loh, kamu juga mau pergi?." Tanya Adele ketika melihat Adelina yang sudah berdandan cantik dan rapi.
Adele mengangguk. "Azka minta ditemani nonton." Jawab Adele.
"Aku mau ke rumah Bunda." Jawab Adelina sedikit gugup.
Adele memicingkan matanya. "Ke rumah Bunda atau Pak Fabi?." Tanya Adele meledek.
Adelina bingung harus menjawab apa, beruntung ponselnya berbunyi sehingga dia punya alasan untuk kabur dari pertanyaan Adele.
...*********...
"Terimakasih." Ucap Adelina kepada Fabian yang telah menarikan kursi untuknya.
Fabian tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Adelina. Sebuah restoran yang cukup elegan dengan dominasi warna putih dengan sedikit sentuhan warna gold membuat ruangan itu terkesan mewah.
Fabian memanggil pelayan dan memesan makanan untuk acara kencan mereka malam ini.
Butuh beberapa waktu sebelum makanan mereka datang.
"Adelina Adora." Panggil Fabian serius.
Adelina yang sedari tadi mengamati setiap sudut restoran, kini pandangannya terpaku pada sosok laki-laki yang luar biasa duduk berhadapan dengannya.
"Will you marry me?." Tanya Fabian dengan mengeluarkan sebuah cincin dengan sebuah batu berlian berwarna merah di atasnya.
Adelina diam tidak merespon. Mimpi kah dirinya saat ini.
"Adelina, kau tahu aku bukanlah sosok laki-laki yang sempurna. Aku yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan ini meminta engkau nona Adelina Adora sebagai pendamping hidup dan mati ku." Ucap Fabian yang kemudian menghela nafasnya.
"Aku Fabian Mikko Pratama detik ini juga melamar mu untuk menjadi isteri ku. Adelina Adora maukah kau menjalani sisa hidup mu bersama ku?." Tanya Fabian dengan lantang.
Adelina mematung, otaknya seketika kosong. Makan malam yang dia kira hanyalah sebuah langkah awal kedekatan mereka, kini malah berubah menjadi acara lamaran yang penuh kejutan.
Harus kah dia terima lamaran yang Fabian tawarkan?.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂