Red Pen

Red Pen
Seatap



"Akhirnya kita satu atap juga." Ucap Adele dengan penuh kegembiraan.


Adelina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Kini, Adelina dan Adele tinggal di rumah yang keluarga Fabian sediakan untuk mereka.


Awalnya Adelina sempat menolak, namun Fabian berdalih jika itu termasuk fasilitas dari perusahaan karena mereka sudah memenuhi target yang ditetapkan.


Adelina menghela nafasnya. Duduk di sofa empuk yang terasa nyaman baginya. Ada tiga kamar tidur di rumah yang kini ditempati mereka berdua, ruang tamu, dapur dan ruang laundry mini. Sederhana namun lebih dari cukup bagi Adelina.


"Kita satu kamar?." Tanya Adelina yang menatap Adele.


Adele yang sedang asik mengamati setiap sudut rumah baru mereka langsung menggoyangkan jarinya.


"No no no. Kita pisah kamar oke." Jawab Adele dengan menunjukan deretan giginya.


"Ya baiklah, terserah mu saja." Balas Adelina yang kemudian berjalan ke arah dapur.


Adelina menilik lemari pendingin yang masih baru sepertinya dan belum pernah terpakai.


"Apa menurut mu ini tidak terlalu berlebihan?, kenapa aku merasa jika semuanya baru dan belum pernah terpakai." Ucap Adelina yang bertanya.


"Adelina ku sayang, itu semua bukan hanya pemikiran mu. Tapi memang semuanya itu baru." Jawab Adele yang mendekati Adelina.


Adelina tampak berpikir.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikiran. Lebih baik kita memilih kamar untuk mu." Ucap Adele yang kemudian menggandeng tangan Adelina.


Mereka berjalan menuju salah satu kamar yang terletak di dekat dapur.


"Aku akan di sini saja." Ucap Adelina setelah merasa cocok dengan ruangan kamar yang baru saja dilihatnya.


"Tentu, kalau begitu aku akan memilih kamar depan." Jawab Adele dengan semangat.


Setelah acara berkeliling, mereka sepakat untuk membereskan barang masing-masing.


...*********...


"Astaga Ai!, kau mengejutkan ku lagi." Kata Adelina yang tengah berdiri di dekat jendela.


Kini dirinya sudah bisa menerima kehadiran Ai tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan Adele sahabatnya sendiri.


"Senangnya dapat rumah baru." Ledek Ai dengan mencolek dagu Adelina.


Ai menggembungkan pipinya. "Sudahlah, aku malas berbicara dengan mu." Ucap Ai yang merajuk.


"Ai." Panggil Adelina dengan nada serius.


Ai menoleh, sementara Adelina menatap lurus ke depan.


"Apa semua ini tidak berlebihan menurut mu?." Tanya Adelina.


Ai menggeleng dan hal itu membuat Adelina menatapnya. "Tidak?." Tanya Adelina lagi.


Ai menggeleng. "Anggap saja mungkin ini keberuntungan kalian, tapi jika suatu saat muncul rasa tidak nyaman maka pergilah." Jawab Ai.


Adelina mengangguk. "Tentu, akan aku ingat saran mu. Terimakasih karena telah mendengar keluhan ku Ai." Ucap Adelina.


"Istirahat lah, aku pikir akhir-akhir ini kau terlalu banyak berpikir lebih." Kata Ai yang hendak pergi.


Sebenarnya Adelina masih penasaran dengan kejadian yang beberapa waktu lalu menimpanya. Namun Ai sudah terlanjur menghilang dari pandangan Adelina.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar Adelina di ketuk.


"Ada apa?." Tanya Adelina setelah membuka pintu kamarnya.


Adele hanya menunjukkan senyum pasta gigi. "Aku lapar, bisa kah kita berdua pergi ke luar?." Tanya Adele.


Adelina yang tidak tega akhirnya memutuskan untuk menemani Adele mencari makan.


"Besok lebih baik kita berbelanja agar tidak selalu ke luar malam-malam seperti ini." Usul Adelina yang sudah bersiap dengan mengenakan jaketnya.


"Siap bos." Jawab Adele semangat dan langsung menggandeng tangan Adelina.


"Sesekali makan di luar tidak apa-apa bukan." Batin Adelina.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂