
"Hiks... Vita, maafkan aku." Kata Bunda Wiwi terisak ketika mengetahui kenyataan bahwa sahabatnya telah meninggal dunia karena kecelakaan.
Ayah Alex mencoba menenangkan Bunda Wiwi. "Tenang lah Bun, jangan lupakan tujuan kita datang kemari." Bisik Ayah Alex yang membuat Bunda Wiwi tersadar.
"Ekhem." Ayah Alex berdehem. "Sebelumnya maaf Om, maksud kedatangan kami ke sini untuk memastikan bahwa apa Om memiliki cucu perempuan?." Tanya Ayah Alex hati-hati.
Kakek Abeer mengangguk. "Tentu, dia adalah anak Vita dan Gilang. Saat dulu ke dua orang tuanya mengalami kecelakaan, dia masih sangat kecil." Kata Kakek Abeer yang bercerita dengan mata berair. Sungguh dia merindukan putri dan menantunya itu.
Bunda dan Ayah mengangguk.
"Maaf, Om terbawa suasana." Ucap Kakek Abeer dengan menyeka air matanya lalu tertawa kecil.
"Tidak apa om, Wiwi mengerti perasaan Om karena kepergian mereka." Ucap Bunda Wiwi tersenyum.
"Jadi begini." Kata Ayah Alex berusaha untuk mengutarakan maksudnya.
Kakek Abeer menyimak.
"Putra ku Alister telah berbuat hal yang salah dan tidak menyenangkan, jadi untuk itu kami mohon agar Om Abeer memberikan kesempatan kepada Alister untuk bertanggung jawab." Jelas Ayah Alex.
Kakek Abeer bingung. "Apa keinginan mu?." Tanya Kakek Abeer tegas kepada Alister.
Alister menatap Kakek Abeer tanpa rasa takut sedikitpun. "Aku meminta restu untuk menikahi cucu Kakek, lagi pula Kakek pasti sudah dekat dengan ke dua orang tua ku. Alister rasa kakek tidak perlu cemas akan hidup cucu Kakek untuk ke depannya." Jawab Alister yang membuat Kakek Abeer tertawa kecil.
"Hahaha, kau yakin?!." Tegas Kakek Abeer.
Bahkan Bunda dan Ayah ikut cemas karena mereka paham betul tentang watak kerasa Kakek Abeer.
"Om, Wiwi mohon. Biarkan putra Wiwi bertanggungjawab." Pinta Bunda Wiwi.
"Wi, dengarkan Om. Om tahu tentang kalian berdua tapi tidak dengan putra mu. Jika dia bisa berbuat kesalahan fatal seperti itu, apa ada jaminan bahwa itu tidak akan lagi terulang." Jawab Kakek Abeer.
Ayah Alex dan Bunda Wiwi setuju dengan apa yang Kakek Abeer katakan. Lagi pula toh ini memang kesalahan Alister.
"Alister janji, setidaknya biarkan Alister mencoba." Ucap Alister yakin.
Kakek Abeer menghela nafasnya. "Aku tidak berhak memutuskan, semuanya aku serahkan kepada cucu ku." Jelas Kakek Abeer.
Ada sebuah harapan yang membuat mereka bertiga sedikit bernafas lega.
Terdengar derap langkah kaki yang mendekat.
"Kakek kenapa tidak membangun kan ku." Ucap Adelina yang baru saja ke luar dari kamarnya dengan masih mengenakan setelan baju tidurnya.
"Hahaha, kakek mengira kau sudah bangun. Kenapa kau terlambat?, tumben sekali." Jawab Kakek Abeer yang menoleh ke arah Adelina.
Adelina bahkan tidak menyadari adanya tamu yang datang berkunjung.
"Adelina." Panggil Bunda Wiwi yang membuat Adelina menoleh.
Deg
Adelina terpaku di tempatnya.
"Bunda." Lirih Adelina tidak percaya.
Bunda Wiwi beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Adelina.
"Ini Bunda, kenapa kau jarang sekali mampir lagi?." Omel Bunda Wiwi.
Adelina memeluk erat Bunda Wiwi. "Hiks..., Bunda kenapa tidak mengajak Adel liburan dengan Ayah. Bahkan Bian juga ke luar negeri sendiri." Kata Adelina dengan menangis meluapkan rasa rindunya.
Bunda Wiwi melepaskan pelukannya. "Siapa bilang Bunda dan Ayah pergi berlibur?, kami hanya menjemput Alister. Fabi bahkan tidak kami beritahu." Jelas Bunda Wiwi dengan menghapus air mata yang membasahi pipi Adelina.
"Benarkah?, apa Bunda tidak berbohong?." Cecar Adelina yang membuat Bunda Wiwi gemas.
"Kenapa pipi mu semakin menggembung?." Ledek Bunda Wiwi yang membuat adelina manyun.
"Ekhem, apa posisi Kakek tersaingi?." Ledek Kakek Abeer yang membuat ke dua wanita itu tersadar.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂