Red Pen

Red Pen
ASP



Di sebuah apartemen, seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 7 tahun kurang tengah bersiap memakai pakaiannya sendiri.


"Steve, apa kau butuh bantuan?." Tanya Adelina lembut dari ambang pintu kamar putranya.


"No Mom, aku bisa melakukannya." Jawab Steven yang memang hampir cakap dalam segala hal diusianya ini.


Adelina tersenyum lalu berjalan ke arah Steve yang masih mengancingkan bajunya. "Kemari lah biar Mommy bantu." Pinta Adelina.


Steve menghentikan kegiatannya, menatap sang Mommy yang membuatnya tidak tega. Dia tidak ingin sang Mommy merasa sedih atau kecewa.


"Tentu Mom, sepertinya aku sedikit kesulitan." Jawab Steve yang kemudian mendekat dan berdiri di hadapan Adelina.


Adelina dengan telaten mengancingkan baju yang Steve kenakan.


"Selesai." Ucap Adelina setelah menyelesaikan kegiatannya.


Adelina menatap wajah Steve penuh arti. "Kenapa anak Mommy tumbuh dengan cepat?, bukankah baru kemarin kau masih bayi." Ucap Adelina dengan mengelus pucuk kepada Steve.


Steve tersenyum manis menampilkan lesung pipinya. "Bukan aku yang cepat tumbuh Mom, tapi Mommy yang sudah pikun sepertinya." Ledek Stevie yang membuat Adelina tertawa kecil.


"Hahaha, aku masih muda kau tahu itu bukan." Balas Adelina dengan penuh percaya diri.


"Ya ya, terserah mu saja Mom. Bisakah jangan menyentuh rambut ku?. Aku lelah terus merapikannya sejak tadi pagi." Protes Steve cemberut.


Adelina menyingkirkan tangannya. "Ah, sorry Steve. Mommy sudah membuat rambut mu berantakan lagi." Ucap Adelina yang membuat Steve langsung menggelengkan kepalanya.


Cup


Steve memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Adelina. "Tak apa Mom, kau bisa membantuku untuk merapikannya lagi nanti." Ucap Steve yang tidak ingin menyinggung perasaan sang Mommy.


Adelina lagi-lagi tersenyum, memiliki seorang putra seperti Steve adalah sebuah anugerah baginya.


...*********...


Gedung Red Pen


Sebuah bangunan megah yang telah lama Adelina tinggalkan. Pada akhirnya dia kembali namun dengan dirinya yang sekarang.


Adelina dan Steve berjalan beriringan dengan langkah pasti. Adelina datang dengan balutan dress berwarna navy, rambutnya dibiarkan tergerai dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Begitu juga dengan Steve yang mengenakan jas dengan warna senada dengan dress yang dikenakan Mommy nya.


"Aku ingin bertemu dengan Alister." Ucap Adelina datar dengan menunjukkan kartu namanya.


Resepsionis yang tengah berjaga mengangguk dan meminta Adelina untuk menunggu sebentar.


"Silahkan Nona, Tuan Alister ada di ruangannya." Ucap Resepsionis itu mempersilakan.


Adelina mengangguk lalu melenggang pergi dengan Steve yang setia di sampingnya.


***


"Mommy aku akan menunggu di sini, kau tenang saja aku tidak akan ke mana-mana." Ucap Steve yang membuat Adelina merasa lega.


Dirinya sempat bingung untuk membuat alasan agar Steve tidak ikut dengannya masuk ke ruangan. Menurutnya Steve masih terlalu kecil untuk memahami kondisinya saat ini.


"Jadilah anak yang baik, kau mengerti Steve?." Tanya Adelina.


"Tentu Mom, Steve mengerti." Jawab Steve yakin dengan mengangguk.


Adelina masuk ke dalam dan membiarkan Steve duduk di kursi yang ada di depan ruangan Alister.


Steve yang bingung hendak melakukan apa memilih memainkan game yang ada di ponselnya.


"Hay prince, may i sit with you?." Tanya seorang anak perempuan yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Steve.


Steve tak menggubris anak perempuan yang sudah duduk disebelahnya bahkan sebelum dia menjawab.


"Have you seen an angel?." Tanya anak perempuan itu lagi meski tidak mendapatkan jawaban dari Steve.


Steve diam tak menjawab.


Anak perempuan itu tersenyum. "Look, it's me. I'm an angel." Ucapnya lagi dengan penuh kebanggaan.


Steve yang merasa terganggu akhirnya bersuara. "I can't speak English and it's not of my business." Jawab Steve tanpa menoleh ke arah Angel yang ada di sebelahnya.


Angel tersenyum lalu tertawa kecil. "No, didn't you just answer me." Balas Angel dengan tertawa dan membuat Steve menoleh ke arahnya.


Angel terus saja menertawakan Steve dengan sikap konyolnya yang berpura-pura tidak bisa bahasa Inggris rupanya.


"Aku Angelica, malaikat yang istimewa." Ucap Angel dengan mengulurkan tangannya.


"Istimewa?." Beo Steve tanpa menjabat tangan Angel.


Angel mengangguk. "Because i have two Dads." Jawab Angel dengan senyum mengembang.


"Adora Steven." Ucap Steve datar.


Angel kembali tersenyum. "Apa itu nama mu?." Tanya Angel memastikan.


Steve mengangguk.


"Aku Adara Angelica." Ucap Angel dengan menunjukkan deretan giginya.


Angel terus saja mengajak Steve berbincang meski Steve hanya menanggapinya beberapa kali. Bagi Steve Angel terlalu berisik untuknya, namun Steve selalu ingat perkataan sang Mommy untuk tidak menyinggung perasaan orang lain.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂