
Dua Minggu sudah berlalu sejak kedatangan Alister kembali di keluarga besar Pratama. Kini di perusahaan tengah diadakan acara peresmian Alister sebagai penanggung jawab tertinggi menggantikan sang Ayah.
Gedung aula di ubah menjadi tempat pesta yang diadakan tepat malam ini. Semua karyawan berkumpul untuk menyaksikan acara sakral tersebut tanpa terkecuali.
"Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah mengabdikan diri pada Red Pen. Saya Abinaya Alexi, pada malam ini akan menyerahkan jabatan yang telah saya pimpin hampir genap 40 tahun dengan penuh perjuangan dan kerja keras kepada putra sulung saya Alister Arvind Pratama. Semua yang berkaitan dengan perusahaan bisa kalian bicarakan dengannya, baik itu saran maupun kritikan. Sekian terimakasih." Ucap Ayah Alex dengan penuh kebanggaan memperkenalkan Alister sebagai penerusnya.
Semua mata memandang ke arah Alister, kagum akan ketampanan dan kemapanannya. Acara berlangsung dengan lancar, kini saat yang ditunggu-tunggu karyawan telah tiba. Pesta, dan kegiatan menyantap hidangan yang telah disediakan.
"Nak, pergi lah temui mereka." Ucap Bunda Wiwi yang selalu ada di sisi Alister.
Alister mengangguk lalu berbaur dengan tamu undangan yang lain.
"Selamat menikmati beban kawan." Ledek Martinus yang merupakan sahabat Alister.
"Selamat bro, semoga sukses." Ucap Fariz yang menjabat tangan Alister.
Alister mengangguk. "Selamat juga untuk kalian. Bersiaplah untuk menerima perintah." Ucap Alister yang membuat ke dua pemuda itu sadar kini akan kekuasaan Alister.
"Kejam sekali kau ini." Kata Martinus sebal.
"Apa kekasih mu tidak datang?." Tanya Fariz penasaran.
"Apa itu penting?." Tanya Alister yang membuat mereka geleng-geleng.
"Dingin sekali cuaca di sini. Tin, sebaiknya kita mencari kehangatan di antara para wanita itu." Ucap Fariz yang langsung disetujui oleh Martinus.
Alister acuh, dirinya justru malah lebih dahulu meninggalkan mereka.
Pesta telah rampung, dan besok adalah hari pertama Alister memimpin Red Pen dengan segala perubahan yang akan dia bawa.
...*********...
Sementara itu, di rumah Adelina dan Adele telah terjadi sedikit pertengkaran di antara mereka.
"Makan lah, kau tahu karena mu aku tidak jadi ikut ke pesta." Omel Adele dengan berkacak pinggang.
Adelina menggeleng. "Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk pergi, kenapa sekarang jadi salah ku?." Kata Adelina tidak terima.
"Arrrghhh...!, kenapa kau ini susah sekali di atur." Kata Adele geram dan menjambak rambutnya.
Adele bahkan bingung bagaimana caranya untuk membujuk Adelina agar mau makan dan minum obat karena suhu badannya yang cukup tinggi.
"Lidah ku seperti mati rasa, lebih baik aku berpuasa." Kata Adelina.
"Terserah kau saja." Ketus Adele yang kemudian keluar dari kamar Adelina.
"Kenapa dia jadi yang marah?." Heran Adelina yang memilih untuk melanjutkan tidurnya.
...********...
Rumah keluarga Pratama.
"Selamat Kak." Ucap Fabian yang tidak bisa hadir tadi karena ada urusan.
Mereka berdua saling berjabat tangan lalu berpelukan.
"Kenapa kau tidak menjemput ku?." Tanya Alister.
Fabian hanya menunjukan deretan giginya. "Maaf aku lupa, Ayah dan Bunda saja tidak mengabari ku." Jawab Fabian.
"Wah...wah...!, kenapa kami di sangkut pautkan?." Tanya Ayah dan Bunda yang baru saja bergabung dengan ke dua pemuda itu.
"Fabi bilang jika Ayah dan Bunda tidak memberitahunya." Jelas alister.
"Dasar anak ini, bukan kah kau juga saat itu sedang berlibur." Omel Bunda yang membuat Fabian kalah telak.
"Sudah-sudah, lagi pula kita semua sudah berkumpul. Apa lagi memangnya yang harus diributkan bukan?." Kata Ayah Alex menengahi.
Saat mereka tengah bercengkrama, ponsel milik Bunda Wiwi berdering. Setelah mendapat panggilan itu, Bunda segera meminta Fabian yang mengantarkannya karena sudah pasti Ayah Alex dan Alister terlalu lelah karena acara perusahaan.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂