
Ting
Tong
Ting
Tong
Bel di apartemen milik Adelina terus saja berbunyi sejak tadi.
"Steve, bisakah tolong Mommy untuk membuka pintu." Pinta Adelina yang tengah membuat sarapan untuk mereka berdua.
"Tentu Mom." Jawab Steve yang tengah duduk di meja makan.
Steve berjalan ke arah pintu. Sementara Adelina tampak menggerutu, memangnya siapa yang bertamu sepagi ini pikirnya.
Ceklek
"Selamat pagi." Ucap Alister dengan penuh semangat membayangkan wajah Adelina yang menyambutnya pagi ini.
"Kenapa bukan Mommy mu yang membuka pintu?." Protes Alister kecewa.
Steve hanya diam dan masih berada di ambang pintu. "Anda ingin bertamu atau bertemu Mommy ku?." Tanya balik Steven.
"Tentu saja keduanya." Jawab Alister bangga.
"Dasar serakah." Lirih Steve yang kemudian masuk dan meninggalkan Alister.
Alister menghela nafasnya, sepertinya perjuangan yang sebenarnya baru akan di mulai baginya.
"Mom." Panggil Steve yang telah kembali ke meja makan.
"Siapa yang datang?, apa kurir lagi?." Tanya Adelina yang mendapat gelengan dari Steve.
"Bukan Mom." Jawab Steve tak bersemangat.
"Lalu?." Tanya Adelina lagi.
"Hama pengganggu." Jawab Steve lirih namun tidak terdengar oleh Adelina karena Alister yang datang menyapa.
"Selamat pagi. Wah sepertinya kita akan sarapan bukan?." Tebak Alister yang langsung ikut bergabung.
Adelina sempat kaget dengan kedatangan Alister.
"Kenapa Mas datang sepagi ini?." Tanya Adelina heran.
"Tentu saja untuk menemui kalian, aku ingin bersantai di akhir pekan." Jawab Alister santai.
"Steve, selesaikan sarapan mu dulu." Titah Adelina dengan memberikan Steve selembar roti yang telah dia olesi selai.
Steve mengangguk lalu menghabiskan sarapannya.
Adelina dengan cekatan juga membuat segelas susu untuk putranya itu.
"Mas Ai mau ikut sarapan?." Tawar Adelina yang masih mengolesi roti untuk dirinya.
Alister menggeleng. "Tidak terimakasih, buatkan aku kopi saja kalau begitu." Jawab Alister yang membuat Adelina mengangguk.
Mereka makan dengan tenang, sementara Alister sibuk mengamati kegiatan istri dan putranya.
"Mommy aku sudah selesai, terimakasih untuk sarapannya." Ucap Steve yang kemudian mencium pipi Adelina.
Cup
"Tentu Steve, mandi dan cepat lah bersiap untuk Mommy." Titah Adelina.
Steve tanpa banyak bertanya langsung melenggang pergi ke kamarnya. Alister tersenyum, pemandangan pagi ini teramat sangat indah untuknya.
"Apa memangnya?." Tanya Adelina yang belum paham arah pembicaraan Alister.
"Morning kiss Mommy." Ucap Alister dengan memanggil Adelina seperti Steve.
Pipi Adelina bersemu merah karena malu. "Steve selalu berterima kasih dan itu salah satu caranya." Jelas Adelina.
Alister mengangguk lalu mendekat ke arah Adelina.
Cup
"Terimakasih untuk kopinya Mommy." Kata Alister dengan tersenyum lebar.
Adelina melongo dengan tingkah Alister, untung saja Steve tidak ada di sana. Jika iya bisa malu Adelina tentunya.
"Mas." Rengek Adelina. "Aku malu, bagaimana jika Steve tahu." Cicit Adelina lirih.
Alister mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus malu?, bukan kah aku suami mu." Jawab Alister enteng.
Adelina mendengus sebal, percuma berdebat dengan Alister menurutnya.
"Sayang cepat lah bersiap." Titah Alister dengan lembut.
"Bersiap?, memangnya kita akan pergi?." Tanya Adelina bingung.
Alister mengangguk. "Aku ingin berlibur dengan kalian." Jawab Alister.
Adelina nampak berpikir mempertimbangkan permintaan Alister. "Baiklah, aku akan bersiap." Kata Adelina yang kemudian beranjak dari duduknya.
Selepas kepergian Adelina, Alister memilih berkeliling apartment yang mereka tempati.
Pandangan Alister tertuju kepada sebuah foto seorang bayi laki-laki dengan pipi gembul nya dan tengah tersenyum ke arah kamera.
"Kenapa dia menggemaskan sekali." Ucap Alister tertawa kecil.
Alister mengusap foto yang terbingkai dengan indah itu. "Maaf, karena Daddy tidak ada saat itu." Lirih Alister.
"Jangan menyentuhnya, Mommy akan marah jika itu rusak." Ucap Steve yang membuat Alister hampir saja menjatuhkan bingkai foto yang ada di tangannya.
"Astaga, kenapa kau datang tiba-tiba." Keluh Alister.
Steve mengambil bingkai itu dari tangan Alister. "Mommy tidak suka jika barang miliknya disentuh tanpa ijin." Jelas Steve yang kembali menaruh bingkai itu di tempatnya.
"Memangnya kenapa?." Tanya Alister.
Steve menghela nafasnya. "Karena kenangan kami terlalu berharga, dan Mommy sendiri yang membuatnya." Jelas Steve datar.
Jleb
Batin Alister tersentil dengan jawaban yang Steve berikan. Dimana dia ketika mereka membutuhkannya.
"Apa aku bisa menggantinya?." Tanya Alister lirih dengan menatap manik mata Steve.
Steven menggeleng. Alister kecewa.
"Tidak?." Tanya Alister lirih.
"Bukan aku yang seharusnya mendapat pertanyaan itu, tapi Mommy ku." Jelas Steve.
Alister mengacak rambut Steve. "Kenapa kau sangat pandai berkata seperti itu." Ucap Alister dengan nada meledek.
"Terimakasih, aku menganggapnya sebagai pujian." Kata Steve datar yang kemudian memilih menghampiri Mommy nya.
Alister terdiam, dia kalah telak oleh anaknya sendiri kali ini. Alister tertawa lalu ikut bergabung kembali dengan mereka.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂