
Kehebohan malam ini terjadi di kediaman keluarga Fabian. Fabian sejak sore tadi terus saja muntah-muntah tidak jelas dan membuat Bunda Wiwi khawatir.
"Kamu ini kenapa sih?, kok bisa ceroboh kaya gitu." Omel Bunda Wiwi yang memijat tengkuk Fabian.
"Nggak apa-apa Bun, lagian Fabi baik-baik aja kok. Bunda jangan khawatir." Kata Fabian yang kemudian berjalan ke arah ranjangnya diikuti Bunda Wiwi. Sementara Ayah Alex hanya duduk di sofa yang ada di kamar Fabian.
"Lagian kamu ini udah tahu alergi bawang bombai kenapa masih ngeyel makan spaghetti sih?." Heran Bunda Wiwi.
Fabian hanya menampilkan senyuman pasta gigi.
"Udahlah Bun, namanya juga anak muda. Bunda Kayak nggak tahu aja deh." Timpal Ayah Alex yang membuat Fabian menjadi salah tingkah.
Bunda Wiwi duduk di tepi ranjang menemani Fabian yang masih duduk bersila.
"Lagian masa Fabian nolak makanan yang udah Adel pesan sih, kan Fabian gengsi Bun." Kata Fabian mengadu kepada sang Bunda.
"Ya ya ya, kamu itu mah gengsian sih jadi anak." Jawab Bunda Wiwi pasrah.
"Tumbenan kamu makan bareng Adel, biasanya kan kamu anti sama cewek yang berisik." Ledek Ayah Alex yang membuat Bunda Wiwi menatap tajam Fabian.
Bunda Wiwi menempelkan punggung tangannya di kening Fabian. "Anak Bunda nggak sakit kan?." Tanya Bunda yang membuat Fabian mendengus sebal.
"Apaan sih Bunda sama Ayah. Bukan Adel yang itu tapi Adel yang satunya lagi." Jelas Fabian yang membuat Bunda dan Ayah Alex tersenyum simpul.
"Adelina maksud kamu?." Tegas Ayah Alex.
"Benar Adelina yang kamu maksud?." Kini giliran Bunda Wiwi yang bertanya.
Fabian menggaruk telinganya tanpa sadar karena malu. "Ya gitu deh." Jawab Fabian malu-malu.
Bunda Wiwi dan Ayah Alex tertawa geli melihat tingkah Fabian.
"Ih, Ayah sama Bunda kok gitu sih. Udah ah sana Fabi mau istirahat." Usir Fabian yang terlanjur malu.
Ayah dan Bunda bangkit dari duduknya. Saat hendak menutup pintu Bunda membalikan badannya dan kembali meledek Fabian. "Mau istirahat atau mau mikirin Adelina?." Ledek Bunda Wiwi yang terkekeh.
Fabian langsung menyembunyikan wajahnya dengan bantal. Sungguh predikat cool nya turun drastis karena ulah sang Bunda dan Ayah.
Sementara itu, di tempat kos yang Adelina tempati dirinya tengah duduk dengan penuh kebingungan.
"Aneh, kenapa bisa?." Lirih Adelina bertanya kepada dirinya sendiri.
Adelina menatap pena milik Ai yang tengah digenggamnya. Tanpa menunggu lama diraihnya selembar kertas yang ada di meja.
Adelina menggoreskan pena tersebut. Tinta pena yang semula berwarna biru tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
"Oh astaga!, apa ini nyata?." Kata Adelina yang terkejut dan memundurkan kursinya.
Dooorrr
"Apa baru sekarang kau terkejut nona gila?." Ledek Ai yang hadir di samping Adelina.
Adelina yang terkejut langsung memegangi dadanya dan menoleh ke arah pintu.
"Terkunci." Lirih Adelina yang kemudian menatap Ai dengan penuh tanya.
"Bagaimana bisa kau ada di sini!". Tanya Adelina yang bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Ai.
"Aku?, em... bagaimana ya?." Ledek Ai yang malah balik bertanya.
"Dasar pak tua mesum!, bisa-bisanya kau ada di kamar seorang gadis malam-malam begini." Omel Adelina dengan berkacak pinggang.
Antara takut dan sedikit berani sepertinya, Adelina tidak ingin terlihat lemah di hadapan sosok laki-laki yang selalu mengusiknya sejak kemarin.
"Hahaha..., berteriak lah jika kau ingin di cap gila oleh warga." Ejek Ai yang kemudian merebahkan dirinya di kasur Adelina.
"Dasar pak tua gila!." Pekik Adelina yang langsung memukuli Ai dengan bantal.
Ai terus mengadu kesakitan. "Sudah-sudah!, hentikanlah. Aku akan menceritakan sesuatu tentang ku." Ucap Ai yang membuat Adelina menghentikan aksinya.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂
Kira-kira siapa sih sosok Ai?, dan hubungan apa yang mereka berdua punya?🤔