Red Pen

Red Pen
Keputusan



Situasi semakin panas dan canggung. Adelina duduk di antara Bunda Wiwi dan Alister sementara Ayah Alex dan Kakek Abeer masing-masing duduk di sofa tunggal.


Adelina menatap Bunda Wiwi dengan tatapan nanar. "Bun." Lirih Adelina.


Tentu saja dia terkejut dengan kedatangan mereka bertiga yang akan memintanya benar-benar menjadi bagian keluarga dari mereka.


Bunda Wiwi menggenggam tangan Adelina. "Nak, Bunda sudah menganggap mu seperti putri Bunda. Jadi Bunda mohon terima lah lamaran putra Bunda, dengan begini kau akan benar-benar menjadi putri Bunda yang sebenarnya." Kata Bunda Wiwi mencoba meyakinkan Adelina.


Adelina menatap Kakek Abeer dan Ayah Alex bergantian. Mereka berdua mengangguk, lalu kemudian Adelina menatap Alister yang duduk di sampingnya.


"Menjauh lah sedikit dari ku, kenapa kau sangat bau." Ketus Adelina yang membuat Bunda Wiwi, ayah Alex dan Kakek Abeer tertawa kecil. sementara Alister mengangkat sebelah alisnya.


"Aku tidak bau." Balas Alister setelah mengendus tubuhnya sendiri.


Adelina tampak kesal dan sedikit bergeser ke arah Bunda Wiwi, bahkan tidak ada lagi jarak antara Bunda dan Adelina.


"Memangnya berapa liter parfum yang kau pakai?, kenapa baunya hampir memenuhi satu rumah." Omel Adelina lagi.


Bunda Wiwi mengelus pundak Adelina. "Tenanglah, biar nanti bunda yang mengingatkan Alister untuk mengurangi parfumnya." Ucap Bunda Wiwi yang membuat Alister sedikit lebih tenang.


"Bun, Yah, sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Alister yang sudah tidak betah.


"Pulang lah dan jangan mengharapkan jawaban dari cucu ku." Kata Kakek Abeer yang membuat Alister sadar jika dia belum menerima jalanan dari Adelina.


"Jadi bagaimana, kau mau besok menikah?." Tanya Alister langsung kepada Adelina yang ada di sampingnya dengan menjaga jarak.


Adelina mendelik lalu menatap Bunda Wiwi. "Bun, apa seperti ini putra mu mengajak seorang wanita untuk menikah?. Mengajak menikah kok seperti itu." Tanya Adelina yang kemudian menggerutu.


Bunda Wiwi tersenyum. "Sayang, apa kau mau menjadi putri Bunda?." Tanya Bunda Wiwi lembut.


Adelina mengangguk. "Tentu saja Bun." Jawab Adelina semangat.


"Bun, kita sudah dapat jawabannya. Mari pulang." Ajak Alister.


"Eh, kenapa begitu?." Tanya Adelina tidak terima.


Alister menatap Adelina. "Kau kan sudah berkata iya, jadi lebih baik aku pulang lah." Jawab Alister yang membuat Adelina memeluk lengan Bunda Wiwi.


"Pulang lah sendiri, Bunda dan Ayah akan tetap di sini." Ketus Adelina yang membuat Alister sebal.


"Bun ayo lah." Rengek Alister.


Adelina tidak terima. "Bun, katakan siapa putri mu sekarang?." Tanya Adelina.


"Tentu saja kau putri Bunda." Jawab Bunda Wiwi yakin.


Adelina menatap Alister. "Kau dengar bukan jika Bunda Wiwi adalah Bunda ku." Tegas Adelina.


"Tapi aku juga putranya." Protes Alister tak mau kalah.


Adelina tidak tinggal diam. "Bun, lihatlah anak mu tidak mau mengalah." Adu Adelina yang membuat Bunda Wiwi pusing dengan tingkah mereka.


"Diam, sudah lah. Lebih baik kalian berdua pulang ke rumah Bunda." Titah Bunda yang langsung membuat mereka berdua menunduk.


"Hahaha..., ini sebuah drama seperti dulu." Ledek Kakek Abeer yang sedari tadi diam.


"Om benar, ini seperti dejavu." Timpal Ayah Alex yang ikut tertawa.


Mereka kemudian saling tertawa kecuali Adelina dan Alister yang terus saling mengibarkan bendera perang.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂