
Flashback On
"Emmmph!." Suara yang Adelina keluarkan ketika bibirnya bertemu benda sejenisnya.
Adelina terus meronta, menangis sejadi-jadinya. Ini kah karmanya karena telah berbuat hal yang tidak semestinya.
Adelina memejamkan matanya, bukan karena kenikmatan yang dia rasa. Dia hanya berharap jika tuhan segera memeluknya sebelum dia sampai membuka mata.
Laki-laki itu melepaskan bibir Adelina dan mengganti kegiatannya. Suara ******* terdengar di telinga Adelina yang membuat dia menggigit bibir bawahnya. Sungguh Adelina merasa begitu hina.
Bulu kuduknya berdiri ketika merasakan sentuhan aneh yang seolah dialiri listrik dengan tegangan kecil ketika bersentuhan dengan kulitnya.
"Akh!." Pekik Adelina ketika merasakan nyeri yang luar biasa.
"Maafkan aku." Bisik laki-laki itu di telinga Adelina dengan suara yang lirih.
Adelina hanya menangis, menyalurkan rasa sakit nya dengan mencengkram pundak pemuda itu. Adelina menggelengkan kepalanya seolah meminta pemuda itu untuk mengehentikan kegiatannya.
Namun sayang, rintihan nya justru terdengar begitu membangkitkan. Perlahan tapi pasti, semuanya berjalan begitu saja. Pemuda itu semakin lihai dan membuat Adelina ikut terbuai.
Jika toilet hanya sebagai pembuka, maka ranjang menjadi tempat ronde selanjutnya. Jangan lupa, pemuda itu tentu saja mematikan lampu kamar mereka.
Flashback off
Adelina terisak, hancur sudah semuanya. Kini apa yang dia harapkan dari sisa hidupnya. Perlahan Adelina bangkit dan mencari pakaiannya yang sudah tergeletak di lantai. Tidak lupa pula dia mencuci wajahnya agar tidak membuat orang sekita curiga.
"Curiga?." Lirih Adelina yang tertawa miris.
Bukankah ini hal yang lumrah di tempat seperti ini. Adelina berjalan dengan perlahan, sebab nyeri yang ada pada daerah intinya begitu terasa.
Ceklek
Adelina membuka pintu kamarnya dan hendak pergi meskipun entah kemana dia akan singgah.
Saat baru hendak melangkah, tanpa Adelina sadari ada seseorang yang memukul dirinya dari belakang dan membuat kesadarannya hilang.
...*********...
Di sebuah ruangan Adelina terbaring lemah di ranjang.
Sang asisten hanya mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Emmmh...." Adelina tersadar.
Namun alangkah terkejutnya dia ketika mendapati sosok laki-laki yang selalu dia hindari selama ini. Adelina langsung bangkit, sementara laki-laki paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Adelina.
Plak
Tentu sudah pasti sebuah tamparan Adelina dapatkan.
"Sudah sadar!, apa kau tidak mempunyai akal!." Bentaknya setelah menampar Adelina.
"Kakek?." Lirih Adelina.
"Siapa yang kau panggil kakek?!, cucu macam apa kau ini!." Ucap Kakek Abeer emosi.
Tangannya terkepal erat, terlebih setelah kabar yang dia terima mengenai cucu semata wayangnya.
"Di mana laki-laki brengs*ek itu?!." Tanya Kakek Abeer yang mengetahui apa yang dialami oleh Adelina.
"Jadi Kakek....?." Ucap Adelina yang tidak menyangka jika sang Kakek sudah mendengar tentang berita kemalangan yang menimpanya.
Kakek Abeer menghela nafasnya, seburuk apapun Adelina kini hanya itu yang Kakek Abeer punya. Sebuah cinta yang Vita dan Gilang tinggalkan.
"Hiks...hiks...!." Adelina terisak, ketika menyadari kesalahannya terlalu fatal.
"Maaf...." Lirih Adelina yang membuat Kakek Abeer pun menjadi tidak tega.
Kakek Abeer mendekat dan memberikan pundaknya untuk Adelina bersandar.
"Menangis lah, kau harus ingat bahwa Kakek mu masih ada dan akan selalu sama." Ucap Kakek Abeer yang membuat Adelina langsung memeluk sosok laki-laki yang selalu dia cinta setelah ke dua orang tuanya.
Lantas bagaimana kah kisah Adelina ke depannya?.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂