Red Pen

Red Pen
Kesal



Di ruangan rapat Adele terus mengumpat tentang pimpinan baru mereka, sedangkan Adelina terus menunduk karena merasa tidak enak badan.


Memang hanya ada beberapa orang saja yang hadir di ruangan itu. Seperti Fabian, Adele, Adelina, Martinus, Fariz, Azka dan beberapa lagi orang yang mengikuti kegiatan rapat mendatang.


Ceklek


Pintu baru saja terbuka. Bahkan Alister masih memegang handel pintu dan baru satu langkah masuk ke dalam ruang rapat.


"Hoek...!."


Adelina membekap mulutnya, namun gejolak diperutnya semakin tidak tertahankan. Sementara Alister juga mengalami hal yang serupa dengan Adelina. Alister berbalik arah dan mencari toilet untuk memuntahkan isi perutnya.


Tak berbeda dengan Alister yang datang dan langsung pergi, Adelina beranjak dari duduknya dan bergegas ke luar ruangan mencari tempat yang menurut nya sedikit lebih nyaman.


*Toilet.


"Hoek..." Alister memuntahkan hampir semua sarapan yang tadi pagi dia santap.


Pengaruh minuman semalam memang masih cukup terasa efeknya Alister rasa. Alister lantas membasuh wajahnya, namun lagi-lagi dirinya kembali muntah.


"Hoekmmp!. Astaga, kenapa jadi begini." Kata Alister yang merasa kesal karena tak jadi memimpin rapat.


Hampir 20 menit Alister habiskan di toilet, bahkan Fabian yang melihat kakaknya langsung ke luar tadi lantas mengekor di belakangnya.


"Kak, apa kau baik-baik saja?." Tanya Fabian cemas ketika melihat Alister pucat.


Alister menggeleng. "Kau kan sudah lihat, kenapa harus bertanya." Omel Alister.


Fabian mendelik sebal. "Ck, tahu begitu lebih baik tidak usah aku mencari mu." Balas Fabian dengan berdecak sebal.


Fabian baru saja hendak pergi namun Alister mencegahnya. "Hei kau ke mana?, bantu aku keluar dari sini." Kata Alister yang membuat Fabian membantunya dengan setengah-setengah.


Baru saja mereka keluar dari toilet, kegaduhan terjadi ketika Fabian melihat Adelina yang dibopong Martinus karena tidak sadarkan diri.


"Adelina." Lirih Fabian yang langsung melepaskan tangan Alister yang tengah dia pegang.


Bruukkk


Fabian yang baru saja melangkah langsung menoleh ke belakang. "Ayo lah Kak, kenapa kau juga ikut-ikutan." Kata Fabian yang kemudian memapah Alister dan menuju ke halaman di mana ada ambulance yang sepertinya hendak membawa Adelina.


...*********...


Rumah sakit.


Adelina terbaring lemah di ranjang UGD.


"Apa kau merasa sudah baikan?." Tanya dokter Prilis.


Adelina mengangguk. "Sudah lebih baik, terimakasih." Jawab Adelina.


Dokter Prilis mendekat lalu menggenggam pergelangan tangan Adelina. "Apa ini yang membuat Tuan Abeer tekanan darahnya tidak stabil." Ucap dokter Prilis yang membuat Adelina merubah posisinya untuk duduk.


"Dokter kenal dengan kakek?." Tanya Adelina penasaran.


Dokter Prilis menghela nafasnya lalu mengangguk. "Tentu saja, lain kali jangan ceroboh kau ingat itu." Kata dokter Prilis menasehati Adelina.


Adelina mengangguk.


Dokter Prilis memasukan ke dua tangannya ke saku jas dokternya. "Untuk sementara jangan minum alkohol terlebih dahulu. " Kata dokter Prilis yang kemudian melangkah dan hendak meninggalkan Adelina


Adelina meniup telapak tangannya lalu mencium aroma nafasnya. "Tidak terlalu bau kok, lagi pula semalam aku hanya minum satu gelas." Lirih Adelina yang masih bisa didengar oleh dokter Prilis.


"Tentu saja aku tahu, penciuman ku sangat tajam." Jawab dokter Prilis dengan mengendus-endus dan kemudian benar-benar pergi meninggalkan Adelina.


Adelina bergidik ngeri. "Jangan-jangan dia juga bisa mencium kebohongan." Pikir nyeleneh Adelina.


Adelina merapikan penampilannya yang sedikit acak-acakan karena dirinya yang tadi pingsan. Dokter Prilis mengatakan bahwa dirinya hanya kelelahan dan asam lambungnya sedikit lebih tinggi. Setelah diberi beberapa suntikan vitamin Adelina sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Kakek, ku mohon berpura-pura lah tidak tahu jika aku nakal." Lirih Adelina dengan mengatupkan kedua tangannya sembari matanya terpejam.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂