Red Pen

Red Pen
Marah



Alister masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Bahkan Fabian yang duduk menonton televisi dia acuhkan begitu saja.


Alister segera menuju ke kamarnya namun kosong, tidak ada Adelina di sana. Alister kembali turun ke lantai bawah.


"Bun." Teriak Alister dengan menuruni anak tangga.


"Bunda." Panggil Alister lagi.


Bunda Wiwi yang mendengar Alister memanggilnya lantas ke luar dari dapur.


"Kamu kenapa kok teriak-teriak, Adel nya mana?". Tanya Bunda Wiwi.


"Loh, bukannya Adel udah nyampe duluan?." Tanya balik alister.


"Duluan?, kalian nggak pulang bareng?." Cecar Bunda Wiwi dengan memicingkan matanya.


"Adel marah tadi jadi dia naik taksi." Jelas Alister panik.


"Kok kamu nggak ngejar?." Heran Bunda Wiwi dengan sikap putra sulungnya itu.


"Mana sempat Bun, dia aja udah kabur duluan." Jawab Alister.


Bunda Wiwi memukul lengan Alister. "Kamu ini gimana sih, belum jadi suami aja udah bisa kecolongan gitu." Omel Bunda Wiwi.


"Bunda ngomelnya ditunda dulu deh. Kita cari Adel nya." Kata Alister yang kemudian menarik tangan Bunda Wiwi berjalan menuju pintu depan.


"Loh, Bunda mau ke mana?." Heran Fabian yang melihat Bundanya akan pergi dengan masih mengenakan celemek masak.


"Adel hilang." Jawab Alister.


"Hilang?." Beo Fabian bingung.


Bunda dan Alister mengangguk.


"Orang Adel lagi tidur tuh di kamar Fabi." Ucap Fabian dengan santainya disaat mereka berdua panik.


"Kenapa nggak bilang dari tadi." Kesal Alister.


Bunda Wiwi kembali memukul lengan Alister. "Kamu itu, makanya cari yang benar. Udah lah Bunda mau lanjut masak." Kata Bunda Wiwi yang kembali melanjutkan kegiatannya.


Alister langsung menuju ke lantai atas, tepatnya kamar Fabian untuk memastikan bahwa Adelina benar ada di sana.


Ceklek


Dengan hati-hati Alister membuka pintu. Alister berjalan mendekat ke arah Adelina yang terlelap.


"Selamat istirahat anak daddy." Lirih Alister dengan membenarkan selimuti Adelina dan menyempatkan untuk mengelus perut Adelina yang masih rata.


Alister menatap wajah Adelina, menyelipkan beberapa anak rambut yang sepertinya mengganggu tidur nyenyak calon isterinya itu.


Bernafas lega, Alister memilih duduk di bangku sembari menghubungi dokter Prilis dan bertukar pesan.


Karena merasa lelah setelah seharian penuh drama, Alister ikut bergabung dengan Adelina tidur di ranjang milik Fabian.


Adelina yang merubah posisinya tanpa sadar memeluk Alister yang ada di sampingnya. Jarak mereka semakin dekat, bahkan Alister bisa merasakan deru nafas Adelina yang menabrak lehernya.


Cup


Sebuah kecupan penghantar tidur Alister berikan kepada Adelina. "Maafkan aku." Lirih Alister yang kemudian ikut terlelap.


Alister memeluk Adelina namun berusaha untuk tidak meletakkan tangannya tepat di perut Adelina. Sungguh pemandangan yang indah bukan.


...*********...


Jika sang Kakak tengah disibukkan dengan urusan calon isterinya, lain halnya dengan Fabian yang justru kini bertambah beban.


Urusan kantor saja sudah membuatnya ogah-ogahan, apalagi ditambah dengan persoalan Fonna yang terus saja mengatakan jika dia tengah mengandung anaknya.


"Kakak saja sudah dapat murka, apalagi jika aku?, dicoret dari kartu keluarga?." Ucap Fabian menebak hal apa yang akan dia terima jika benar Fonna tengah mengandung anaknya.


"Tenang lah Fabi, jangan pikirkan hal yang rumit." Kata Fabian kepada dirinya sendiri dan kemudian memilih memainkan game di ponselnya dari pada bekerja.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂