Red Pen

Red Pen
Kehilangan



Hari ini Adelina memutuskan untuk meminta ijin karena entah baik fisik maupun mentalnya sedang tidak baik-baik saja.


Adelina masih setia duduk di ranjang miliknya meski jarum jam telah menunjukkan pukul 09.15. Tidak ada niat sedikit pun dirinya beranjak dari sana.


"Bunda, Adel kangen." Lirih Adelina memeluk lututnya.


Kehadiran Bunda Wiwi dalam beberapa bulan belakangan membuatnya seolah merasa bahwa sosok Bunda Wiwi adalah pengganti Mamih Vita yang tuhan kirim kan kepadanya.


"Ai, di mana?. Mana janji mu selalu ada?." Kata Adelina dengan meneteskan air mata.


Bahkan sosok Ai yang biasa hadir di hari-harinya kini seolah menghilang selamanya. Sosok Ai yang selalu membuatnya, marah, jengkel dan bahagia dalam waktu yang sama. Sungguh Adelina begitu merindukan mereka.


Haruskah dia lagi-lagi bercerita kepada Adele sahabatnya. Tentu tidak, Adelina tahu pasti Adel pun sama seperti dirinya. Terlalu banyak beban yang sudah melewati batas muatan.


"Adele rindu, sungguh." Ucap Adelina yang kemudian membenamkan kepalanya.


...*********...


Waktu terus berjalan bahkan ketika dunia mu sedang dalam kehancuran. Adelina mencoba menerima semua takdirnya meskipun dengan susah payah.


Saat ini Adele dan Adelina berjalan bersama memasuki gedung perusahan dengan beriringan. Senyum manis Adelina telah kembali berkat adanya Adele sosok yang begitu dekat dengannya.


"Mari queen, silahkan." Ucap Adele yang mempersilahkan Adelina memasuki lift terlebih dahulu.


"Tentu dengan senang hati hamba ku." Kata Adelina dengan tertawa.


"Ck, kapan kita tukar posisi?. Aku juga ingin menjadi tuan putri nya." Protes Adele yang juga sudah ikut masuk ke dalam lift.


Adelina tertawa mendengar permintaan Adele. "Cari dulu pangerannya sana." Kata Adelina bercanda.


Saat akan menekan tombol lift, tiba-tiba Azka bergabung dengan mereka.


"Lihatlah pangeran ku sudah datang." Balas Adele dengan menjulurkan lidahnya ke arah Adelina.


Azka yang baru saja bergabung lantas bingung dengan pembahasan ke dua wanita itu.


"Pangeran?, aku?." Tanya Azka dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Azka cepat lah, jangan sampai telat." Ucap Fabian yang ternyata datang di belakang Azka.


Keheningan terjadi. Hanya ada kecanggungan di antara mereka.


"Aku harus pergi, kau duluan saja." Ucap Adelina yang melangkah hendak ke luar dari lift yang hampir tertutup.


Fabian refleks mencekal tangan Adelina. "Masuk lah. Ini perintah atasan." Tegas Fabian tanpa melepaskan tangan Adelina.


Fabian memberikan kode kepada Azka untuk segera menekan tombol lift. Dengan sigap Azka langsung menjalankan perintah Fabian.


Mereka berempat hanya diam, sesekali Fabian melirik Adelina yang terus membuangnya wajahnya ke samping agar mereka tidak saling bertatapan. Sementara Azka dan Adele sudah jelas asik dengan dunia mereka yang baru kembali mekar meskipun hanya melalui gandengan tangan.


Ting


Pintu lift terbuka. Adelina hendak keluar terlebih dahulu, sungguh kini berdekatan dengan Fabian membuat Adelina merasa tidak nyaman.


Namun sayang, kecerobohan Adelina membuatnya hampir terjatuh jika saja Fabian tidak sigap menolongnya.


"Buka mata mu dan berjalan dengan baik." Ucap Fabian yang masih memegang tangan Adelina.


Adelina yang tersandung kakinya sendiri membuat jarak dirinya dan Fabian hampir terkikis habis. Fabian bahkan tidak ragu memeluk pinggang Adelina demi agar wanita yang kemarin menolak cintanya tidak terluka.


"Terimakasih." Ucap Adelina yang melepaskan tangan Fabian dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Sayang, bukan kah tadi terlihat seperti adegan drama?." Bisik Adele di telinga Azka.


Cup


Azka mencium kening Adele tanpa aba-aba. "Ini juga bagian drama sayang ku." Kata Azka berbisik.


Azka melambaikan tangannya dan berjalan mengekori Fabian yang sudah ke luar terlebih dahulu.


"Astaga, manisnya pangeran ku." Lirih Adele dengan menyentuh keningnya yang baru saja dikecup Azka.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂