Red Pen

Red Pen
Taruhan



Takdir tuhan itu misteri. Semula yang pahit kadang akan berujung manis, semula yang manis kadang akan tetap terasa sedikit pahit dan yang kadang pahit akan sedikit terasa manis ketika kita menyadari sisi positif yang ada meskipun entah sekecil apa.


Lantas bagaimana ketika takdir menjungkirbalikkan hidup?, menukar kebahagiaan dengan duka lara. Memisahkan ke dua insan yang tengah dilanda cinta karena sebuah takdir yang mereka punya.


...*********...


Bulan demi bulan telah berganti, kini usia kehamilan Adelina bahkan tidak terasa sudah menginjak 7 bulan. Dirinya tak lagi bekerja atas perintah dari Alister suaminya dan ke dua mertuanya.


Adelina hanya menghabiskan waktu di rumah dengan Bunda Wiwi jika memungkinkan, karena pada kenyataannya Bunda Wiwi pun kadang harus ikut menemani Ayah Alex ketika harus pergi ke luar kota.


"Kenapa rasanya sangat bosan." Keluh Adelina yang tengah duduk di ruang tamu sembari menunggu kepulangan Alister sore ini.


Adelina menatap dan mengelus perutnya. "Sayang, bisa kah selalu ada untuk Mommy?." Tanya Adelina dengan tersenyum.


Puas mendapatkan respon tendangan dari sang baby. Adelina lagi-lagi mengajak calon anaknya mengobrol sama seperti yang sering Alister lakukan ketika dirinya tengah tertidur setiap malam.


"Mommy hanya sedikit takut jika Mommy tidak bisa menemanimu. Jangan khawatir, daddy tentu saja ada." Ucap Adelina yang kemudian memilih menelpon Alister.


Tut


Tut


Tut


Terdengar nada sambung yang cukup lama sebelum akhirnya terdengar suara Alister dari seberang sana.


"Halo sayang." Sapa Alister.


"Halo Mas, kamu masih lama pulangnya?, baby kangen nih." Jelas Adelina dengan menjadikan anak mereka sebagai alasan.


"Hahaha, baby atau Mommy nya?." Ledek Alister dengan tertawa.


Adelina yang mendengar suara bising dan ramai sedikit penasaran.


"Mas, kamu lagi di mana memangnya?." Tanya Adelina.


Tak ada jawaban dari seberang sana.


"Alister, cepat lah aku sudah tidak tahan lagi."


"Tahan lah sebentar Glara, ini akan selesai sebentar lagi."


"Mas?." Lirih Adelina sebelum memilih mematikan sambungan teleponnya.


Mata Adelina nanar, salahkah pendengarannya kali ini. Atau memang inilah fakta yang Tuhan beri.


"Astaga, ya tuhan. Kenapa seperti ini?!." Lirih Adelina bertanya-tanya.


Adelina terkejut tentu saja, namun dia masih berusaha untuk berfikir positif. Namun kenapa harus dengan Glara mantan suaminya, bukan kah Alister bilang jika Glara tinggal di luar negeri maka dari itu Adelina tidak perlu mengkhawatirkannya suaminya.


Dari lantai atas, Fabian turun dengan tergesa-gesa. "Adel!." Teriak Fabian yang membuat Adelina menghapus jejak air mata yang ada di pipinya.


Adelina berdiri ketika Fabian telah berada di hadapannya. "Ada apa, kenapa kau terburu-buru?." Tanya Adelina penasaran.


Fabian lalu menceritakan jika dia mendapat kabar bahwa Fonna akan segera melahirkan dan kondisinya saat ini kritis.


"Astaga, kita harus ke sana cepat." Ujar Adelina yang meminta Fabian segera pergi.


"Tapi Kak Alister pasti akan melarang mu pergi." Ucap Fabian ragu dan takut jika kakaknya murka.


"Aku akan mengabari Mas Ai di jalan nanti, cepat lah." Jawab Adelina yang kemudian pergi dengan Fabian menaiki mobil.


...*********...


Di sepanjang perjalanan Fabian hanya fokus dengan mengemudi, meskipun sesekali mulutnya mengumpat karena harus melajukan mobilnya sedikit lebih pelan.


Tak berbeda dengan Fabian, Adelina pun tampak gusar ketika nomor Alister tak kunjung dapat dihubungi padahal kini dirinya dan Fabian tengah berada di situasi yang cukup mendesak.


Adelina mendesah pelan dan membuat Fabian menoleh ke arahnya. "Ada apa?, apa Kak Alister sudah tahu kita pergi?." Tanya Fabian yang hanya mendapat gelengan dari Adelina.


"Tidak, bahkan sejak tadi ponselnya tidak aktif. Aku hanya takut jika dugaan ku benar." Lirih Adelina dengan menundukkan kepalanya.


"Dugaan?." Beo Fabian dengan menaikan sebelah alisnya.


Adelina mengangguk samar, lalu menceritakan tentang dirinya yang mendengar jika Alister tengah bersama Glara mantan kekasih suaminya.


"Astaga, kenapa Kak Alister sangat ceroboh." Kata Fabian lirih melihat Adelina yang tampak sedih apalagi dia tengah berbadan dua, sudah pasti itu mempengaruhi keadaannya.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂