Red Pen

Red Pen
Keluarga



Ke empat insan terus terus berbincang ke sana dan kemari.


Ayah Alex menghela nafasnya. "Sepertinya hanya itu permintaan dari kami." Ucap Ayah Alex dengan tersenyum kepada Adelina.


Adelina menganggukkan kepalanya. "Terimakasih atas kepercayaan yang telah Anda berikan kepada saya." Jawab Adelina.


"Di mana kamu tinggal nak?." Tanya Bunda.


"Saya tinggal di kos dekat kantor Bu." Jawab Adelina sopan.


"Panggil saja Bunda Wiwi seperti Fabian. Lagi pula kita akan menjadi keluarga ke depannya bukan?." Ucap Bunda Wiwi yang membuat Fabian tersedak air liurnya.


Sementara Adelina menjadi sedikit canggung. "Baik Bu, eh Bunda maksudnya." Kata Adelina meralatnya.


Bunda Wiwi mengangguk. "Kenapa kamu tidak pulang ke rumah?." Tanya Bunda Wiwi basa-basi.


"Bun, sudahlah jangan terlalu mengorek informasi pribadi." Ucap Fabian yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang Bunda sementara Ayah Alex tertawa kecil melihat Fabian yang langsung terdiam.


"Tidak apa-apa Pak. Saya hanya tinggal sendiri sekarang Bun." Jawab Adelina dengan tersenyum.


"Lantas di mana ke dua orang tua mu?." Kini giliran Ayah Alex yang bertanya.


Adelina tersenyum. "Mereka telah meninggal ketika saya masih kecil." Jelas Adelina.


"Astaga, maaf jika Bunda membuka luka lama mu nak." Ucap Bunda tak enak hati.


Hanya senyum yang bisa Adelina berikan. Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini tentu sudah pasti dia sangat merindukan ke dua orang tuanya.


"Ayah, Bunda. Fabian dan Adelina harus kembali bekerja. Kami berdua permisi." Pamit Fabian yang langsung menggandeng tangan Adelina.


Adelina yang tak sempat berpamitan hanya mampu menundukkan kepalanya sebentar kepada Ayah Alex dan Bunda Wiwi.


...*********...


"Ah, maaf. Soal tadi yang Bunda tanyakan aku minta maaf jika sudah me-." Kata Fabian panjang lebar dan langsung dipotong oleh Adelina.


"Tidak masalah Pak. Kalau begitu saya permisi." Pamitan Adelina yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Fabian seorang diri.


"Adelina, bisa kah kau tidak membuat jantung ku bekerja dua kali lipat seperti ini." Lirih Fabian dengan memegang dadanya yang berdetak lebih cepat.


Senyum tipis muncul di bibir Fabian ketika melihat punggung Adelina yang berjalan menjauh dari pandangannya.


...*********...


Adelina kembali ke ruangannya. Di sana Adele telah menantinya cukup lama.


"Adelina, apa yang kalian bahas dengan Tuan dan Nyonya besar?. Apakah semacam perjodohan?!." Cecar Adele yang langsung mendapat sentilan dari Adelina.


"Perjodohan perjodohan!, hei otak kecil jangan terlalu banyak berfikir." Celetuk Adelina yang kemudian duduk di kursinya.


"Wah wah wah. Apakah mulai ada rahasia di antara kita?." Cecar Adele yang kemudian duduk di meja dekat Adelina.


Adelina menguap dan merenggangkan kedua tangannya. "Aku sangat mengantuk, bangun kan aku jika sudah jam makan siang." Pinta Adelina yang langsung menjadikan tangannya sebagai bantal di meja.


"Hei calon nona kaya!, siapa yang berangkat ke kantor hanya untuk tidur memangnya?." Heran Adele.


"Diam lah, aku lelah semalam begadang. Jadi biarkan otak ku beristirahat sebentar saja." Jawab lirih Adelina yang sudah memejamkan matanya.


Benar saja, ocehan dari Adele sudah tidak Adelina tanggapi karena dirinya yang sudah tertidur.


"Aku heran, apakah isi otaknya sangat banyak?. Kenapa semua yang di tulisnya selalu tidak ada habis-habisnya." Kata Adele yang melihat tumpukan kertas di meja milik Adelina.


Adele memilih untuk ke bangku milikinya dan menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya sebelum jam istirahat nantinya.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂