Red Pen

Red Pen
Halte Bus



"Kamu saya pecat!." Ucap Adelina dengan mimik yang menirukan ucapan atasannya.


Oh tidak, lebih tepatnya mantan atasan. Adelina menyusuri trotoar dengan langkah gontai, ke mana lagi dirinya akan mengadu nasib ke depannya.


Langkah demi langkah terus berulang, hingga dirinya tidak terasa telah sampai di halte bus tempat biasa yang menjadi awal dan akhir setiap hari-harinya.


Adelina duduk seorang diri menunggu bus yang akan mengantarkannya ke sebuah kos yang menjadi tempatnya berteduh selama beberapa bulan belakangan.


"Dasar bos sombong!." Umpat Adelina menggerutu karena tindakan mantan atasannya.


Adelina menendang-nendang ke depan, jengkel dengan perlakuan yang baru saja dia terima. Dirinya terus mengumpat tanpa menghiraukan keadaan sekitar.


"Dasar!. Laki-laki kuno, jadul!. Bagaimana bisa seseorang harus selalu bergantung kepada dua hal yang menjijikan seperti itu." Omel Adelina yang entah ditujukan kepada siapa.


"Ck, dasar wanita gila." Celetuk sosok laki-laki tampan dengan pakaian kasual yang berdiri bersandar pada tiang yang ada di halte.


Pria itu menatap Adelina dengan tatapan mengejek, sebegitu frustasi kah wanita yang ada di sampingnya itu.


"Aarrrghhh....!. Sial! dasar sial!." Tuhan bagaimana aku hidup nantinya?, bisakah kau berikan aku bos tampan yang kaya?." Teriak Adelina dengan mengeram frustasi.


"Hei nona gila, jika ingin kaya tentu harus bekerja!. Apa kau pikir jadi bos kaya hanya dengan duduk sila?!, dasar wanita gila." Omel pemuda itu menanggapi ocehan Adelina.


Adelina yang sedari tadi mengeram kesal langsung diam seketika. "Diam lah!, kau mana tahu rasanya jadi aku. Aku benci dengan pekerjaan ku!, mereka sama sekali tidak menghargai kerja keras ku apa kau tahu itu hah?!." Kata Adelina panjang kali lebar tanpa menoleh ke arah pemuda itu.


deg


Pemuda itu tertegun. "Apa kau bicara dengan ku?." Tanya pemuda itu ragu dengan menunjuk dirinya sendiri.


Adelina menoleh menatap tajam sosok yang telah berkomentar tentangnya tadi. "Kau gila!, apa kau pikir aku berbicara dengan tiang begitu?!. Hanya ada aku dan kau, lantas bagaimana bisa kau mengajukan sebuah pertanyaan retoris?!." Kesal Adelina yang kemudian berdiri.


Pemuda itu hampir saja terjatuh karena sempat oleng. "Ka... kau! dan aku?!." Tanyanya lagi memastikan.


Tap


Tap


Tap


Tuck


"Ah sakit!." Celetuk pemuda itu dengan mengusap keningnya.


"Sakit?, oh tidak!. Astaga...." Ucap pemuda itu yang kemudian segera berlari menjauh dari Adelina.


Kletak


"Hei pak tua!, pena mu tertinggal!." Teriak Adelina yang mendapati sebuah pena berwarna merah terjatuh dari saku pemuda yang baru saja dia sentil.


Adelina berjongkok kemudian memungut pena tersebut. "Oh tuhan, kenapa harus benda yang ku benci yang aku temukan?. Tidak bisakah aku menawar satu kantung uang recehan dari pada pena dari pemuda gila." Protes Adelina yang kemudian kembali berdiri.


Di lihatnya dengan seksama sebuah pena yang cukup antik itu. Sebuah pena yang cukup langka sepertinya.


"Ai?." Ucap Adelina membaca tulisan yang tertera pada pena itu.


Adelina menghela nafasnya. "Baiklah, karena kau cukup antik sepertinya akan ada pengecualian untuk mu." Kata Adelina yang memutar-mutar pena di tangannya.


"Pak Ai, berikan aku keberuntungan dengan pena milikmu." Pinta Adelina sembari memejamkan matanya dan mengatupkan kedua tangannya.


Tin


Tin


Tin


Bunyi klakson bus yang telah dinantinya sedari tadi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Adelina bergegas menaiki bus tersebut dengan penuh pengharapan. Pengharapan tentang bagaimana takdir membawanya menuju masa depan.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂