
Semalam Alister pikir semuanya telah baik-baik saja, dia bahkan dengan telaten memijat kaki Adelina yang sedikit bengkak sepertinya.
Namun sayang, pemikirannya tidak lah sejalan dengan apa yang ada di otak Adelina istrinya. Saat membuka matanya tadi, Alister tidak menemukan keberadaan Adelina di kamar mereka.
"Bun." Panggil Alister yang menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Satu-satunya sumber yang dapat dia tanyai adalah sang Bunda.
"Bunda." Panggil Alister lagi.
Bunda yang tengah membuat sarapan pagi heran dengan Alister yang mencarinya sepagi ini.
"Kamu kenapa pagi-pagi udah teriak-teriak." Protes Bunda Wiwi yang masih sibuk mempersiapkan sarapan.
"Bunda tahu Adel ke mana?, dia nggak ada di kamar tadi waktu Alister bangun." Jelas Alister panik.
Bunda menatap Alister. "Kalian berantem?." Tanya Bunda Wiwi menebak.
Alister diam, lalu mengangguk samar. "Alister yang salah, semalem Alister nggak sengaja sempet ngedorong Adel." Jawab Alister lirih yang membuat Bunda Wiwi menghela nafasnya berat.
Alister duduk di kursi dan menyembunyikan wajahnya.
"Lain kali kamu harus bisa kontrol emosi. Nggak baik ribut terus nak, apalagi itu bisa ngaruh ke baby kalian." Jelas Bunda Wiwi lembut.
"Adel marah?." Lirih Alister dengan nada bertanya.
Bunda Wiwi tersenyum, setidaknya pelan-pelan Alister belajar memahami perasaan orang lain.
Bunda Wiwi menepuk pundak Alister. "Adel pergi sama Fabi nyari bubur ayam, dia bilang nggak tega bangunin kamu. Katanya semaleman kamu pijat kakinya, emang bener?." Kata Bunda Wiwi yang kemudian bertanya untuk mematikan.
Alister tersenyum tipis lalu mengangguk samar dengan menggaruk telinganya karena merasa sedikit malu.
Tak berselang lama Fabian dan Adelina datang dengan Adelina yang berjalan duluan sementara Fabian dibelakangnya dengan membawa dua kantung kresek.
"Kalian udah pulang, dapet bubur ayamnya?." Tanya Bunda Wiwi yang melihat kedatangan Adelina. Sementara Alister duduk membelakangi mereka langsung menoleh.
"Kamu kenapa pergi sama Fabi, suami kamu kan aku." Kata Alister yang membuat Adelina heran dengan tingkah Alister.
Adelina mencium telapak tangannya lalu menempelkan ke pipi Alister.
"Muach." Ucap Adelina setelah memberikan ciuman tidak langsung kepada Alister.
Fabian dan Bunda hanya melongo dengan tingkah mereka.
"Iya suami iya, udahlah laper nih." Kata Adelina yang langsung duduk dan siap menyantap bubur ayam yang telah di belinya.
Alister memegang pipinya yang baru saja di sentuh Adelina.
"Nggak usah dipegang, nggak bakal ilang kok tenang aja Kak." Ledek Fabian yang kemudian juga duduk di kursinya.
Bunda Wiwi tersenyum dengan tingkah Alister yang masih diam mematung.
"Kamu nggak makan?." Tanya Adelina yang membuat Alister tersadar dan langsung duduk di sebelahnya.
"Ayah udah pergi pagi tadi, ada yang penting katanya." Jelas Bunda Wiwi.
Adelina menatap Fabian. "Mau nyoba nggak?." Tawar Adelina.
"Nggak, takut ada yang kurang nanti." Jawab Fabian dengan menggeleng.
"Ya udah kalau nggak mau, orang enak banget loh." Ucap Adelina yang kemudian memasukkan satu sendok penuh makanan ke mulutnya.
Hanya 3 suap, Adelina kemudian meletakkan sendok nya. "Adel udah kenyang, buat kamu aja ya Mas. Jangan dibuang sayang." Ucap Adelina yang kemudian pergi ke dapur dan menyodorkan bubur ayam miliknya kepada Alister.
Alister tanpa ragu memakan bubur ayam yang Adelina sodorkan.
Batu saja satu kunyahan Alister langsung menyemburkan bubur ayam di mulutnya. "Ini bubur ayam atau bubur garam." Keluh Alister yang langsung menenggak satu gelas penuh air putih.
Fabian dan Bunda Wiwi cuek, berpura-pura tidak mendengar apa yang Alister katakan.
Adelina datang dari dapur lalu mencium pipi Bunda Wiwi dan tersenyum.
Cup
"Sayang Bunda banyak-banyak." Ucap Adelina dengan menunjukkan deretan giginya.
Cup
Bunda membalas ciuman di pipi Adelina. "Sayang putri Bunda banyak-banyak juga." Ucap Bunda Wiwi tersenyum.
Alister dan Fabian menatap ke dua wanita itu yang bertingkah aneh.
"Bian mau?." Tawar Adelina yang membuat Fabian dan Alister mendelik.
"Emang boleh?." Polos Fabian bertanya.
Adeline menggeleng. "Enggak dong." Ledek Adelina yang membuat Fabian mendengus sebal.
"Bun, kok cicaknya makan tahu di atas." Kata Adelina yang membuat mereka bertiga mendongak ke arah yang Adelina tunjuk.
Cup
Adelina berjalan sedikit mendekat ke arah Alister dan mencium pipi suaminya sekilas.
"Nggak jadi Bun, cicaknya ngilang." Kata Adelina lagi yang membuat mereka menatapnya.
Adelina segera pergi ke kamarnya dan hendak melakukan tugas rutinnya di pagi hari.
"Jangan lari." Kata Alister sedikit berteriak ketika melihat Adelina kabur dari mereka.
Adelina kemudian sedikit memperlambat langkahnya dan tersenyum.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂