Red Pen

Red Pen
Sebuah Harapan



Tap


Tap


Tap


"Mulai sekarang aku yang mengambil alih tanggung jawab mu terhadap cucu ku." Tegas Kakek Abeer yang baru saja tiba di rumah sakit.


Alister mematung ditempatnya. "Kek, apa maksudnya?." Tanya Alister lirih dengan tangan terkepal erat.


"Om, kita bisa bicarakan ini nanti. Tolong jangan mengambil keputusan seperti ini." Pinta Bunda Wiwi.


Kakek Abeer menghela nafasnya. "Wi, semua ada batasnya. Aku hanya tidak ingin cucu ku menderita, sejak kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang ku. Sekarang biarkan aku menebusnya." Ucap Kakek Abeer berusaha tetap tenang.


"Om mengertilah, kami semua juga tidak ingin musibah ini terjadi." Kata Bunda Wiwi lagi.


Ayah Alex merangkul pundak Bunda Wiwi. "Semuanya sudah terjadi, aku sebagai mertua dan ayahnya hanya bisa mendukung keputusan putri ku." Kata Ayah Alex yang tidak ingin egois mempertahan Adelina yang belum tentu nyaman dengan mereka.


"Kek, Alister mohon. Biarkan Adelina tetap tinggal, dia istriku Kek." Protes Alister mencoba menolak keinginan Kakek Abeer.


Kakek Abeer hanya tersenyum mengejek. "Ck, istri?. Hanya di atas kertas maksudnya?!." Tanya Kakek Abeer yang membuat Alister bingung.


Kakek Abeer menatap sengit ke arah Alister. "Tanyakan kepada dirimu, benar itu sebuah cinta atau hanya sebatas tanggung jawab!." Tegas Kakek Abeer.


Deg


Alister tertegun, masih kurang kah perhatian yang dia berikan kepada Adelina. Atau memang benar kata Kakek Abeer bahwa apa yang dia lakukan hanya sebatas rasa bersalah.


"Dan satu lagi, jangan temui cucu ku." Ucap Kakek Abeer yang kemudian berlalu.


Mata Alister nanar, dia langsung terduduk di lantai. Begitu juga Bunda Wiwi yang menangis di pelukan Ayah Alex.


Mereka baru saja berduka atas kepergian Fonna selamnya, dan sekarang apa? mereka lagi-lagi kehilangan putri yang lainnya.


Lantas apakah takdir di masa depan mempertemukan mereka?.


...*********...


7 tahun kemudian


Di kediaman keluarga Pratama kini ada sebuah tawa bahagia karena kehadiran sosok gadis lucu dan cerewet di tengah-tengah mereka.


"Sayang, duduk lah dulu. Biar Oma selesaikan memasang pita mu." Ucap Bunda Wiwi yang sedikit berteriak karena cucunya terus saja berusaha menghindar.


"Hahaha, kejar Angel Oma." Balas Angel berteriak dan terus saja bersembunyi.


Bunda Wiwi menghela nafasnya, gadis kecil itu mengingatkan nya akan sosok Fabian ketika kecil.


"Bun, kenapa duduk di lantai?." Tanya Alister yang baru saja turun dari kamarnya.


"Lihatlah putri kecil mu, dia tidak mau diam ditempatnya." Adu Bunda Wiwi kepada Alister.


Alister tersenyum lucu. "Adara Angelica Pratama." Panggil Alister yang langsung membuat anak itu berhenti di tempatnya.


Angel yang melihat kedatangan Alister langsung berlari ke arahnya. "Daddy!." Pekik Angel gembira.


Angel langsung berlari dan memeluk kaki Alister. "Daddy bisakah aku ikut ke kantor?. Aku ingin mencari uang ku." Ucap Angel polos dengan mendongak menatap Alister.


"Mencari uang?." Tanya Alister yang berjongkok.


Angel mengangguk yakin.


"Memangnya Angel menginginkan sesuatu?." Tanya Alister lagi.


Deg


Hati Alister sakit, akan kah anaknya juga sama sepeti Angel yang menanyakan tentang orang tuanya.


"Angel, dengar kan Daddy." Ucap Alister dengan memegang pucuk kepala Angel.


Angel mengangguk.


"Kau itu putri Daddy yang paling istimewa." Kata Alister yang membuat mata Angel berbinar.


"Benarkah Daddy?." Tanya Angel penasaran.


"Tentu, bukan kah kau punya dua Daddy." Ucap Alister yang membuat Angel tersenyum.


"Ya, two Dads." Kata Angel dengan menunjukkan tiga jari kepada Alister.


Bunda Wiwi dan Alister tertawa.


"Dua princess." Kata Alister yang kemudian membenarkan jari Angel.


Angel menunjukkan deretan giginya. "Bisakah Angel mendapat satu daddy lagi?." Tanya Angel lagi yang membuat Alister geleng-geleng kepala.


"Apa dua saja belum cukup?." Tanya Alister dengan berkacak pinggang.


"Tidak, itu sudah banyak Daddy. Angel tidak mau dimarahi oleh daddy yang lainnya." Jawab Angel.


"Benarkah?, apa Daddy Bian memarahi mu?." Tanya Alister yang berusaha mengalihkan perhatian Angel karena dirinya sedang memasang pita di rambut putrinya.


"Ya, Daddy Bian memarahi ku karena aku tidak suka sayur." Adu Angel yang membuat Alister tertawa.


"Hahaha, seharusnya semua coklat mu harus di sita jika Daddy tahu itu." Kata Alister yang membuat Angel cemberut.


"Apa Daddy Ai akan melakukannya?." Tanya Angle dengan memicingkan matanya menatap Alister.


"Tentu saja." Jawab Alister dengan mengangguk.


Angel membuang mukanya. "Kalau begitu Angel akan mengadukan Daddy Ai kepada Daddy Bian." Ancam Angel yang menjauh dari Alister.


Tap


Tap


Tap


"Wah...wah, siapa yang berani mengganggu putriku memangnya?." Ucap Fabian yang baru saja datang dan membuat Angle langsung berlari ke arahnya.


"Daddy, Daddy lihatlah. Daddy Ai bilang dia akan mengambil semua coklat milik ku." Adu Angel yang membuat Fabian dan Alister tertawa.


Bunda Wiwi menepuk pundak Alister. " Sudahlah, Jagan terus menggodanya seperti itu." Kata Bunda Wiwi.


"Angel, kemari lah dan bawa tas milik mu. Jangan lupa awasi ke dua Daddy mu di kantor." Ucap Bunda Wiwi.


Angel mengangguk. "Tentu Oma." Jawab Angel dengan senang hati mengambil tas miliknya.


"Wah, apakah kita berkerja dengan seorang mata-mata Kak?." Tanya Fabian kepada Alister.


"Iya mata-mata produksi mu kan." Jawab Alister yang membuat Fabian cemberut.


Mereka kemudian tertawa tak terkecuali Angel iya juga ikut menertawakan sang Daddy-nya.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂