
Tok
Tok
Tok
Meja di depan Adelina sedari tadi terus diketuk berulang. Adelina yang tertidur pulas pun menjadi terganggu.
"Sebentar, biar kan aku tidur." Lirih Adelina yang enggan membuka matanya.
"Hei nona gila, apa kau mau melewatkan jatah makan siang mu?." Tanya suara yang sepertinya cukup terdengar familiar di telinga Adelina.
Adelina perlahan membuka kelopak matanya. Samar tapi pasti sosok pemuda lah yang kini tengah ada di hadapannya bukan Adele sahabatnya.
"Pak tua?!, bagaimana bisa kau di sini." Tanya Adelina yang terkejut kemudian langsung berdiri tiba-tiba.
"Tentu karena pena ku ada bersama mu bukan?." Tanya Ai dengan memicingkan matanya menatap Adelina.
Adelina melengos, lalu kembali menatap Ai yang kini berdiri sempurna di hadapannya.
"Tidak. Bagaimana bisa kau ada di dalam gedung ini?!. Apakah kau seorang pencuri?." Cecar Adelina yang balik menatap tajam Ai.
Cetak
"Hei nona gila, kau pikir selemah ini kah keamanan perusahan sebesar ini?!." Ucap Ai dengan menyentil kening Adelina.
Adelina nampak berfikir. "Kau benar, bagaimana bisa perusahaan meloloskan hama sebesar diri mu." Balas Adelina.
"Kau ini!, selalu saja membuat ku emosi!." Kesal Ai yang kemudian duduk di meja dengan melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Sudah lah, jika tidak ada kepentingan sebaiknya kau pergi. Aku harus menemui sahabat ku." Ucap Adelina mengusir Ai.
Ai menggeleng. "Kau yakin akan pergi sebelum menyelesaikan tugas mu?." Tanya Ai dengan nada mengejek.
Adelina tersadar jika sedari tadi dirinya hanyalah tidur dan belum sama sekali menyentuh pekerjaan miliknya.
"Oh tidak!. Astaga, bagaimana bisa." Kata Adelina yang kemudian melangkah mendekat ke arah meja kerjanya setelah melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan waktu pukul 11.46.
Gedebug
"Aw..., pergilah dan menyingkir dari hadapan ku!." Pekik Adelina yang merasakan sakit.
"Hei calon nona kaya, kau yang seharusnya pergi!. Bangun lah bangun wahai queen tidur!." Celetuk Adele sahabat Adelina dengan menggoyang-goyangkan pundak Adelina.
"Menyingkir lah pak tua!." Pekik Adelina yang langsung berdiri dan membuat Adele kebingungan.
"Adelina, apa kau sudah gila?." Ejek Adele yang melihat Adelina tengah berusaha mengatur nafasnya.
"Adele, bukan aku tapi dia!." Ucap Adele dengan menunjuk ke arah mejanya.
"Ya ya ya, dia yang gila atau dia yang telah membuat mu menjadi gila. Kau memang selalu membenci pena dan buku bukan?." Ucap Adele yang membuat Adelina bingung lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bukan pena dan buku. Tapi dia pak tua yang selalu menggangguku." Kekeuh Adelina yang kemudian menoleh ke arah mejanya.
"Kosong?!." Lirih Adelina.
"Kosong?!. Sadar lah calon nona kaya, bukan kah sudah aku peringatkan jangan tidur di pagi hari atau kau akan gila seperti ini." Omel Adele.
"Mimpi, itu nyata Adele. Dia datang mencari pena miliknya yang ada pada ku tadi." Jelas Adelina yang membuat Adele menghela nafasnya.
"Baiklah baiklah. Aku percaya." Ucap Adele yang membuat Adelina bernafas lega.
"Aku percaya bahwa kau sudah mulai gila sepertinya." Lanjut Adele lagi yang membuat Adelina mengerang kesal.
"Adele Adriana Agatha!, ku pastikan tidak ada traktiran untuk ke depannya." Ucap Adelina dengan tertahan sementara Adele hanya tertawa geli.
"Oh ya ampun, hamba sangat takut dengan ancaman queen. Mohon ampun queen, hahaha...." Ledek Adele yang kemudian berlalu meninggalkan Adelina.
Adelina masih diam di tempatnya lalu dengan cepat meraih pena milik Ai dan menyimpannya di saku kemudian menyusul Adele yang sudah melenggang pergi terlebih dahulu.
"Aneh." Lirih Adelina yang hendak meninggalkan ruangan kerjanya.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂