Red Pen

Red Pen
Ai?



Saat Adelina tengah berjalan mendekat ke arah jendela, bayangan Ai yang berjalan di depan membuat Adelina terkejut.


"Ai?." Lirih Adelina.


Namun Ai hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Adelina kembali melangkah dengan hati-hati hendak menghentikan Ai yang pergi dari hadapannya. Namun sayang, karena suara halilintar buatan Azka dan Adele yang mengejutkan dirinya, Adelina terpeleset dan jatuh ke lantai dengan posisi kepala yang membentur lantai keramik.


Adelina masih sempat sadar dan yakin jika dia memang melihat sosok Ai di hadapannya saat ini. Namun anehnya Ai tidak menolong dirinya dan malah pergi menghilang.


...*********...


Rumah sakit.


Adelina terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit karena luka di kepalanya lumayan parah. Selama Adelina mendapat perawatan dari dokter, Bunda Wiwi, Ayah Alex, Fabian, Azka dan Adele menunggu di luar.


"Rumah sakit?, kenapa?!. Kenapa harus selalu berakhir di sini!." Lirih Bunda Wiwi dengan menutupi wajahnya menggunakan ke dua telapak tangannya.


Ayah Alex dengan sabar dan telaten mengelus punggung Bunda Wiwi yang bergetar.


"Kau pulang lah dengan Adele, sepertinya dia cukup trauma." Kata Fabian yang langsung diangguki Azka.


Akhirnya, Azka dan Adele kembali lebih dahulu dan membiarkan mereka bertiga yang menjaga Adelina.


Ceklek


Ruangan tempat di mana Adelina di rawat terbuka. Dokter Prilis ke luar dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Bagaimana keadaannya?." Tanya Fabian yang berdiri tepat di depan pintu.


Bunda Wiwi dan Ayah Alex langsung berdiri menghampiri dokter Prilis.


Dokter Prilis menghela nafasnya. "Syukurlah pendarahan di kepalanya sudah dapat dihentikan, lagi pula bagaimana bisa dia terbentur seperti itu?." Heran dokter Prilis.


"Dia terpeleset air hujan tadi." Kata Fabian yang menjawab pertanyaan dokter Prilis.


Dokter Prilis mengangguk samar. "Lain kali lebih berhati-hatilah. Saya permisi." Pamit dokter Prilis.


"Tentu, terimakasih atas bantuannya." Ucap Fabian.


Mereka bertiga kini sedikit bisa bernafas lega.


...*********...


Prang


Sebuah vas yang terletak di meja dekat ranjang Adelina terjatuh.


"Pergi!." Teriak Adelina yang berjongkok di pojok ruangan.


Fabian yang menunggu di luar langsung masuk ke dalam dengan tergesa-gesa dan panik.


Fabian mengedarkan pandangannya, dirinya melihat sosok Adelina yang berada di sudut ruangan dengan tampilan yang acak-acakan.


"Adel!." Pekik Fabian yang langsung mendekat ke arah Adelina.


Fabian mensejajarkan tubuhnya dengan Adelina. Adelina mendongak menatap manik mata Fabian.


"Adelina, kamu kenapa?." Tanya Fabian yang hendak menyentuh pundak Adelina.


"Pergi!." Sentak Adelina dengan menampik tangan Fabian.


Bahkan tanpa ragu, Adelina mendorong pundak Fabian hingga dia jatuh terduduk.


Cetak


Cetek


Cetak


Cetek


Adelina memainkan pena yang ada di tangannya dengan tersenyum aneh. Fabian yang merasa tidak beres dengan Adelina langsung memanggil perawat dengan menekan tombol darurat yang tersedia.


"Adelina, sadar lah. Ini aku Fabian." Kata Fabian lirih berusaha mendekat ke arah Adelina.


"Entah siapa pun dirimu, itu tidak akan berpengaruh." Ucap Adelina datar tanpa menatap Fabian dan terus memainkan pena yang ada di tangannya.


Setelah menunggu cukup sedikit lama, perawat yang datang mencoba membujuk Adelina agar kembali ke ranjang nya. Namun sayang bujukan itu tidak berlaku hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menyuntikan obat penenang karena Adelina yang terus meronta.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂