Red Pen

Red Pen
Adelina



"Bian, bisakah kau peluk aku sebentar?." Tanya Adelina lirih.


Adelina yang duduk di ranjangnya dengan sedikit ragu meminta Fabian untuk memeluknya. Entah mengapa dia ingin merasakan pelukan dari seorang Fabian Mikko Pratama.


Fabian memandang Adelina. "Tentu, kemari lah." Ucap Fabian dengan senang hati sembari merenggangkan kedua tangannya.


Adelina langsung masuk ke dalam pelukan Fabian. Mendekatkan telinga kirinya ke dada Fabian. Bahkan detak jantung Fabian dapat Adelina dengar.


"Nyaman." Lirih Adelina dengan memejamkan matanya.


Braaakkkk


Suara pintu kamar rawat Adelina yang dipaksa terbuka.


"Fabian!." Pekik Fonna yang baru saja masuk dan menyaksikan pemandangan indah itu, namun tidak baginya.


Fabian yang masih berpelukan dengan Adelina, mereka berdua kompak menatap Fonna tanpa melepas pelukan mereka.


Fonna tentu saja marah, tangannya terkepal erat. Raut wajahnya langsung memerah menahan amarah.


*Sebelum kejadian.


Di depan ruangan rawat Adelina, Bunda Wiwi, Ayah Alex dan Fabian tengah berbincang-bincang. Bunda yang merasa khawatir jika Adelina seorang diri di dalam akhirnya meminta Fabian masuk.


"Fab, masuk lah. Biar Bunda dan Ayah yang berjaga." Ucap Bunda Wiwi yang langsung diangguki oleh Fabian.


Fabian melangkahkan kakinya dan membuka pintu dengan perlahan takut jika Adelina merasa terganggu.


Ceklek


Adelina yang tengah duduk di ranjangnya langsung menoleh ke arah pintu. Begitu juga Fabian yang langsung melihat ke arah ranjang di mana Adelina berada. Pandangan mata mereka saling bertemu.


Fabian tersenyum lalu mendekat ke arah Adelina. "Apa ada sesuatu yang tidak nyaman?." Tanya Fabian lembut.


Adelina menggeleng. "Maafkan aku." Kata Adelina sendu.


"Untuk apa?, ku rasa itu tidak perlu." Jawab Fabian tersenyum.


"Apa aku melukaimu?." Tanya Adelina lagi.


Adelina tersenyum tipis. "Bian, bisakah kau peluk aku sebentar?." Tanya Adelina lirih.


Mereka berdua lalu berpelukan, dan entah mengapa Fabian juga merasakan kenyamanan yang Adelina berikan.


...*********...


Di luar ruangan, saat Bunda tangah memainkan ponselnya sedang Ayah Alex pergi ke toilet. Tiba-tiba Fonna datang dengan terburu-buru.


"Tante!." Panggil Fonna sedikit berteriak.


Niatnya untuk kembali berkunjung ke rumah Fabian harus dia tunda karena dirinya mendengar kabar jika keluarga itu sejak kemarin ada di rumah sakit.


Bunda Wiwi menoleh ke arah sumber suara. "Fonna?." Ucap Bunda seolah menanyakan mengapa Fonna ada di sini.


"Fabi ada di mana Tan?, katakan." Tanya Fonna tidak sabaran.


Bunda Wiwi yang masih bingung dengan kedatangan Fonna hanya mengarahkan jari telunjuknya ke kamar yang Adelina tempati tanpa berucap apapun.


Tanpa menunggu lagi, Fonna langsung membuka pintu itu dengan kasar.


Braaakkkk


"Fabian!." Pekik Fonna.


Dirinya yang rela terburu-buru datang hanya demi Fabian justru kini disuguhkan pemandangan tak mengenakan.


Tangannya terkepal erat, dengan langkah lebar Fonna berjalan dan langsung menarik tangan Fabian agar melepaskan pelukannya kepada Adelina.


Adelina hanya diam, bingung dengan Fonna yang seolah kesetanan.


"Ikut dengan ku!." Kata Fonna yang langsung menggandeng Fabian untuk ke luar dari ruangan itu.


Fabian tidak sempat menolak, Fonna terlalu erat menggenggam tangannya. Bukan Fabian tidak mampu, namun jika dia melepaskannya dengan kasar mau dia taruh di mana wibawanya. Berbuat kasar kepada wanita yang tengah di landa rasa cemburu buta.


Bunda Wiwi yang melihat Fonna menarik tangan Fabian dan pergi tanpa sepatah kata pun hanya ikut terheran-heran.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂