
Bunda Wiwi yang ternyata di hubungi oleh Adele tadi, kini tengah berusaha membujuk Adelina agar mau makan dan meminum obatnya.
"Nak, ayolah. Jangan buat Bunda sedih." Ucap Bunda Wiwi yang duduk di ranjang Adelina.
Adelina yang tengah duduk lantas menggelengkan kepalanya. "Besok aja ya Bun, lidah Adel masih pahit." Tolak Adelina yang membuat Bunda menghela nafasnya.
"Ekhem!." Fabian yang berada diambang pintu berdehem membuat ketiga wanita cantik itu menoleh ke arahnya.
"Biar Fabi aja Bun." Ucap Fabian yang mengambil sepiring nasi di tangan Bunda Wiwi.
Fabian kini menggantikan posisi Bunda Wiwi duduk di ranjang milik Adelina. Fabian menoleh ke arah Bunda dan Adele yang masih ada di sana.
"Bisa kalian berdua mundur sedikit, sepertinya udara di kamar ini sangat panas." Ucap Fabian yang membuat mereka bertiga heran.
Fabian mengedipkan sebelah matanya kepada Adelina.
"Iya Bun, di sini sangat panas." Ujar Adelina dengan mengibaskan tangannya.
Bunda Wiwi dan Adele saling pandang sebelum akhirnya mereka sepakat untuk sedikit menjauh dari Fabian dan Adelina.
Kini giliran Fabian menatap Adelina. "Aku punya penawaran." Bisik Fabian lirih.
Adelina mengangkat sebelah alisnya.
"Makan lah dan kau bisa mendapatkan minuman favorit mu yang ada di bar." Bisik Fabian lagi yang membuat Adelina mendelik tidak percaya.
"Kau yakin?." Lirih Adelina bertanya.
Fabian mengangguk lantas menyodorkan sepiring nasi yang ada di tangannya.
Adelina mengangkat dua jari tangannya. "Dua botol." Ucap Adelina.
Fabian sempat berfikir namun akhirnya dia setuju. "Habiskan, nanti aku tepati janji ku." Kata Fabian.
Adelina menerima sepiring nasi itu dengan sedikit terpaksa sebenarnya. Bunda Wiwi dan Adele tersenyum lega ketika Fabian berhasil membujuk Adelina.
Bunda dan Adele memilih untuk menunggu di ruang tamu dan membiarkan Adelina menghabiskan makanannya.
"Minum obat mu dulu." Ucap Fabian.
Adelina mendelik. "Apa kau berniat membunuh ku!." Omel Adelina.
"Tepati janji mu." Kata Adelina yang membuat Fabian tersadar akan janjinya.
"Ya ya baiklah, bersiap lah kita akan pergi sekarang." Titah Fabian.
Fabian mengambil piring kotor itu dan meletakkannya di meja.
"Tapi Bunda di luar." Jawab Adelina yang takut ketahuan.
"Tenanglah, aku yang akan mencari alasan." Kata Fabian.
Akhirnya Adelina pasrah dan mengikuti perintah Fabian. Benar saja, ketika mereka baru sampai di ruang tamu Bunda Wiwi langsung menghadang mereka.
"Loh, kalian mau ke mana?." Tanya Bunda Wiwi.
"Kita akan ke rumah sakit Bun, sepertinya Adel butuh antibiotik karena demamnya masih saja belum turun." Jelas Fabian dengan lancar.
Bahkan Adelina tak habis pikir, ini kah keahlian seorang Fabian Mikko Pratama yang sebenarnya.
"Kamu yakin?." Tanya Bunda Wiwi memastikan, sementara Adele sudah masuk ke dalam kamarnya karena waktu yang semakin larut.
Fabian dan Adelina saling melempar pandang lalu mengangguk bersamaan.
"Fabi udah minta Ayah jemput Bunda sebentar lagi. Kalau begitu Fabi sama Adel berangkat dulu Bun." Pamit Fabian yang mengalami punggung tangan Bunda Wiwi dan diikuti oleh Adelina.
"Kalian hati-hati, kabari Bunda jika ada apa-apa." Ucap Bunda Wiwi.
Dengan kebohongan yang Fabian lancarkan, mereka berdua pun berhasil pergi tanpa di curigai.
Di perjalanan Adelina masih tidak habis pikir dengan ide Fabian yang bisa dibilang cukup gila. Bagaimana jika mereka ketahuan nantinya.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂