Red Pen

Red Pen
Adora Steven Pratama



Alister dengan tak sabar menunggu di depan pintu toilet dengan Angel yang masih dalam gendongannya.


Saat Adelina dan Steven keluar, Alister langsung menghampiri mereka.


"Adelina." Panggil Alister yang membuat Adelina diam di tempatnya.


Steve menatap sang Mommy. "Mom, apa kau mengenal mereka?." Tanya Steve.


Adelina mengalihkan pandangannya dan menatap Steve. "Steve bisakah beri Mommy waktu sebentar?." Pinta Adelina.


"No Mom, aku tidak akan meninggalkan mu." Jawab Steve. "Aku tidak ingin ada yang membuat mu menangis." Lanjut Steve dengan mengibarkan bendera perang kepada Alister yang ada dihadapan mereka.


Steve tahu jika sang Mommy baru saja menangis, tentu pikiran buruk langsung tertuju kepada laki-laki yang baru saja Mommy nya temui tadi.


"Hay Steve, nice to meet you." Sapa Angel yang membuat Steve mendengus sebal.


Angel terlalu cerewet baginya dan itu sangat mengganggu.


"Mom, bisakah kita pulang sekarang." Pinta Steve yang membuat Adelina dan Alister menatapnya.


"Don't look at me like that!." Protes Steve.


Mereka terkejut kecuali Angel dengan apa yang barusan Steve katakan.


"Steven." Ucap Adelina dengan nada tertahan.


"Bukan Mommy, tapi dia. Steve tidak suka itu." Jawab Steve dengan menunjuk ke arah Alister.


Alister mematung di tempatnya.


"Steve bisakah kita menangkap nyamuk bersama?, Daddy bilang di kantornya ada banyak?." Tawar Angel dengan bersemangat.


Steve menghela nafasnya. "Lain kali lakukanlah hal yang lebih berguna. Mommy aku ingin pulang." Ketus Steve yang langsung berjalan tanpa menunggu sang Mommy.


Adelina panik ketika ini kali pertama Steven marah dengannya. "Steven." Panggil Adelina yang tidak digubris oleh putranya.


"Mas kita bicara lagi nanti, Aku akan menyusul Steven terlebih dahulu." Pamit Adelina yang langsung berlari mengejar Steven.


Alister hanya bisa mengangguk, dia ingin mengejar mereka namun Angel masih ada dalam gendongannya.


Steven tersenyum simpul. "Bersaing lah jika bisa melawan ku." Lirih Steven yang berusaha mempercepat langkahnya meninggalkan gedung itu.


Steven telah berhasil pergi sampai ke halaman gedung, Adelina terus saja megejar dan meneriaki nama putranya itu.


"Steven, Akh!." Pekik Adelina yang merasakan kaki kanannya keseleo.


Steven yang mendengar rintihan sang Mommy langsung berbalik dan berlari ke arah Adelina.


"Mommy!." Panik Steven yang langsung berlari.


"Akh!, auwch..." Adelina merintih menahan sakit.


"Mommy maafkan Steve, apa Mommy tidak apa-apa?." Tanya Steve panik.


Adelina yang tidak tega melihat raut panik di wajah putranya kemudian menggeleng. "Tenanglah, Mommy hanya sedikit terkejut." Ucap Adelina dengan mengelus pucuk kepala Steve.


Bibir Steve terlihat pucat karena ketakutan. "Mommy apa Mommy bisa berjalan?." Tanya Steve.


Adelina mengangguk meskipun ragu. "Tentu, Mommy baik Steve. Jangan khawatir." Ucap Adelina yang berusaha menahan sakit di kakinya.


Adelina dengan susah payah dapat bangkit, namun dia hampir saja terjatuh lagi jika saja Alister tidak menopang tubuhnya.


"Kenapa kau ceroboh sekali." Omel Alister yang memegang pinggang Adelina.


"Jangan sentuh Mommy ku." Ucap Steve tak rela jika Mommy nya di sentuh orang lain.


Alister menaikan sebelah alisnya. "Apa kau tega membiarkan Mommy mu berjalan pincang?. Lagi pula kenapa kau harus berlari dan membuat Mommy mu seperti ini." Omel Alister yang membuat Adelina mencubit perutnya dari samping.


Steve menunduk. Adelina langsung melepaskan tangan Alister yang masih ada di pinggangnya.


"Steve, Mommy tidak apa-apa. Kita pulang sekarang, bukan kah kau bilang tadi pagi ingin masakan Mommy?." Tawar Adelina yang membuat Steve menatapnya dengan penuh senyuman.


Deg


Alister hanya diam, senyum tulus Steve mampu membuat amarahnya lenyap seketika. Senyum polos dari putranya seolah langsung tertancap di relung hatinya.


"Aku pergi dulu dengan Steve Mas." Pamit Adelina yang diangguki Alister.


Alister menatap punggung ke dua orang yang amat dia cintai sampai mereka benar-benar pergi. Alister tersadar, dia telah menyakiti hati putranya tadi.


"Astaga!, Daddy macam apa aku ini. Kenapa aku harus marah kepadanya." Kesal Alister kepada dirinya sendiri.


Mulai detik ini juga Alister berjanji akan berusaha untuk membahagiakan mereka berdua. Memberikan kasih sayang dan cinta yang sudah seharusnya.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂