Red Pen

Red Pen
Punishment



"Aku hantu". Ucap Ai yang membuat Adelina tertawa.


Namun setelah dirinya berpikir bagaimana dengan kejadian Ai yang selalu tiba-tiba ada dan menghilang membuat Adelina merinding.


Pengakuan dari Ai terus saja berkeliaran di pikiran Adelina hingga membuat dirinya sejak pagi tadi hanya melamun.


Adele yang sedari tadi melihat tingkah sahabatnya itu pun jadi penasaran.


"Hei calon no-." Ucap Adele yang langsung dipotong oleh Adelina.


"Adele, ini tentang kemarin." Kata Adelina yang membuat Adele mengatupkan mulutnya.


"Kemarin?." Beo Adele.


Adelina mengangguk. "Apakah kemarin ada sosok lain yang makan bersama kita?." Tanya Adelina memastikan.


Adele mengangguk.


"Ada?." Tanya Adelina lagi.


Adele kembali mengangguk. "Bukankah Pak Fabian kemarin juga ada." Jelas Adele yang membuat Adelina menggeleng.


"Bukan Pak Fabian, maksud ku yang lainya mungkin?." Kata Adelina kembali bertanya.


Adele menghela nafasnya. "Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kau hari ini aneh sekali." Ucap Adele yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Adelina masih terus saja memikirkan ucapan Ai dan juga menimbang jawaban yang dia dapat dari Adele.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangan mereka diketuk dari luar.


"Selamat pagi." Ucap Azka yang datang ke ruangan mereka.


Adele dan Adelina menoleh bersamaan. "Selamat pagi Pak." Kompak ke dua gadis itu.


Azka mengangguk dan menunjuk Adelina yang berdiri di dekat kursinya.


"Ikut lah dengan ku, Nyonya besar ingin bertemu." Titah Azka.


"Aku?." Tanya Adelina dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, memang ada Adelina yang lainnya?." Kata Azka balik bertanya.


"Sudah, pergilah dan temui mereka." Lerai Adele.


Adelina hanya manut mengekori Azka menuju ruangan dimana Nyonya besar berada.


...*********...


Tok


Tok


Tok


"Permisi." Ucap Adelina.


Bunda Wiwi yang sedari tadi menunggu langsung meminta Adelina untuk duduk di sampingnya.


"Nak, bertanggungjawab lah kepada Fabian." Kata Bunda Wiwi langsung pada intinya.


"Bertanggungjawab?. Aku?." Beo Adelina bingung.


Bunda mengangguk lalu menjelaskan maksud dari tanggungjawab yang dimintanya kepada Adelina.


Setelah menjelaskan semuanya akhirnya Bunda Wiwi meminta Azka untuk mengantarkan Adelina.


...*********...


Di dekat parkiran, Bunda Wiwi meminta tolong kepada Azka.


"Antar kan dengan selamat, awas jangan sampai lecet." Ucap Bunda Wiwi kepada Azka.


"Siap Bu bos!." Tegas Azka yang langsung mendapat tabokan dari Bunda Wiwi.


"Sudah-sudah, kalian hati-hati di jalan." Kata Bunda Wiwi.


"Kita pergi dulu Bun." Pamit Adelina yang mencium punggung tangan Bunda Wiwi dan diikuti Azka.


"Baik-baik di rumah sayang." Kata Bunda Wiwi sedikit berteriak dengan melambaikan tangannya karena mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.


...*********...


Hanya ada kecanggungan di antara Azka dan Adelina karena mereka memang baru saja kenal.


"Em, kamu udah lama sahabatan sama Adel?." Tanya Azka tanpa mengalihkan pandangannya.


Adelina mengangguk. "Mungkin sekitar 7 tahun." Jawab Adelina mengira-ngira.


Azka hanya manggut-manggut dan kembali diam. Tidak terasa mobil yang di kendarai oleh Azka sudah memasuki pelataran sebuah rumah yang cukup megah dengan tampilan sederhana.


"Masuk lah, aku akan memarkiran mobil dulu." Titah Azka kepada Adelina.


Tanpa perlu menjawab, Adelina bergegas turun dan membiarkan Azka memarkirkan mobilnya.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂