Red Pen

Red Pen
Rahasia



"Lepas Fon!." Kata Fabian yang menarik tangannya.


Mata Fonna nanar, ini kah perlakuan yang harus dia terima dari Fabian.


Plak


Fonna menampar Fabian. Fabian hanya tersenyum.


"Jahat kamu!." Kata Fonna dengan mengepalkan tangannya.


Fabian hanya diam.


"Segalanya udah kamu miliki Fab!. Tega kamu ya!." Teriak Fonna dengan memukul-mukul dada Fabian.


Fabian langsung mencekal tangan Fonna.


"Aku nggak pernah minta!. Ingat itu Adara Fonna Rosita." Jawab Fabian dengan penuh penekanan.


Fabian menghempaskan kasar tangan Fonna yang sedari tadi masih dicekal nya. Fabian berbalik dan berjalan meninggalkan Fonna yang berteriak memanggil namanya berulangkali.


"Fab!." Teriak Fonna yang tidak digubris oleh Fabian.


"Fabian Mikko Pratama!. Kamu brengs*ek!." Pekik Fonna yang kemudian jatuh terduduk.


Sakit sungguh teramat, sebegitu tega kah Fabian kepada dirinya. Dirinya yang telah rela melepaskan semua yang dia punya hanya untuk sosok laki-laki tak bertanggungjawab seperti Fabian.


"Hiks...hiks..., jahat kamu Fab!. Jahat!." Lirih Fonna yang terisak dengan memeluk lututnya.


Bolehkah dia bersedih. Setelah apa yang dia berikan kepada Fabian dulu, namun kini sosok pujaan hatinya begitu tega meninggalkan dirinya disaat dia tidak berdaya. Habis manis sepah di buang, itulah yang Fonna rasakan.


...*********...


Bunda Wiwi yang melihat kepergian Fonna dan Fabian tanpa pamit langsung bergegas masuk menemui Adelina.


"Bunda." Ucap Adelina yang melihat Bunda Wiwi berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ke arahnya.


"Sayang, apa terjadi sesuatu?." Tanya Bunda Wiwi cemas.


Adelina tersenyum lalu menggeleng. "Tidak Bun, Fonna hanya ingin berbicara dengan Fabian." Jawab Adelina dengan tenang meskipun batinnya bertanya gerangan apa yang sampai membuat Fonna begitu murka.


Bunda mengelus pucuk kepala Adelina.


"Bun." Panggil Adelina dengan mendongak menatap Bunda Wiwi.


"Bisakah aku pulang sekarang?." Tanya Adelina dengan nada meminta.


Bunda Wiwi hanya tersenyum. "Apa kau merindukan rumah?." Tanya Bunda Wiwi.


Adelina menggeleng. "Di sini tidak terlalu nyaman, aku sudah terlalu merepotkan." Jawab Adelina lirih.


"Memangnya siapa yang merasa direpotkan?, sepertinya tidak ada menurut ku." Timpal Fabian yang baru saja datang bergabung kembali.


Ke dua wanita itu menoleh menatap Fabian bersamaan.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?." Heran Fabian yang sedikit menjadi salah tingkah


Fabian berjalan mendekat.


"Dasar kau ini, datang sepeti hantu saja." Omel Bunda Wiwi yang mencubit lengan Fabian.


"Ah Bunda sakit!." Ucap Fabian dengan mengelus lengannya.


Adelina hanya tertawa kecil. "Bian, di mana Fonna?. Bukan kah tadi kalian bersama?. Kata Adelina yang penasaran.


Fabian mendengus. "Kenapa kau menanyakan seseorang yang tidak ada. Bukan kah sudah ada aku di sini." Kata Fabian cemberut seolah kehadirannya tidak begitu Adelina butuhkan.


Bunda dan Adelina mereka kompak tertawa.


"Hahaha, sudahlah kalian ini sungguh pintar bersandiwara. Bunda akan menemui dokter Prilis untuk menanyakan kapan kepulangan mu." Kata Bunda Wiwi yang berusaha memenuhi keinginan Adelina.


"Terimakasih kasih Bun." Ucap Adelina yang memeluk Bunda Wiwi sebentar.


Fabian cemburu. "Hanya Bunda?, aku tidak?." Tanya Fabian.


Adelina yang sudah melepaskan pelukannya kepada Bunda Wiwi kemudian kembali merentangkan kedua tangannya.


"Bian, kemari lah. Aku juga akan memeluk mu." Kata Adelina dengan tersenyum cerah.


"Benarkah?." Tanya Fabian tak percaya.


Adelina mengangguk. "Tentu saja, kau juga sama istimewanya seperti Bunda." Jawab Adelina.


Fabian memeluk Adelina sedikit lebih lama. Bahkan mereka tidak menyadari jika Bunda Wiwi telah melenggang pergi.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂