
"Jangan khawatir, itu hanya demam biasa. Apa kau punya alergi dingin?." Tanya dokter Prilis dengan suara lemah lembut setelah memeriksa kondisi Adelina.
Adelina mengangguk. "Sepertinya cuaca sedikit kurang bersahabat dengan ku dok." Jawab Adelina.
"Pril, apa tidak-tidak apa-apa sungguh?, coba periksa Adel sekali lagi. Mungkin saja ada yang terlewat." Kata Bunda Wiwi yang masih saja khawatir.
Dokter Prilis hanya tersenyum, bekerja bertahun-tahun dengan keluarga mereka membuat dirinya paham betul akan karakter dari setiap anggota yang ada.
"Jangan khawatir, aku sudah memberikan resep yang terbaik. Jika bisa matikan pendingin ruangan yang ada." Saran dokter Prilis.
Bunda Wiwi menatap tajam Fabian. "Kenapa kamu tidak matikan pendinginnya sejak tadi?!." Omel Bunda Wiwi.
"Loh, Fabi mana tahu kalau Adel nggak kuat dingin Bun." Kata Fabian membela dirinya.
"Sudah-sudah, dokter mari saya antar." Kata Ayah Alex merelai perdebatan yang jika dilanjutkan sudah pasti akan berbuntut panjang.
"Nona, Jagan terlalu dekat dengannya." Bisik dokter Prilis yang masih bisa di dengar mereka. Dokter Prilis mengatakan hal itu sembari ekor matanya melirik ke arah Fabian.
"Kenapa dok?, apa berbahaya?." Tanya Adelina yang bingung.
Dokter Prilis mengangguk. "Tentu, kau itu sudah alergi dingin. Jadi jika kalian tidak menjaga jarak mungkin kau akan demam berkepanjangan." Ledek dokter Prilis yang membuat Ayah Alex dan Bunda Wiwi terkikik geli.
"Saya permisi kalau begitu. Tuan muda, mohon turunkan suhu Anda." Ledek dokter Prilis yang kemudian meninggalkan mereka.
"Bun, ini sudah malam Adel harus pulang." Ucap Adelina yang merasa tidak enak karena telah merepotkan mereka.
"Di luar sedang hujan, dan kamu sedang sakit jadi bunda tidak mengijinkan kamu kemanapun titik." Tegas Bunda Wiwi.
"Tapi Bun..., Adel ngerasa nggak enak udah ngerepotin kalian." Kata Adelina yang lagi-lagi mendapat gelengan dari Bunda Wiwi.
"No, Bunda bilang no tetap no pokoknya. Fab, kamu jaga Adel jangan sampai ke luar kalau perlu kunci pintunya. Bunda mau buat bubur dulu ke dapur." Titah Bunda Wiwi dengan tegas.
"Masih pusing?." Tanya Fabian yang duduk di dekat ranjang.
Adelina mengangguk. "Sedikit." Jawab Adelina lirih yang kemudian memilih merebahkan dirinya kembali.
"Kenapa masih panas?." Kata Fabian bertanya setelah menyentuh kening Adelina. Adelina hanya menggeleng.
"Tidur lah, akan aku bangunkan jika bunda sudah datang." Kata Fabian.
Adelina mengangguk, berusaha memejamkan matanya namun gagal karena tubuhnya terasa linu semua. Kepalanya berdenyut dengan begitu cepat membuatnya seolah tak tahan.
Dengan ragu Adelina meminta bantuan Fabian.
"Em, bisa aku minta bantuan mu?." Tanya Adelina lirih.
Fabian mengangguk. "Tentu, katakan lah." Ucap Fabian dengan senang hati.
"Bisa kau pijit kepala ku, rasanya sangat sakit ketika berdenyut kencang." Kata Adelina menjelaskan apa yang dia rasa.
Fabian dengan senang hati mendekat ke arah Adelina dan perlahan mengulurkan tangannya untuk memijat kepala Adelina. Lembut dan perlahan sungguh Adelina pun mulia terbuai dengan pijatan tangan Fabian.
"Tidurlah, aku akan terus memijat mu." Ucap Fabian dengan tersenyum.
"Terimakasih." Jawab Adelina dengan mata yang mulai terpejam.
Tanpa mereka sadari ada sosok yang begitu cemburu melihat kedekatan sepasang insan itu.
"Andai aku yang ada di posisinya, kenapa?, kenapa bukan aku?." Tanyanya dengan lirih sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂