
Mereka berempat telah menginjakkan kaki di rumah keluarga Pratama. Alister dan Ayah Alex mereka langsung membersihkan diri karena hari yang sudah menjelang sore.
"Bun." Lirih Adelina yang masih berdiri dengan memeluk lengan Bunda Wiwi.
Bunda Wiwi menoleh. "Apa sayang?." Tanya Bunda Wiwi lembut dengan tersenyum.
Adelina hanya menunjukkan deretan giginya. "Bunda masak apa?." Tanya Adelina dengan penuh harap.
"Kamu lapar?." Tanya Bunda yang diangguki Adelina.
"Masak ayam dong Bun, Adel pengen ayam kecap." Pinta Adelina yang membuat Bunda Wiwi tertawa kecil.
"Kita lihat stok dulu ya, Bunda belom belanja soalnya. Kamu tahu sendiri kan akhir-akhir ini Fabi sibuk." Jelas Bunda Wiwi dengan menggandeng tangan Adelina menuju ke dapur.
"Kenapa harus Bian Bun, kan anak bunda masih ada yang satu tuh." Protes Adelina.
"Kalau Fabi itu masih nurut diajak belanja muter-muter, nah kalau Alister bukannya Bunda yang pergi eh palah belanjaannya yang datang ke sini." Jelas Bunda Wiwi yang membuat Adelina manggut-manggut.
"Gitu ya Bun?, punya dua anak yang karakternya beda." Timpal Adelina yang sudah duduk di meja makan, sementara Bunda Wiwi membuka lemari pendingin.
"Kamu juga nanti bakal ngerti gimana rasanya jadi ibu kok." Kata Bunda Wiwi yang membuat Adelina bergidik.
"Satu aja cukup kayaknya deh Bun, Adel takut nanti mereka malah berantem terus." Ucap Adelina yang membuat Bunda Wiwi lagi-lagi tertawa.
"Ayam Bunda habis sayang, kalau Bunda masak yang lain gimana?." Ucap Bunda setelah tidak menemukan daging ayam yang tersedia.
Adelina menghela nafas panjang. "Adel mau telor mata sapi aja ada?." Tanya Adelina.
Bunda mengangguk. "Bunda buat dulu sebentar." Ucap Bunda yang kemudian memulai membuat telor mata sapi untuk Adelina.
Setelah selesai dengan acara makannya, Adelina memutuskan untuk beristirahat di lantai atas kamar yang biasa dia tempati saat menginap di sini.
Ceklek
Adelina membuka pintu kamar.
"Kamu ngapain ke sini?." Tanya Alister yang sedang berdiri di depan cermin dengan hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada.
"Istirahat lah, masa mau olahraga." Kata Adelina cuek dan langsung berjalan ke arah Alister.
Alister dengan refleks menyilang kan ke dua tangannya di depan dada.
Alister tersadar dengan tingkahnya, dirinya lantas segera memakai baju kaos dan duduk di sofa untuk mengecek pekerjaan yang dia serahkan kepada Fabian.
Benar saja, 1 jam telah berlalu dengan cepat. Adelina yang merasakan dingin dengan mata terpejam meminta Alister untuk mematikan pendingin ruangan.
"Pak tolong matiin AC nya dong, dingin nih." Ucap Adelina dengan mata terpejam.
Alister menoleh ke arah ranjang. "Tidur aja masih suka nyuruh." Kata Alister yang kemudian melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan permintaan Adelina.
Malam tiba, bunda yang penasaran dengan ke dua calon pengantin itu pun akhirnya melongok ke kamar mereka.
Tok
Tok
Tok
Bunda Wiwi mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Benar saja mereka rupanya tengah tertidur.
Bunda berjalan ke arah sofa di mana Alister tertidur dengan posisi duduk sembari memangku laptopnya.
"Alister bangun, sudah malam." Lirih Bunda yang membuat Alister perlahan membuka matanya.
"Em Bun." Ucap Alister yang kemudian benar-benar sadar.
Bunda sedikit merasa aneh. "Loh, kamu kenapa nggak matiin AC nya?." Ucap Bunda pelan agar tidak menggangu Adelina yang masih nyenyak dalam tidurnya.
"Kenapa Bun, kan emang biasanya Alister nggak pernah matiin?." Tanya Alister kepada Bunda Wiwi yang segera menyelimuti Adelina yang tidur dengan posisi meringkuk.
Tap
Bunda mematikan AC kamar mereka.
"Lain kali jangan seperti ini, Adele itu alergi dingin dia bisa demam nanti." Jelas Bunda Wiwi.
"Oh gitu ya." Jawab Alister, dia merasa sedikit bersalah karena tidak menuruti permintaan Adelina tadi.
"Kita makan dulu, biar nanti Bunda bawakan makan Adel ke kamar." Kata Bunda Wiwi yang menggandeng tangan Alister untuk turun dan makan bersama.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂