
Bunda Wiwi berkacak pinggang dengan berlalu lalang ke sana dan ke mari. Sementara ketiga anak muda itu berdiri di depan bunda Wiwi dengan bersandar pada dinding kamar.
Ayah Alex hanya duduk di ranjang tidak berani mengganggu macam betina yang tengah marah itu.
"Kalian ini!, bisa-bisanya melakukan hal seperti itu di rumah Bunda." Omel Bunda.
"Rumah Fabi juga Bun." Timpal Fabian.
"Tidak, rumah Alister juga Bun." Kata Alister ikut berbicara.
"Diam!." Ucap Bunda Wiwi yang kembali membuat mereka menunduk.
"Fabi, sejak kapan kamu menyimpannya?." Tanya Bunda Wiwi dengan tegas.
Fabian menggaruk telinganya dan hanya tersenyum kaku.
Bunda memicingkan matanya. "Sudah lama?." Tanya Bunda Wiwi penuh penekanan.
"Bunda kecewa sama kalian, ini bahkan di rumah. Lalu seperti apa kelakuan kalian di luar?!." Omel Bunda Wiwi yang membuat mereka bertiga merasa bosan.
Dua puluh menit berlalu, mereka bertiga merasa lelah karena terus berdiri mendengarkan ceramah dari Bunda.
"Mulai hari ini Bunda akan sit-." Kata Bunda Wiwi yang terjeda karena Adelina mengeluh kesakitan.
"Auwch!...." Pekik Adelina yang langsung memegang tangan Alister yang ada di sampingnya.
"Hei?, kenapa?." Tanya Alister panik dengan menatap wajah Adelina.
Adelina mengedipkan sebelah matanya, dan hal itu juga Alister lakukan kepada Fabian yang menatapnya.
"Auwch, Bun...." Lirih Adelina yang membuat Bunda Wiwi dan Ayah Alex mendekat dan panik.
Seperti biasa Ayah Alex dengan sigap menghubungi dokter Prilis.
"Sayang, are you okay?." Tanya Bunda dengan memegang pundak Adelina.
Adelina menatap Bunda Wiwi lalu menggeleng. "Perut Adel keram Bun." Jawab Adelina yang membuat Bunda Wiwi langsung meminta Alister membawa Adelina ke kamarnya.
"Fabi bantu Kak." Teriak Fabian yang langsung pergi dari Bunda dan Ayah mengekor di belakang Alister dan Adelina.
*Kamar Adelina dan Alister.
"Akhirnya kita bisa lepas dari Bunda." Ucap Fabian lega.
Alister menurunkan Adelina di ranjang. Tak berselang lama, Bunda Wiwi datang dengan membawa secangkir teh hangat untuk Adelina.
"Sayang, minumlah. Maaf Bunda membuat mu seperti ini, apa masih sakit?." Tanya Bunda Wiwi yang dijawab gelengan kepala oleh Adelina.
"Sudah lebih baik Bun, terimakasih." Jawab Adelina setelah meminum teh hangat yang Bunda Wiwi berikan.
"Kalian berdua hukuman dari Bunda akan tetap berlaku." Ucap Bunda Wiwi dengan menatap ke dua putranya.
"Mampus kita." Kompak Fabian dan Alister lirih.
Adelina hanya menahan tawanya sebelum sampai kedatangan dokter Prilis dan Ayah membuat dirinya panik.
"Mampus aku." Batin Adelina, sementara kini giliran Fabian dan Alister yang berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah panik Adelina.
"Dok, tolong periksa putri ku." Ucap Bunda Wiwi kepada dokter Prilis.
Dokter Prilis mengangguk. "Silahkan yang laki-laki ke luar terlebih dahulu." Ujar dokter Prilis.
Ayah dan Fabian melangkah ke luar sedang Alister masih ada di tempatnya.
"Kenapa kau masih ada di sini?." Tanya Bunda Wiwi.
"Loh, kan aku calon suaminya Bun." Protes Alister.
"Kalian belum resmi menikah, jadi keluar lah saja dulu." Kata Bunda Wiwi yang kemudian membuat Alister menggaruk telinganya dan beranjak pergi.
Bunda Wiwi memastikan pintu kamar telah tertutup. "Silahkan dok." Ucap Bunda Wiwi mempersilahkan dokter Prilis memeriksa Adelina.
"Apa yang sekarang kau rasakan?." Tanya dokter Prilis sembari memeriksa denyut nadi Adelina.
"Hanya sedikit keram perut sepertinya." Jawab Adelina gugup.
Dokter Prilis mengangguk. "Apa itu sering terjadi?." Tanya dokter Prilis lagi.
Adelina menggeleng. "Tidak, hanya kadang-kadang mungkin." Jawab Adelina asal.
Dokter Prilis menghela nafasnya. "Apa semalam kau minum lagi?." Tanya dokter Prilis yang membuat Adelina hanya tersenyum kaku.
Dokter Prilis mendesah geram. "Bukankah sudah aku bilang, jangan minum dulu setidaknya sampai sembilan bulan ke depan!." Omel dokter Prilis geram.
Bunda Wiwi terkejut dengan perkataan dokter Prilis. "Dokter, apa maksudnya?." Tanya Bunda Wiwi memastikan.
Dokter Prilis menatap Bunda Wiwi. "Dia sedang hamil, dan terakhir kali dia juga pingsan karena minum dengan Fabian di bar." Jelas dokter Prilis yang membuat Adelina terdiam.
"Aku?, hamil?." Lirih Adelina tak percaya.
Dokter Prilis mengangguk. "Itu sebabnya Tuan Abeer melarang mu untuk sering pergi ke bar belakangan ini, beliau secara khusus meminta ku untuk mengawasi mu." Jelas dokter Prilis yang membuat Adelina diam tidak bisa berkata-kata.
"Istirahat lah, nanti ku buatkan resep pereda mual untuk mu." Kata dokter Prilis yang kemudian berpamitan pergi.
Setelah kepergian dokter Prilis Bunda Wiwi mendekat. "Nak." Lirih Bunda Wiwi.
"Adel pengen sendiri Bun, tolong ke luar." Ucap Adelina tanpa menatap Bunda Wiwi.
Bunda Wiwi hanya pasrah dan membiarkan Adelina menenangkan dirinya.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂