
Adele tentu sangat gembira ketika mengetahui sahabatnya akan menginap di rumah yang dulu mereka tempati bersama, namun takdir sepertinya tidak berkata demikian.
"Kenapa harus sekarang, kan percuma jadinya." Keluh Adelina ketika Adele mengatakan bahwa dia akan pergi menemani Azka untuk malam ini.
Adele yang duduk dengan Adelina dengan Alister yang hanya menjadi pendengar setia kini berada di ruang tamu.
"Maaf, aku sudah berjanji. Minggu depan akan aku usahakan." Kata Adele yang membuat Adelina menghembuskan nafasnya perlahan.
"Padahal aku sengaja ke mari untuk menghabiskan waktu dengan mu." Ucap Adelina.
Alister tersenyum ketika mendapati Adelina yang sedikit merajuk.
"Biarkan dia pergi, kenapa kita harus melarang sepasang kekasih untuk berkencan." Kata Alister dengan mengelus punggung Adelina.
"Ya ya ya, pergilah sana." Usir Adelina.
Adele hanya tersenyum. "Katakan apa permintaan mu?." Tawar Adele.
Adelina menggeleng. "Tidak, bawakan saja aku manisan mangga." Jawab Adelina yang membuat Adele melongo.
"Ck, menggeleng tapi meminta sesuatu." Lirih Adele heran.
"Bukankah kau yang menawari?, aku kan hanya menghargai niat baik mu. Itu saja kok." Protes Adelina yang ternyata masih bisa mendengar apa yang Adele katakan.
Alister memberikan kode supaya Adele segera pergi karena jika dia masih ada di sini perdebatan antara dia dan istrinya pasti akan berbuntut panjang nantinya.
...*********...
Malam datang, hanya ada Alister dan Adelina di rumah itu tentunya.
Adelina yang tengah duduk sembari menyelesaikan tugasnya merasa mual entah karena apa.
"Hoek!." Adelina langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Alister yang ada di sampingnya panik ketika mendapati Adelina mual, karena ini kali pertama dirinya mendapati Adelina seperti itu.
Terdengar dari dalam kamar mandi Adelina terus muntah berulang kali. Alister mencoba mengetuk pintu namun dirinya tidak kunjung mendapat balasan dari istrinya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja di dalam?." Panik Alister yang tanpa sadar memanggil Adelina dengan kata sayang.
"Hm, hanya sedikit mu-,...hoekmmp!." Jawab Adelina yang belum rampung.
Tenggorokannya terasa begitu pahit, sampai ketika rasa mual nya mulai berkurang Adelina memutuskan untuk ke luar.
Wajah Adelina sedikit pucat dan hal itu membuat Alister merasa kasihan.
"Apa kita pulang saja, aku takut ada apa-apa. Lagi pula Bunda tidak ada di sini." Kata Alister yang membuat Adelina tertawa kecil.
"Kan ada kamu, kenapa harus pulang?." Tanya Adelina.
"Aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan mu tapi." Lirih Alister.
Adelina tersenyum. "Kemari lah, dan peluk aku." Pinta Adelina.
Alister bingung. "Peluk?." Beo Alister heran namun karena Adelina mengangguk Alister pun dengan sedikit ragu kemudian memeluk Adelina.
"Aku sudah merasa lebih baik, seperti ini saja cukup." Ucap Adelina yang menghirup dalam-dalam aroma tubuh Alister.
Alister mengelus punggung Adelina. "Apa wanita hamil memang seperti ini?." Tanya Alister penasaran.
"Entah, tapi kata Bunda wanita hamil itu kadang aneh." Jelas Adelina.
"Aneh?, apa seperti ini salah satunya." Tebak Alister.
Adelina mengangguk. "Mungkin ini salah satunya. Em, apa bisa kita makan di luar?." Tanya Adelina yang belum sama sekali melepaskan pelukannya.
"Apa kau menginginkan sesuatu?." Tanya Alister yang kemudian membuat Adelina menatapnya.
"Aku ingin ayam kecap manis, apa boleh?." Tanya Adelina dengan penuh harap.
Alister tersenyum. "Tentu saja, lepaskan dulu pelukannya dan bersiaplah." Ucap Alister yang membuat Adelina menggeleng.
Alister mengangkat sebelah alisnya.
"Aku ingin digendong." Pinta Adelina dengan menunjukkan deretan giginya.
Alister tertawa kecil. "Sepertinya wanita hamil memang aneh." Ucap Alister yang membuat Adelina cemberutnya.
"Apa aku terlalu berat untuk digendong?." Sebal Adelina.
"Tidak, hanya saja mungkin tulang ku yang belum cukup kuat untuk menggendong kalian berdua sekaligus." Jawab Alister dengan tertawa namun pada akhirnya dia pun tetap memenuhi permintaan isterinya itu.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂