Red Pen

Red Pen
Triple Kill



Siapa yang mau ditakdirkan untuk kecewa maupun terluka. Alister, Bunda Wiwi dan Ayah Alex begitu terpukul ketika mendapati kabar Fabian dan Adelina mengalami kecelakaan ketika hendak menemui Fonna.


Fabian, Adelina dan Fonna kini berada di satu rumah sakit yang sama. Fonna telah melahirkan seorang anak perempuan dengan sehat meskipun dirinya masih memerlukan perawatan intensif, sementara sang ayah bayi perempuan mungil itu keadaannya sedikit lebih parah.


Sementara kini Adelina terbaring lemah dan koma karena kecelakaan yang dirinya dan Fabian alami selama dalam perjalanan.


Entah Bunda Wiwi dan Ayah Alex harus bahagia atau berduka dan kecewa. Kenyataan bahwa putra bungsu mereka telah menjadi seorang ayah tanpa sebuah ikatan. Sementara menantu yang telah menjadi putri mereka kini mengalami koma.


Alister hanya bisa menunduk dan menangis tanpa bersuara, permainan takdir macam apa yang menimpa keluarga kecilnya itu.


"Owek...owek...owek...." Bayi mungil yang ada di dekapan Bunda Wiwi menangis seolah mencari kehangatan ibu kandungnya.


"Cup... cup..., sayang tenang lah. Ada Oma dan Opa di sini untuk mu." Ucap Bunda Wiwi mencoba menenangkan bayi yang ada di dekapannya.


Seolah sebuah pertanda buruk, perawat yang ada di ruangan Fonna berbondong-bondong masuk dan keluar setelah mendengar bunyi alat bantu yang menandakan kondisi sang ibu bayi memburuk.


Tiiitttt....


Bunyi yang terdengar begitu keramat, pertanda telah berakhirnya perjuangan seseorang yang telah kuat bertahan selama ini.


Bunda Wiwi lemas seketika, beruntung Ayah Alex dengan sigap memegangi Bunda Wiwi yang masih menggendong cucu mereka.


"Tidak!." Lirih Bunda Wiwi dengan meneteskan air mata.


"Kenapa?, kenapa harus dengan keluarga ku?!." Ucap Bunda Wiwi bertanya entah kepada siapa.


Alister menatap Bunda Wiwi dan melangkah ke arahnya perlahan. Tangan Alister terulur untuk menggendong bayi milik Fabian yang masih menangis.


Bayi mungil itu sedikit lebih tenang dan kini tertidur di gendongan Alister. Dengan sedikit bersenandung Alister mencoba membuat bayi itu merasa senyaman mungkin.


Hari ini menjadi hari kelam bagi keluarga Pratama, Fonna dinyatakan meninggal bahkan sebelum statusnya berubah menjadi menantu di keluarga itu. Hanya bayi mungil itu yang menjadi sebuah tanda cinta dirinya dan Fabian yang ada.


...*********...


Adara Fonna Rosita, sebuah nama indah yang kini hanya tinggal lah sebuah nama yang tertulis di sebuah batu nisan. Cinta dan dukanya pun ikut terkubur bersama dengan raganya, meninggalkan tanda cinta mereka yang masih mungil tentunya.


Acara pemakaman diadakan keluarga Pratama dengan cukup tertutup, terlebih kondisi keluarga mereka tengah dilanda banyak musibah.


Hanya Ayah Alex dan Bunda Wiwi yang mengantarkan Fonna ke tempat peristirahatan terakhirnya, sementara Fabian yang sudah siuman masih harus terbaring di ranjang rumah sakit dengan Alister yang menjaga putri kecilnya.


*Rumah sakit.


Mata Fabian nanar, sebegitu kejam kah takdir tuhan yang dia punya. Ditinggalkan oleh mantan kekasihnya yang menjadi ibu dari putri kecilnya yang masih balita, mungil bersih dan tanpa dosa.


Alister membantu Fabian bersandar, Fabian menatap lekat putri kecilnya yang kini dia dekap.


"Fonna, maafkan aku." Lirih Fabian berurai air mata.


Alister memilih keluar dari ruangan Fabian dan hendak melongok istrinya yang juga koma melalui jendela yang memisahkan dirinya dengan Adelina.


Ujian macam apa yang Tuhan beri, entah sekeras apapun kita menolak itu tidak akan berpengaruh. Karena pada kenyataannya perpisahan adalah hal nyata yang ada di depan mata.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂