
Perlahan Adelina membuka matanya, sayup-sayup terdengar suara orang yang memanggil namanya terus berulang.
"Bian...." Lirih Adelina ketika melihat Fabian tengah ada di hadapannya.
Fabian menghembuskan nafasnya lega. "Ah, syukurlah kau sudah sadar. Kau sepertinya sangat suka membuat ku jantungan akhir-akhir ini." Omel Fabian.
Adelina mengedarkan pandangannya. "Adele...." Lirih Adelina memanggil nama sahabatnya itu.
Adele langsung mendekat dan secara refleks memaksa Fabian untuk menyingkir. "Menyingkir lah Pak, ini giliran ku sekarang." Kata Adele yang menarik kerah belakang baju Fabian.
Jika Adele bukan sahabat dekat Fabian, mungkin saja kini karirnya tengah berada di ujung tanduk.
Adele menggantikan posisi Fabian. "Bisa kita bicara berdua?." Tanya Adelina lirih dengan menatap manik mata Adele penuh harap.
Ekor mata Adele nampak melirik ke arah Fabian sekilas sebelum akhirnya Adele mengangguk setuju dengan permintaan Adelina.
"Pak, bisa beri kami waktu sebentar?." Ucap Adele.
"Tapi kondisi Adelina...." Jawab Fabian yang tidak tega meninggalkan Adelina dalam kondisi seperti itu.
Adele menggeleng. "Tenang saja, aku akan menjaganya untuk mu." Kata Adele yang berusaha membuat Fabian yakin dan agar mau meninggalkan mereka.
Akhirnya Fabian pasrah dan menuruti permintaan Adelina dengan berat hati. Fabian pun kemudian pergi dan membiarkan Adele dan Adelina hanya berdua saja di ruangan itu.
Adelina berusaha untuk duduk dan di bantu oleh Adele.
"Apa yang baru saja terjadi, kenapa aku pingsan?." Tanya Adelina penasaran.
Adele menatap manik mata Adelina dengan seksama. "Kau, apa kau sungguh lupa?." Tanya Adele heran.
Adelina mengangguk.
"Aku tidak tahu awal mulanya, yang jelas saat aku baru saja datang. Aku melihat Pak Fabian seperi biasa mengantarkan bekal untuk mu, tapi kali ini dengan mata kepala ku sendiri aku melihat mu menjatuhkan kotak bekal itu." Jelas Adele.
Adelina sempat terkejut dengan apa yang Adele ceritakan. "Benar kah?. Apa menurutmu aku tidak sengaja?." Tanya Adelina memastikan.
Adele menggeleng. "Tidak, jika dilihat dari sudut manapun tindakan mu itu di sengaja. Bahkan dari kejauhan saja aku bisa melihat bahwa tadi kau dengan sengaja menjatuhkan kotak bekal yang Pak Fabian sodorkan." Jelas Adele yang membuat Adelina kembali terkejut.
"Astaga, harus kah aku menemuinya dan meminta maaf." Lirih Adelina bimbang.
"Kau itu seperti isi dua." Kata Adele.
"Isi dua?." Beo Adelina.
"Iya, jadi seperti A dan B itu ada di saat yang bersamaan." Jelas Adele.
Adelina hanya mengangguk dan masih berusaha mengingat tingkahnya saat sebelum ada kejadian tadi.
...*********...
Malam telah datang. Adelina hanya duduk di dekat ranjangnya dengan memeluk ke dua lututnya.
"Hei nona gila, tumben sekali kau melamun?." Tanya Ai yang muncul di hadapan Adelina.
Adelina menatap sekilas Ai namun tidak menjawab apa-apa.
"Kau tahu, ada yang bilang jadi hantu itu enak karena tidak terlihat. Tapi apa kau tahu apa yang lebih menyakitkan?." Tanya Ai yang kemudian di respon oleh Adelina.
"Apa?." Tanya Adelina singkat.
"Terlihat namun tidak dianggap." Jawab Ai yang membuat Adelina tertawa.
"Hahaha, apa hantu juga bisa sakit hati?." Tanya Adelina.
Ai mengangguk. "Tentu saja, bahkan bisa lebih dari itu." Jawab Ai yakin meskipun Adelina bertanya dengan sedikit tertawa.
"Lalu, apa hantu juga bisa malu?." Tanya Adelina lagi.
"Tentu, kami juga seperti manusia hanya alam saja yang beda." Jelas Ai.
Adelina mengubah raut wajahnya. "Lantas kenapa hantu seperti mu tidak punya malu sekarang?!, kau pikir ini jam berapa?. Kenapa kau bermain di kamar seorang gadis malam-malam hah?!". Omel Adelina panjang kali lebar yang membuat Ai sedikit terkejut.
"Baiklah, baiklah aku akan pergi. Bye-bye...." Pamit Ai yang langsung menghilang dengan sekejap.
"Dasar hantu tidak tahu tata krama. Bisa-bisanya dia datang malam-malam begini." Gerutu Adelina yang kemudian merebahkan diri dan perlahan mulai menjelajahi alam mimpi.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂