Red Pen

Red Pen
Latihan 2



Adelina yang sudah terbangun dan tidak menemukan siapapun di kamarnya lantas menuju lantai bawah.


Tap


Tap


Tap


Menapaki satu persatu anak tangga Adelina lakukan demi perlahan karena matanya yang masih mengantuk. Adelina bahkan masih sesekali menguap.


"Bun, kok Adel nggak dibangunin." Protes Adelina yang membuat ke empat orang yang ada di meja makan menoleh ke arahnya.


"Kamu udah bangun, Bunda nggak tega tadi bangunin kamu." Jawab Bunda.


Adelina mengangguk lalu duduk di sebelah Fabian yang masih kosong.


"Adel laper makanya bangun." Jawab Adelina yang menatap satu persatu makanan yang ada di meja.


"Sehat Mbak, bangun kok minta makan." Ledek Fabian dengan menempelkan punggung tangannya di kening Adelina.


"Bian apaan sih." Sebal Adelina dengan menyingkirkan tangan Fabian dari keningnya.


"Kamu nggak matiin AC nya?!." Kata Fabian dengan nada yang sedikit meninggi.


"Lebay deh, orang nggak apa-apa juga kok. Aku nyoba dikit ya." Jawab Adelina yang kemudian mencicipi makan yang ada di piring Fabian.


"Kamu beneran nggak apa-apa?." Tanya Ayah Alex.


"Cuma demam dikit kok Yah, tapi Adel nggak apa-apa beneran." Jawab Adelina mencoba meyakinkan.


"Ini punya ku." Ucap Fabian dengan mengambil makanannya lagi.


"Bagi dua ya?." Pinta Adelina dengan mengatupkan kedua tangannya dan menunjukkan wajah memelas.


Fabian menggeleng.


"Ck, Bian pelit." Kata Adelina yang kemudian menjulurkan lidahnya.


"Kamu mau Bunda ambilkan makan?" Tawar Bunda Wiwi.


Adelina menggeleng. "Nggak usah Bun, Adel udah kenyang." Jawab Adelina dengan tersenyum.


"Tapi kalo ayam kecap Adel mau." Jawab Adelina lagi dengan menunjukkan deretan giginya.


"Kenapa Alister?, kan ada Fabi Yah." Jawab Alister yang sedari tadi sibuk dengan makanannya.


"Udah nurut aja deh, itung-itung tuh kamu latihan kalau besok-besok Adel ngidam anak kamu." Jelas Bunda Wiwi.


Alister menatap Adelina.


"Aku nggak nyuruh ya, tapi kalau nolak sih namanya laki-laki nggak peka." Kata Adelina yang membuat Fabian menahan tawanya melihat ekspresi sang kakak.


Alister pasrah. "Iya iya, Alister beliin nanti." Jawab Alister.


"Kok nanti?, sekarang dong." Protes Adelina.


"Lah terserah aku dong, yang mau beli kan aku bukan kamu." Balas Alister.


"Nggak bisa gitu lah. Kan yang mau makan aku masa harus nanti sih?, aku pengennya sekarang." Kata Adelina yang menatap tajam Alister lalu menyilang kan ke dua tangannya di depan dada.


Alister menghela nafasnya. "Iya sekarang, puas?." Kata Alister yang kemudian bangkit dari duduknya.


Alister menganggap ini adalah salah satu bentuk penebusan rasa bersalahnya karena tadi sempat membuat Adelina kedinginan.


Kegiatan makan pun masih berlanjut. Adelina diam-diam menginjak kaki Fabian pelan.


"Apa?." Bisik Fabian lirih kepada Adelina.


"Punya simpanan nggak?, aku pengen kesukaanku." Lirih Adelina penuh harap.


Fabian mendelik ke arah Adelina. Bisa-bisanya Adelina meminta hal seperti itu depan Ayah dan Bunda pikirnya.


"Kenapa harus sekarang?." Lirih Fabian lagi.


Adelina menggeleng. "Nanti malam bagaimana?." Tanya Adelina yang membuat Fabian mengangguk.


"Yes!." Ucap Adelina yang membuat mereka bertiga menatapnya.


Adelina hanya tersenyum kaku.


"Kenapa nak?." Tanya Bunda Wiwi heran.


"Hehehe, nggak ada apa-apa Bun. Adel cuma seneng karena mau makan ayam." Jawab Adelina memberi alasan.


Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂