
Malam ini Adelina sibuk memasak ayam kecap kesukaan Steve. Steven begitu senang setiap kali Adelina membuatkan makanan itu, bahkan terkadang Adelina mengomel karena Steven hanya menginginkan ayam kecap dan tidak mau yang lainnya seminggu berturut-turut.
"Terimakasih untuk makanannya Mom, ini sangat enak." Puji Steve yang membuat Adelina tertawa kecil.
"Putra Mommy sangat pandai memuji memang, katakan apa yang kau inginkan?." Tanya Adelina yang membuat Steve menunjukkan deretan giginya.
"Bisakah malam ini aku tidur dengan mu Mom?." Pinta Steve.
"Baiklah, cepat gosok gigi mu dulu baru setelah itu Mommy akan ke kamar mu." Titah Adelina yang diangguki Steve.
"Baik Mom, aku akan menunggu mu." Jawab Steve yang kemudian berlalu.
Adelina membereskan piring bekas yang mereka gunakan dan setelah itu dia juga membersihkan dirinya dan bersiap menemani Steve untuk tidur.
*Kamar Steve.
Steven terus saja berguling-guling di kasurnya menanti kedatangan sang Mommy yang cukup lama menurutnya.
Ceklek
Adelina datang setelah mengganti bajunya.
"Mom, kau sudah datang." Sambut Steve dengan senang.
Adelina mengangguk lalu berjalan ke arah Steve yang telah duduk di ranjang.
"Maaf, apa Mommy membuat mu menunggu sayang?." Tanya Adelina yang kemudian mencium pucuk kepala Steve.
"Tidak Mom, aku tidak keberatan untuk menunggu." Jawab Steve yang kemudian memilih berbaring di atas paha Adelina.
Adelina mengelus pucuk kepala Steve dengan lembut.
"Mommy." Panggil lirih Steve.
Adelina menatap Steve yang tengah menatapnya. "Ada apa?, apa kau merasa tidak nyaman?." Tanya Adelina memastikan.
Steve menggeleng. "Mom, bisakah kau berjanji untuk terus bersamaku?." Pinta Steve yang membuat Adelina mengernyitkan dahinya.
"Apa kau akan pergi dari Mommy?." Tanya Adelina balik.
"Tidak Mom, bukan sepeti itu." Jawab Steve seraya menggeleng. "Aku hanya takut jika Mommy melupakan ku nanti." Jelas Steve.
Adelina tersenyum. "Mana mungkin itu terjadi, dengarkan Mommy." Titah Adelina. "Kau tahu, bahkan dalam mimpi Mommy sekalipun kau tetap ada Steve." Jelas Adelina yang membuat Steven tersenyum lega.
Adelina terharu atas pengakuan Steve tadi, dia bahkan hampir meneteskan air mata karena bahagia.
"Tidurlah, Mommy akan menemani mu." Ucap Adelina yang membuat Steve memejamkan matanya.
...*********...
Pagi ini Bunda Wiwi melihat ada yang berbeda pada putra sulungnya. Sejak tadi Alister terus tersenyum melihat layar ponselnya yang selalu menyala.
"Daddy Ai, apa Daddy sakit?." Tanya Angel yang duduk di antara Alister dan Fabian.
Alister menggeleng. "Tidak, makanlah dengan baik sayang." Ucap Alister yang membuat Angel mengangguk.
"Baik Daddy." Jawab Angel.
"Bun, Alister mungkin akan pulang malam hari ini." Kata Alister yang membuat seisi meja makan menoleh ke arahnya.
"Bukan kah kantor libur?." Tanya Ayah Alex.
"Aku hanya ingin mencari udara segar Yah." Jawab Alister yang membuat Bunda Wiwi dan Ayah Alex hanya mengangguk.
"Angel lihat lah, Daddy Ai sangat mencurigakan bukan?." Pancing Fabian kepada Angel yang tengah sibuk mencerna makanannya.
"Daddy Bian tidak baik seperti itu." Protes Angel yang membuat Alister tersenyum.
"Kau sangat pintar rupanya." Puji Alister dengan mengacungkan jempolnya kepada Angel.
Angel tersenyum lebar. "Daddy bisakah aku ikut?." Tanya Angel dengan mengedipkan matanya.
Alister bimbang, mana mungkin dia mengecewakan putri kecilnya itu.
"Hahaha..., Daddy Ai, kenapa kau sangat serius. Tenanglah aku hanya bercanda." Kata Angel meledek. "Hari ini Oma akan mengajak ku arisan, iya kan Oma?." Tanya Angel yang membuat Bunda Wiwi tertawa.
"Kenapa cucu ku sangat pintar meledek Daddy nya?." Tanya Bunda Wiwi yang masih tertawa.
"Tentu saja, bukankah Daddy nya juga suka meledek orang lain." Timpal Alister yang membuat Fabian tersinggung.
"Wah, kalian menyerang ku sepertinya." Keluh Fabian yang membuat mereka tertawa.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂