
Setelah Fonna pergi, kini Bunda Wiwi, Ayah Alex, Fabian dan juga Adelina duduk bersama di ruang tengah.
Situasi sedikit mencekam dan canggung, apalagi setelah Adelina meminta maaf karena menjatuhkan bekal makan yang sengaja Bunda Wiwi siapkan untuk nya kemarin.
Adelina terus menunduk. Sementara Bunda Wiwi memasang wajah garang, Fabian hanya menyimak sementara Ayah Alex netral tidak menampilkan ekspresi apapun.
"Bunda kecewa sama kamu!. Kata Bunda Wiwi lirih namun penuh dengan penekanan.
Adelina semakin merasa bersalah, apalagi selama ini mereka bertiga telah memperlakukannya dengan sangat baik.
"Maaf Bun." Lirih Adelina yang berusaha untuk tidak menangis.
Bunda menghela nafasnya berat. "Lain kali mungkin Bunda nggak akan repot-repot minta Fabi nganter bekal lagi." Kata Bunda Wiwi lagi.
"Kamu tahu kan, Bunda susah payah sengaja bangun pagi dan buat bekal?. Tapi apa?, itu semua jadi sia-sia!." Kata Bunda Wiwi yang meluapkan emosinya.
Bunda Wiwi bangkit dari duduknya. "Bunda capek mau istirahat." Kata Bunda Wiwi yang kemudian berlalu pergi.
Adelina mendongak menatap punggung Bunda Wiwi yang semakin menjauh.
Ayah Alex berdehem lalu berpamitan meninggalkan Fabian dan Adelina berdua saja. "Ayah angkat tangan kalau Bunda udah marah." Kata Ayah Alex dengan mengangkat ke dua tangannya dan kemudian juga pergi.
Kini satu-satunya harapan Adelina adalah Fabian. Adelina menatap Fabian dengan penuh harap.
"Aku kecewa sama kaya Bunda." Ucap Fabian yang juga meninggalkan Adelina.
"Bian...!." Panggil lirih Adelina yang tidak digubris oleh Fabian.
Kini, Adelina hanya seorang diri di ruang tengah. Dirinya sempat berpikir untuk bertanya kepada sahabatnya Adele, namun sayang sampai detik ini ponsel milik Adele tidak dapat di hubungi.
Adelina hanya duduk berdiam diri di sofa tanpa ada pergerakan sedikit pun. Mengedarkan pandangannya Adelina menatap langit yang cukup mendung dari jendela yang ada.
Rasanya dia sangat ingin pulang, namun apakah pantas jika dia pergi tanpa berpamitan. Sedang ketiga tuan rumah mereka pergi tanpa meminta Adelina untuk tetap tinggal.
Siang hari yang seharusnya cerah kini gelap gulita, suara halilintar mulai bersautan dibarengi hujan deras yang mengguyur.
Jeddar
Jedderr
Suara halilintar yang begitu memekakkan telinga. Adelina menutup ke dua telinganya dengan telapak tangan.
"Papih...!, Mamih...!. Adel takut!." Lirih Adelina dengan memejamkan matanya.
Ceklek
Lampu rumah padam seketika, meskipun hari masih siang namun awan mendung begitu hitam. Tirai jendela bergoyang-goyang karena angin yang masuk lewat jendela yang belum sempat ditutup.
Dengan susah payah, Adelina melangkah mendekat ke arah jendela untuk memastikan agar air hujan tidak mengotori lantai.
Langkah demi langkah, meski kakinya bergetar hebat untuk menapak. Adelina tetap berusaha untuk bergerak.
Jeddar
Ceklek
Lampu kembali nyala berbarengan suara halilintar.
"Kejutan!." Kompak mereka yang bersembunyi di balik dinding.
Suara halilintar yang tadinya bersautan tiba-tiba menghilang sedang hujan yang tadinya deras langsung reda seketika.
"Fab, udah sana minta Adele sama Azka ke sini." Titah Bunda Wiwi dengan ke dua tangannya yang membawa sebuah cake.
"Bun, Loh!. Adel nya ke mana?." Tanya Ayah yang mengedarkan pandangannya berusaha mencari sosok Adelina.
Fabian yang tadinya hendak pergi pun tidak jadi dan ikut sibuk mencari Adelina. Begitu juga Bunda Wiwi yang heran. Ke mana perginya Adelina pikir mereka.
Dari arah pintu, Azka dan Adele masuk bersamaan. Awalnya mereka senang karena mereka pikir kejutan mereka telah berhasil.
"Adelina!." Pekik Azka yang melihat tubuh Adelina tergeletak di lantai dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya.
Semua orang menjadi panik mendengar teriakan Azka yang begitu menggema. Bunda Wiwi langsung membuang cake yang ada di tangannya.
Mereka semua langsung berlari ke arah di mana Tubuh Adelina tergolek tidak berdaya. Fabian yang datang lebih dulu langsung memangku kepala Adelina yang masih terus saja mengeluarkan darah segar.
"Adel!, bangun!. Adelina....!." Kata Fabian dengan tangan gemetar menepuk pelan pipi Adelina.
Bunda Wiwi berjongkok di samping Fabian dengan menggenggam tangan Adelina yang terasa dingin.
Samar-samar Adelina mendengar suara orang yang menangis memanggil namanya. Adelina membuka kelopak matanya yang terasa berat
"Adelina, bangun hei. Kamu lupa ini hari apa?!". Kata Adele dengan terisak dan berusaha membuat Adelina sadar.
Azka langsung membawa Adele ke dalam pelukannya agar sedikit lebih tenang.
"Bi-bian...!." Lirih Adelina yang masih bisa di dengar Fabian.
Fabian mengangguk. "Bertahanlah, kamu kuat Adelina." Kata Fabian memberikan semangat kepada Adelina.
Adelina menggeleng lemah. Di tatapnya Bunda Wiwi dengan penuh arti. Adelina menitihkan air matanya.
"Sayang kamu kuat, jangan menangis." Kata Bunda Wiwi yang memegang erat tangan Adelina.
"Bun..., ma-af!." Kata Adelina terbata dan setelahnya kesadaran Adelina hilang.
"Adelina!." Teriak Fabian yang begitu menggema.
Semua panik, semua cemas dan takut. Lantas bagaimana bisa Adelina terluka?.
Halo readers 😁 selamat membaca 😘 jangan lupa kopi sama cemilannya yaaa 😂